Masyarakat merupakan subjek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang selama ini sebagai penggerak roda kehidupan yang ada di lingkungannya masing-masing. Dimana masyarakat tersebut sesungguhnya adalah kumpulan manusia yang memiliki keilmiahan dalam berpikir dan bercakap tentunya membutuhkan sesuatu yang bermakna dan berfungsi secara subjektif terhadap dirinya sendiri. Itulah pandangan mayoritas masyarakat umumnya.
Pandangan ini yang menyatakan bahwa konon katanya masyarakat merupakan individu-individu yang orientasi pola pikirnya mengarah pada konsep pendapatan dan kemenangan semata sehingga lupa dengan apa yang sebenarnya yang menjadi tujuan masyarakat seutuhnya (opini). Agar masyarakat bisa bekerja secara efektif dalam melaksanakan aktifitas kesehariannya, masing-masing individu membutuhkan suatu karakter spesifik yang berdarah daging karena memang individu tersebut tidak terlepas dengan apa yang ingin dilakukan.
Pembelajaran pada dunia pendidikan dianjurkan untuk memikirkan berbagai karakter objek pendidikan yaitu karakter masyarakat, karakter sekolah, karakter pendidik/guru, dan karakter siswa sehingga proses pembelajaran yang berkarakter dengan berbagai macam karakter tersebut mampu dikomunikasikan dalam kelompok belajar yang efektif dan efisien. Kelompok belajar tersebut diarahkan pada karakter objek pembelajaran yaitu siswa, dalam penentuan kelompok tersebut dapat disebutkan berapa karakter siswa seperti kesenangan siswa, Status ekonomi orang tua siswa, Status keyakinan atau kepercayaan siswa dan budaya daerah tertentu sehingga dapat kita mengetahui model karakteristik siswa.
Sebelum belajar secara formal siswa sudah memiliki pengetahuan tentang berbagai topik pembelajaran yang secara formal diajarkan guru di sekolah. Karena itu jangan kaget jika mereka sudah memiliki jawaban berdasarkan apa yang mereka ketahui dari pengalaman berinteraksi dengan alam dan orang dewasa terhadap setiap peristiwa yang mereka lihat dan alami. Murid juga bersikap seperti ilmuwan dewasa dimana mereka selalu menguji pengetahuan mereka dan mengubahnya jika mereka merasa pengetahuannya sudah tidak mampu menjawab permasalahan yang mereka hadapi. Oleh karena itu jangan heran jika anak-anak selalu banyak bertanya jika mereka menemui sesuatu yang mereka tidak bisa menjawabnya. Sehingga dalam hal ini guru membutuhkan teori-teori belajar yang tepat yang digunakan di ruang kelas.
Secara efektif guru hendaknya memiliki sikap dan perasaan yang menunjang proses pembelajaran yang dilakukannya, baik terhadap orang lain khususnya terhadap anak didik guru hendaknya memiliki sikap dan sifat empati, ramah dan bersahabat. Dengan adanya sifat ini, siswa merasa dihargai, diakui keberadaannya sehingga semakin menumbuhkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran dapat memberikan hasil yang optimal.
Terhadap dirinya sendiripun guru hendaknya juga memiliki sikap positif sehingga pada akhirnya dapat membantu optimalisasi proses pembelajaran. Keadaan afektif yang bersumber dari diri guru sendiri yang menunjang proses pembelajaran antara lain konsep diri yang tinggi dan efikasi diri yang tinggi berkaitan dengan profesi guru yang digelutinya. Dalam proses belajar mengajar membutuhkan suatu penempatan pemahaman yang tepat dalam menyimak suatu materi yang akan disampaikan sehingga membutuhkan alat atau instrumen yang tepat dalam pemecahan masalahnya.
Belajar dalam situasi pembelajaran membutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam belajar khususnya materi-materi yang kompleks untuk diimplikasikan dalam kehidupan nyata. Penggunaan teori belajar yang salah akan mengakibatkan terjadinya hambatan dalam proses pembelajaran. Pada penerapan teori belajar di kelas membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap teori tersebut dan rasa senang untuk selalu menggunakan dan mengembangkannya secara tepat guna dengan kondisi kelas.
Dalam situasi belajar tersebut tentunya membutuhkan saling ketergantungan, kerja sama yang kompetitif dan kreatifitas individual. Beranjak dari itu semua merupakan suatu yang menuntut guru untuk dapat memetakkan suatu model pembelajaran. Pembelajaran dengan berdasarkan pandangan subjektif karakteristik mengajar. Dengan melihat situasi dan kondisi siswa yang heterogen seperti kaya, miskin, agama, latar belakang keluarga, suku, bahasa, dan potensi siswa.
Berdasarkan asumsi ini yang sejenisnya, guru perlu mempunyai format melaksanakan kegiatan pembelajaran seperti (1). Guru memberikan informasi pembelajaran, (2). Guru menyampaikan dan menjelaskan informasi yang pasif tentang materi, (3). Guru mengelompokkan siswa dalam kelompok heterogen, dan (4). Guru memancing atau memotivasi siswa dalam kelompok yang menemukan sesuatu solusi terhadap suatu masalah.
Selain belajar menjadi efektif jika dilakukan dalam suasana yang santai dan melibatkan murid secara aktif. Guru tidak berperan sebagai figur yang memaksakan kehendaknya untuk dituruti murid tetapi lebih sebagai teman bermain serta teman yang memahami dan memotivasi mereka. Tidak hanya murid yang menikmati pembelajaran, tetapi gurupun akan mengalami bahwa mengajar itu menyenangkan. Gurupun akan dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan sunguh-sungguh karena dia menyenangi profesinya sebagai guru.
Dengan memandang bahwa belajar itu butuh proses dimana memotivasi setelah dimotivasi kemudian mendapat pemahaman dan penghargaan (penilaian), sehingga pesan-pesan dapat tersimpan dengan mempresentasikan kembali kepada penerima lalu terjadi suatu generalisasi informasi.
Persoalan yang berdasarkan evaluasi subjektif guru yang merujut pada karakter siswa diketahui, para pendidik dianjurkan untuk membentuk pola belajar dengan membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen. Dalam penentuan kelompok belajar perlu dilakukan presentase karakter yang sama sehingga dalam penerapannya di distribusikan kedalam kelompok yang heterogen. Kemudian kita dapat mendiskusikan langkah yang selanjutnya untuk membentuk karakter pembelajaran yang seutuhnya pada daerah tertentu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan langkah-langkah pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.Mengidentifikasi karakter siswa
2.Mendiskusikan karakter siswa
3.Tindakan pembelajaran
4.Mengevaluasi hasil pembelajaran
5.Merefleksi kemajuan individu siswa
6.Memperbaharui karakter siswa sesuai dengan perkembangan siswa
7.Tindak lanjut
Dari proses pembelajaran ini siswa dapat mengakses informasi, ide-ide, ketrampilan-ketrampilan, nilai-nilai, dan cara-cara berpikir serta mengemukakan pendapat merupakan tugas seorang guru. Namun tugas seorang guru yang paling penting adalah menentukan, membimbing para siswa tentang bagaimana belajar yang sesungguhnya dan belajar yang sesungguhnya dengan belajar memecahkan masalah sehingga hal-hal tersebut dapat digunakan di masa depan mereka. Karena itu tujuan jangka panjang pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan para siswa agar ketika mereka sudah meninggalkan bangku sekolah, akan mampu mengembangkan diri sendiri dan mampu memecahkan masalah yang muncul. Untuk itulah, di samping telah dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan yang sistematis, mereka sudah seharusnya dibekali juga dengan kemampuan untuk belajar mandiri dan belajar memecahkan masalah. Proses pembelajaran yang terjadi selama siswa duduk di bangku sekolah dengan sendirinya menjadi sangat menentukan keberhasilan mereka di masa yang akan datang..
Pembicaraan pendidikan tidak ada henti-hentinya dan tidak pernah ada ujungnya untuk dimaknai bersama. Perekrutan, proses pembelajaran dan hasil pembelajaran yang menjadi focus pikiran para peneliti yang menginginkan pendidikaan yang lebih baik. Penelitian merupakan sumber informasi yang akurat untuk dijadikan suatu arah masa depan daerah bukan dengan mengembangkan isu-isu kebijakan.