A. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA TEORI BELAJAR EDWARD L. THORENDIKE, B.F. SKINER DAN ROBERT GAGNE
1. PERSAMAAN
| EDWARD L. THORENDIKE | B.F. SKINER | ROBERT GAGNE |
| 1. Tingkah laku dapat dibentuk melalui ganjaran dan hukuman. | 1.Skiner Juga menerangkan bahwa tingkah laku juga dapat dibentuk melalui ganjaran dan hukuman. | 1. Gagne menyebutkan jika tingkah laku dapat dibentuk melalui ganjaran dan hukuman. |
| 2.Prinsip utama dari teori ini adalah dukungan yaitu berlatih dalam memperbaiki tingkah laku. Namun dalam beberapa penelitian, hal tersebut tidak selalu berlaku. Artinya terdapat hubungan pengaruh negatif dengan latihan yang melampaui batas misalnya, latihan yang terlalu dini atau latihan tanpa pemahaman. Pengaruh orientasi behaviorism selain dapat ditemukan ketika siswa menunjukkan algoritma dan mengilustrasikan hubungan yang terdapat dalam matematika juga dapat ditemukan pada keseharian, unit, tingkat, dan program yang bersifat objektif. | 2. Sangat membutuhkan dukungan dalam belajar matematika yang berbentuk latihan-latihan. | 2.Gagne juga membutuhkan latihan-latihan dalam mempelajari Matematika. |
2. PERBEDAAN
| EDWARD L. THORENDIKE | B.F. SKINER | ROBERT GAGNE |
| 1. Nama teorinya adalah koneksionisme yaitu bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama. Dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan respons | 1. Nama penemuannnya adalah konsep “pengkondisian operan” (operant conditioning) | 1. Menurut Gagne (1975), belajar merupakan sesuatu yang terjadi di dalam benak seseorang, di dalam otaknya. Belajar disebut suatu proses karena secara formal ia dapat dibandingkan dengan proses-proses organic manusia lainnya, seperti pencernaan dan pernapasan. Namun belajar merupakan proses yang sangat rumit dan kompleks. Belajar terjadi ketika seseorang merespons dan menerima rangsangan dari lingkungan eksternalnya. |
| 2. Mengeluarkan konsep Hukum Pengaruh atau “Law of Effect, Hukum Kesiapan (Law of Readiness) dan Hukum Latihan (Law of exercises). | 2. Menurut Skinner, tingkah laku organisme itu dapat dikontrol melalui pemberian penguatan (reinforcement) yang tepat dalam lingkungan yang relatif baru. | 2. Mengeluarkan 8 fase dalam belajar yaitu : Fase Motivasi (motivation fhase), Fase Pengenalan (apprehending phase), Fase perolehan (acquisition phase), Fase Retensi (retention phase), Fase Memanggil Kembali (retrieval phase), Fase Generalisasi (generalization phase), Fase Penampilan (performance phase), Fase Umpan Balik (feed back phase) |
| 3. Contoh : Pada pokok bahasan difinisi Relasi Ekivalen. Pertama-tama yang dipelajari peserta didik adalah difinisi refleksi, kemudian difinisi simetri, selanjutnya dikaitkan pengertian anrata refleksi dan simetri, selanjutnya menigkat ke difinis transitif, dan skhirnya difinisi tersebut secara bersama-sama menjadi definisi relasi ekivalen. | 3. Skinner membagi penguatan atas penguatan positif (positive reiforcement) dan penguatan negatif (negative reiforcement). Penguatan positif sebagai stimulus, bila pemberiannya mengiringi suatu tingkah laku seseorang yang cenderung meningkatkan pengulangan tingkah laku tersebut | 3.Gagne juga mengidentifikasikan adanya 8 (delapan) tipe belajar, yakni : Belajar sinyal (signal learning), Belajar stimulus respons (stimulus-response learning), Perantaian (chaining), Asosiasi Verbal (verbal association), Belajar diskriminasi (discrimination learning), Belajar Konsep (concept learning), Belajar Aturan (rule learning), Pemecahan Masalah (problem solving). |
| 4. Eksperimen yang telah dilaksanakan Thomdike adalah menempatkan kucing-kucing dalam kotak teka-teki atau kotak masalah (problem box). Kucing yang beberapa hari lamanya tidak diberi makanan ditempatkan dalam problem box. Kotak tersebut diberi pintu yang memungkinkan kucing tersebut dapat melihat sesuatu di luar kotak dan dapat keluar melalui pintu yang telah disediakan tersebut. Makanan ditempatkan di luar kotak agar setiap kucing berusaha keluar dari kotaknya untuk memperoleh makanan. Mereka mengulangi perilaku yang efektif dan tidak mengulangi perilaku yang tidak efektif. Thorndike juga melakukan eksperimen dengan menggunakan kera. Thorndike meletakkan kotak berisi pisang dalam kurungan. Untuk dapat mengambil pisang tersebut, kera harus terlebih dahulu mencabut paku penjepit kawat. Pada percobaannya yang pertama, kera membutuhkan waktu 36 menit untuk mencabut paku penjepit kawat. Tetapi pada percobaan kedua, ternyata hanya dibutuhkan waktu 2 menit 30 detik. | 4. Skinner melakukan eksperimen dengan menggunakan seekor tikus lapar yang diletakkan dalam kotak yang disebut “Kotak Skinner (Skinner box)”. Di dalam kotak tersebut hanya terdapat sebuah jeruji yang menonjol dimana dibawahnya terdapat piring makanan dan diatasnya terdapat lampu kecil. | |
B. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA JEAN PIAGET, JEROME BRUNER DAN ZOLTAN DIENES
1. PERSAMAAN
| JEAN PIAGET | JEROME BRUNER | ZOLTAN DIENES |
| 1.Menurut Jean Piaget pembelajaran matematika adalah suatu upaya membantu siswa untuk mengkonstruksi (membangun) konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun kembali. | 1.Jerome Bruner juga menyatakan bahwa Pembelajaran matematika digunakan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi (membangun) konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep/prinsip itu dapat terbangun kembali. | 1.Sejalan dengan Piaget Dienes menerangkan bahwa belajar matematika dapat membantu siswa untuk mengkonstruksi (membangun) konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun kembali. |
| 2. Pengetahuan penting dalam matematika yang perlu dipelajari anak adalah keterampilan dan konsep. Keterampilan lebih kepada pengetahuan prosedural (procedural knowledge), sedangkan konsep lebih kepada pengetahuan konseptual (conceptual knowledge). | 2. Sangat menekankan pentingnya ketrampilan dan konsep. | 2. Dienes juga menekankan pada kemampuan anak pada ketrampilan dan konsep. |
2. PERBEDAAN
| JEAN PIAGET | JEROME BRUNER | ZOLTAN DIENES |
| 1. Nama teorinya Teori Skema (schema) atau pola tingkah laku. | 1.Dikenal dengan kurikulum spiral dan model yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discoveri learning). | 1. Dienes memandang belajar sebagai suatu seni belajar kreatif. Dienes berpendapat bahwa setiap konsep matematika atau dalil, dapat dipahami secara baik, hanya jika disajikan kepada siswa secara konkrit. Abstraksi dalam belajar matematika disajikan pada intuisi dan pengalaman-pengalaman konkrit. Untuk mempelajari matematika (yakni mampu mengklasifikasikan struktur dan menentukan relasi) |
| 2. Dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila dia berinteraksi dengan lingkungan social dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan anak merupakan suatu proses social. Anak tidak berinteraksi social dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok social. Akibatnya lingkungan sosialnya berada diantara anak dengan lingkungan fisiknya. Interaksi anak dengan orang lain mengambil peranan penting dalam mengembangkan pandangannya terhadap alam. Melalui pertukaran ide-ide dengan orang lain, seorang anak yang memiliki pandangan subjektif terhadap sesuatu yang diamatinya akan berubah pandangannya menjadi obyektif. Aktivitas mental anak terorganisasi dalam suatu struktur kegiatan mental yang disebut “Skema (schema)” atau pola tingkah laku | 2. Berpikir intunitif kurang dikembangkan di sekolah, bahkan dihindari karena dianggap tidak perlu, sekolah lebih banyak mengembangkan cara berpikir analisis. Berpikir intuitif jelas perlu dikembangkan pula. Berpikir intunitif sangat penting, bahkan untuk ahli matematika, biologi, fisika, dan sebagainya. Setiap disiplin ilmu mempunyai konsep-konsep, prinsip dan prosedur yang harus dipahami. Cara terbaik untuk belajar adalah berusaha memahami konsep, arti dan hubungannya melalui proses intunitif untuk akhirnya sampai pada suatu kesimpulan | 2. Menurut Dienes, konsep matematika dipelajari dalam tahap-tahap yang positif, analog dengan empat tahap perkembangan intelektual Piaget. Dienes ( Tahap 1, Permainan Bebas (Free Play), Tahap 2, Permainan (Games), Tahap 3, Mencari kesamaan sifat ( Searching for Comunalities), Tahap 4, Penyajian (representation), Tahap 5, Simbolisasi (Symbolization), Tahap 6, Formalisasi (Formalization) |
| 3. Contoh : Dalam hal belajar, Piaget tidak sependapat bahwa belajar itu merupakan suatu proses terbatas, yaitu lebih dipacu kearah spontanitas untuk masalah tunggal (teori stimulus respons). Piaget mengemukakan proses “adaptasi”. Adaptasi merupakan proses penyesuaian skema dalam merespons lingkungan melalui 2 (dua) proses yang tidak dapat dipisahkan yakni “akomodasi”. | 3. Langkah yang paling baik belajar matematika adalah dengan melakukan penyusunan presentasinya, karena langkah permulaan belajar konsep, pengertian akan lebih melekat bila kegiatan-kegiatan yang menunjukkan Refresentasi (model) konsep dilakukan oleh siswa sendiri dan antara pelajaran yang lalu dengan yang dipelajari harus ada kaitannya, misalnya jika ingin menunjukkan angka 3 (tiga) supaya menunjukkan sebuah himpunan dengan tiga anggotanya. Contoh himpunan tiga buah mangga. Untuk menanamkan tiga, pengertian 3 diberikan contoh 3 buah himpunan mangga. Tiga mangga sama dengan 3 mangga. | |
C. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA TEORI GESTALT, WILLIAM ARTHUR BROWNELL DAN DAVID P. AUSUBEL
1. PERSAMAAN
| TEORI GESTALT | WILLIAM A. BROWNELL | DAVID P. AUSUBEL |
| 1. Pengalaman menyeluruh (pikiran, perasaan dan sensasi tubuh) dari individu menjadi perhatian yang sangat penting. Pendekatannya lebih dipusatkan pada kondisi di sini dan saat ini (here and now) yaitu menyadari apa yang terjadi dari waktu ke waktu (moment by moment). | 1.Sejalan dengan teori belajar Gestalt yaitu bahwa anak-anak pasti memahami apa yang sedang mereka pelajari jika belajar secara permanen atau terus | 1.Sejalan dengan teori belajar Gestalt yaitu bahwa suatu proses pembelajaran akan lebih mudah dipelajari dan dipahami siswa jika para guru mampu dalam memberi kemudahan bagi siswanya sedemikian sehingga para siswa dapat mengaitkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya |
| 2. Latihan hafal atau drill sangat penting dalam kegiatan pembelajaran yang diterapkan setelah tertanamnya pengertian | 2. Siswa tidak dilarang untuk menghafal konsep, aturan atau rumus-rumus Matematika, setelah terlebih dahulu mereka memahaminya dengan baik. Setiap konsep yang disajikan guru harus diberikan dengan pengertian artinya semua yang dipelajari siswa harus | 2. Untuk dapat menguasai materi Matematika, siswa harus menguasai beberapa kemampuan dasar, kemudian anak harus mampu mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dipunyainya. |
2. PERBEDAAN
| TEORI GESTALT | WILLIAM A. BROWNELL | DAVID P. AUSUBEL |
| 1.Nama teorinya Teori Gestalt atau Rote Learning | 1. Dikenal dengan Meaning Theory | 1.Dikenal dengan Meaningful Learning |
| 2.Cara yang digunakan hanya berbentuk Drill atau hafalan-hafalan konsep. | 2.Alat peraga yang digunakan berbentuk benda nyata (kongkrit) yaitu seperti mangga, kelereng dan lain-lain. | 2. Alat peraga yang digunakan yaitu benda-benda nyata dan juga abstrak seperti hari kemerdekaan dan hari bersejarah lain. |
| 3.Contoh : -. -. Siswa yang dapat mengingat dan menyatakan rumus luas persegipanjang adalah L = p× l, namun ia tidak bisa menentukan luas suatu persegi panjang karena ia tidak tahu arti lambang L, p, dan l. -. Anak dapat dengan mudah menyebutkan 1 + 1 = 2 dan 2 + 2 = 4 tanpa tahu arti 2 + 2 dan tidak tahu juga mengapa hasilnya 4 | 3. Contoh : -. Angka “1” menunjuk pada banyaknya sesuatu yang tunggal seperti banyaknya kepala, mulut, lidah dan seterusnya; sedangkan “2” menunjuk pada banyaknya sesuatu yang perpasangan seperti banyaknya mata, telinga, kaki, …dan seterusnya. -. 68 = 60 + 8
= 90 + 13 = 90 + 10 + 3 = 100 + 3 = 103 | 3. Contoh : -. Menurut Anda, dari tiga bilangan berikut: (a) 50.471.198 (b) 54.918.071 (c) 17.081.945 manakah yang lebih mudah dipelajari atau diingat para siswa? Seorang siswa dapat saja mengingat ketiga bilangan tersebut yaitu dengan mengucapkan bilangan tersebut berulang-ulang beberapa kali. Namun sebagai warga bangsa Indonesia tentunya Bapak dan Ibu Guru akan meyakini bahwa bilangan (c) yaitu 17.081.945 merupakan bilangan yang paling mudah dipelajari jika bilangan tersebut dikaitkan dengan tanggal 17 – 08 – 1945 yang merupakan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Proses pembelajaran bilangan 17.081.945 (tujuh belas juta delapan puluh satu ribu sembilan ratus empat puluh lima) akan bermakna bagi siswa hanya jika si siswa, dengan bantuan gurunya, dapat mengaitkannya dengan tanggal keramat 17 Agustus 1945 yang sudah ada di dalam kerangka kognitifnya. Bilangan (b) yaitu 54.918.071 akan lebih mudah dipelajari siswa daripada bilangan (a) yaitu 50.471.198 karena bilangan (b) didapat dari tanggal 17–08–1945 dalam urutan terbalik yaitu 5491–80–71. Bilangan (a) merupakan bilangan yang paling sulit untuk dipelajari karena aturan atau polanya belum diketahui. |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar