Kualitas umat manusia ditunjukkan dengan adanya suatu amplikasi pengenalan keahlian masing-masing yang berasal dari ilmu pengetahuan yang didapat oleh manusia tersebut. Salah satu ilmu pengetahuan manusia yang dapat diperlihatkan oleh manusia yaitu matematika dimana dalam matematika merupakan ilmu dasar untuk menyambung, menyusun dan mengembangkan strategi berpikir manusia. Dalam perkembangannya matematika sangat urgen dalam dunia ilmu pengetahuan di dunia ini, setiap dekade atau periode akhir-akhir ini perkembangannya cukup membangun sehingga matematika sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan maupun dalam bidang yang lain.
Dunia pendidikan Indonesia cukup berkompeten khususnya kepribadian yang perkembangannya dapat membentuk karakter individu yang bervariasi. Pada dunia pendidikan matematika diperlukan suatu terobosan yang membangun karakter masing – masingindividu. Diantarakarakter yang seharusnya ditawarkan para guru umumnya seperti yang tertera dalam kurikulum sekarang ini. Pembelajaran matematika tidak eksak tetapi guru harus mampu mengarahkan matematika sebagai solusi dalam kehidupan siswa sehingga mempunyai karakter masing-masing.
Menarik dibicarakan tentang perbedaan individu dalam pendidikan matematika karena dengan melihat perbedaan individu sangatlah baik ketika dikolaborasikan menjadi satu kesatuan dimana pada akhirnya saling meningkatkan kualitasnya diri masing-masing. Dalam perbedaan individu terdapat intelegensi, minat, sikap, moral, konsep diri, nilai atau kepercayaan diri dan lain sebagainya. Jika hal ini dikembangkan dalam pembelajaran matematika, selangkah demi selangkah dunia pendidikan akan lebih maju dan berkembang.
Pandangan yang menyatakan bahwa konon katanya masyarakat merupakan individu-individu yang orientasi pola pikirnya mengarah pada konsep pendapatan dan kemenangan semata sehingga lupa dengan apa yang sebenarnya yang menjadi tujuan masyarakat seutuhnya (opini). Agar masyarakat bisa bekerja secara efektif dalam melaksanakan aktifitas kesehariannya, masing-masing individu membutuhkan suatu karakter spesifik yang berdarah daging karena memang individu tersebut tidak terlepas dengan apa yang ingin dilakukan.
Pembelajaran pada pendidikan matematika diharapkan untuk memikirkan berbagai karakter objek pendidikan yaitu karakter masyarakat, karakter sekolah, karakter pendidik/guru, dan karakter siswa sehingga proses pembelajaran yang berkarakter dengan berbagai macam karakter tersebut mampu dikomunikasikan dalam kelompok belajar yang efektif dan efisien. Kelompok belajar tersebut diarahkan pada karakter objek pembelajaran yaitu siswa, dalam penentuan kelompok tersebut dapat disebutkan berapa karakter siswa seperti kesenangan siswa, Status ekonomi orang tua siswa, Status keyakinan atau kepercayaan siswa dan budaya daerah tertentu sehingga dapat mengetahui model karakteristik siswa.
Sebelum belajar secara formal siswa sudah memiliki pengetahuan tentang berbagai topik pembelajaran yang secara formal diajarkan guru di sekolah. Karena itu jangan kaget jika mereka sudah memiliki jawaban berdasarkan apa yang mereka ketahui dari pengalaman berinteraksi dengan alam dan orang dewasa terhadap setiap peristiwa yang mereka lihat dan alami. Murid juga bersikap seperti ilmuwan dewasa dimana mereka selalu menguji pengetahuan mereka dan mengubahnya jika mereka merasa pengetahuannya sudah tidak mampu menjawab permasalahan yang mereka hadapi. Oleh karena itu jangan heran jika anak-anak selalu banyak bertanya jika mereka menemui sesuatu yang mereka tidak bisa menjawabnya. Sehingga dalam hal ini guru membutuhkan teori-teori belajar yang tepat yang digunakan di ruang kelas.
Secara efektif guru hendaknya memiliki sikap dan perasaan yang menunjang proses pembelajaran yang dilakukannya, baik terhadap orang lain khususnya terhadap anak didik guru hendaknya memiliki sikap dan sifat empati, ramah dan bersahabat. Dengan adanya sifat ini, siswa merasa dihargai, diakui keberadaannya sehingga semakin menumbuhkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran dapat memberikan hasil yang optimal.
Terhadap dirinya sendiripun guru hendaknya juga memiliki sikap positif sehingga pada akhirnya dapat membantu optimalisasi proses pembelajaran. Keadaan afektif yang bersumber dari diri guru sendiri yang menunjang proses pembelajaran antara lain konsep diri yang tinggi dan efikasi diri yang tinggi berkaitan dengan profesi guru yang digelutinya. Dalam proses belajar mengajar membutuhkan suatu penempatan pemahaman yang tepat dalam menyimak suatu materi yang akan disampaikan sehingga membutuhkan alat atau instrumen yang tepat dalam pemecahan masalahnya.
Belajar dalam situasi pembelajaran membutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam belajar khususnya materi-materi yang kompleks untuk diimplikasikan dalam kehidupan nyata. Penggunaan teori belajar yang salah akan mengakibatkan terjadinya hambatan dalam proses pembelajaran. Pada penerapan teori belajar di kelas membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap teori tersebut dan rasa senang untuk selalu menggunakan dan mengembangkannya secara tepat guna dengan kondisi kelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar