Menurut Robbins & Timothy (2009: 88), learning is our definition has several components that deserve clarification. Fisrt, learning involves change. Change may be good or bad from an organizational poinf of view, second the change must become ingrained. Belajar dapat diklarifikasikan dua komponen adalah (1) belajar melibatkan perubahan yaitu perubahan dapat baik atau buruk dari sudut pandang pengelompokan, (2) perubahan yang datang dari dalam dirinya sendiri.
Belajar tidak selalu sebagai hasil pembelajaran, pembelajaran sebagai salah satu proses untuk melihat keberhasilan siswa dalam belajar. Individu belajar harus memiliki konsep yang paling penting untuk meningkatkan keterampilan yang menekankan mereka bisa berkonsentrasi pada kualitas pemahaman dan bukan pada kuantitas informasi yang disajikan. Dalam hal ini, Slameto (2010: 2) menjelaskan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Duffy & McDonald (2010: 28), Learning is a complex activity that can be explained differently depending on one’s perspective on how and why people do what they do. Belajar adalah sebuah aktivitas yang kompleks yang dapat dijelaskan secara berbeda tergantung perspektif seseorang tentang bagaimana dan mengapa berbuat apa yang mereka lakukan.
Proses pembelajaran bagi setiap siswa untuk mengembangkan pribadinya dengan tujuan meningkatkan pengetahuan keterampilan, kebiasaan, kegemasan, dan sikapnya sehingga terjadi perubahan tingkah laku dalam dirinya. Pembelajaran merupakan proses komunikatif-interaktif guru, siswa, dan sumber belajar yaitu saling bertukar informasi. Tiga komponen ini merupakan satu kesatuan sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, sebagai tujuan tercapainya ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Nitko (2007: 18) menyatakan bahwa: “Instruction is the process you use to provide students with the conditions that help them achieve the learning targets”. Pembelajaran adalah suatu proses yang dapat memberikan kondisi siswa dalam membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Beberapa tujuan pembelajaran adalah kognitif terdiri dari pengetahuan intelektual dan keterampilan berpikir, afektif diartikan bahwa perasaan siswa atau nilai yang dirasakan siswa, dan psikomotor terdiri dari kendaraan keterampilan dan tanggapan fisik.
Pembelajaran sebagai tujuan tercapainya ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Duffy dan McDonald (2010: 55) menjelaskan bahwa “Intructional planning is required at every level of education from kindergarten through college level. many tools and templates have been developed to help teachers plan”. Perencanaan pembelajaran diperlukan pada setiap tingkat pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai tingkat perguruan tinggi. berbagai perangkat dan tujuan telah dikembangkan untuk membantu guru merencanakan pembelajaran.
Guru dalam merencanakan pembelajaran perlu adanya suatu pemaknaan terhadap belajar. Belajar memiliki makna untuk memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Belajar memerlukan proses belajar yang didesain secara cermat untuk menimbulkan pembelajaran yang bagus. Brown (2000: 7) menjelaskan tentang pembelajaran bahwa:
Teaching cannot be defined a fort from learning. Teaching is guiding and facilitating learning, enabling the lear to learn, setting the conditions for learning. Your understanding of how the learner lears will determine your philosophy of education, your teaching style, your approach, methods, and classroom technigues.
Pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari proses belajar mengajar, pemahaman terhadap bagaimana siswa belajar untuk menentukan filsafat pendidikan yang dipakai, gaya mengajar, pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran sebagai sebuah proses yang bertujuan membantu seseorang untuk belajar, bagaimana melakukan sesuatu, memberikan interaksi, memberikan hubungan dalam mempelajari sesuatu, memberikan ilmu pengetahuan, dan memberikan pemahaman kepada siswa.
Borich (2007: 226) menjelaskan tentang keefektifan pembelajaran yaitu sebagai berikut:
Rosenshine and Stevens have equated this type of instruction with that of an effective demonstration in which the following occurs:
1.You clearly present goal and main pint.
a.State goal or objectives of the presentation beforehand
b.Focus on one thought (pint, direction) at a time
c.Avoid digressions.
d.Avoid ambiguous phrases and pronouns.
2.You present content sequentially.
a.Present material in small steps
b.Organizer and present material so learner master one point before you go to the next point
c.Give explicit, step by step directions.
d.Present and outline when the material is complex
3.You are specific and concrete
a.Model the skills or process (when appropriate )
b.Give detailed and redundant explanations for difficult points
c.Provide students with concrete and varied examples.
Dapat dijelaskan Rosenshine menyamakan bentuk-bentuk pembelajaran dengan menunjukkan sebuah keefektifan seperti yang dilakukan di bawah ini:
1.Pencapain/keberhasilan bagian dari yang utama seperti, tujuan pernyataan yang dipersentasikan sebelumnya, tertuju pada satu gagasan yang dipikirkan pada saat itu, mengabaikan penyimpangan, kata-kata yang ambiguitas dan kata ganti.
2.Memberikan contoh seperti, menjelaskan materi dengan langkah-langkah yang baik, jelas, langsung, dan memberikan pokok bahasan/garis besar ketika materinya lebih.
3.Menjelaskan secara spesifik dan jelas seperti, keahlian memperagakan (ketika menyesuaikan), menjelaskan dengan lebih detail pada permasalahan yang sulit, membagi siswa dengan mengkonsentrasikan, dan memberikan contoh yang beragam.
Untuk mencapai tujuan-tujuan yang ada, maka pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari metode dalam pengajaran, sebagai suatu komponen menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Ini adalah suatu kenyataan yang harus diakui oleh semua yang terlibat dalam pendidikan. Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dan strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan. Rina Zazkis (Roza Leikin & Rina Zazkin, 2010: 91) menjelaskan bahwa :
Successful experiences become parts of our instructional repertoire and after years it is impossible to determine how a specific mathematical issue or a specific pedagogical strategy was acquired. We learn to anticipate students’ questions, their difficulties and their errors, and then teaching, or navigating learning, resembles a walk on a familiar trail, where sharp turns or other obstacles are either anticipated or avoided.
Pengalaman sukses menjadi bagian dari pembelajaran kami
repertoar dan setelah bertahun-tahun adalah mustahil untuk menentukan bagaimana sebuah masalah khusus matematika atau strategi pedagogis tertentu diperoleh. Kita belajar untuk mengantisipasi pertanyaan siswa, kesulitan dan kesalahan siswa, dan kemudian mengajar, atau menavigasi belajar, menyerupai berjalan di jalur biasa, di mana tajam berubah atau hambatan lain yang baik diantisipasi atau dihindari.
Proses pembelajaran di kelas merupakan sarana untuk membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana untuk belajar. Secara implisit dalam mengajar terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Menurut Dessey (Douglas, 1992: 46) menyatakan :
Mathematics educator need to focus on the nature of mathematics in the development of research, curriculum, teacher training, instruction, and assesment as they strive to understand its impact on the learning and teaching of mathematics.
Pendidik Matematika perlu fokus menyelidiki berupa perkembangan matematika tentang kurikulum, pembinaan pendidik, pengajaran, dan penilaian untuk mengetahui dampaknya pada pembelajaran matematika. Dalam hal ini, guru perlu adanya memahami dan mengaplikasikan kurikulum, pengajaran, dan penilaian dalam pembelajaran matematika sehingga mampu mendeteksi kesulitan belajar dan mengajar matematika.
Chambers (2008: 9) menyatakan bahwa : “mathematics is the study of patterns abstracted from the world around us-so anything we learn in maths has literally thousands of applications, in arts, sciences, finance, health and leisure”. matematika adalah studi tentang pola diabstraksikan dari dunia di sekitar kita, segala sesuatu yang kita pelajari di matematika memiliki ribuan aplikasi, dalam seni, ilmu, keuangan, kesehatan dan rekreasi.
Menangani kompleksitas dan menggabungkan pendekatan yang berbeda dengan klasifikasi pengetahuan, Leikin mengidentifikasi tiga dimensi pengetahuan guru (Leikin & Zazkin, 2010: 8) menjelaskan bahwa identified the following three dimensions of teachers’ knowledge: dimension 1, kinds of teachers’ knowledge; dimension 2, sources of teachers’ knowledge; dimension 3, forms of knowledge. Tiga dimensi pengetahuan guru adalah 1). Jenis pengetahuan guru, 2). Sumber-sumber pengetahuan guru, 3). Bentuk pengetahuan guru.
Sebagai perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan, perlu adanya suatu tahapan yang dilalui oleh guru dan siswa. Seperti yang dijelaskan oleh Cowan (2006: 2) bahwa:
In every lesson and for every series of lessons comprising a topic, a teacher goes through a sequence of steps to ensure that all the criteria outlined in the Unit of Work are met and that there is continuity and progression within and between lessons. These steps are:1). Planning and preparing the lesson(s); 2)Presenting the lesson, taking account of classroom management issues; 3).Assessing the pupils to determine the effectiveness of the lesson; 4). Reviewing and evaluating the lesson(s).
Dalam setiap pelajaran dan untuk setiap rangkaian pelajaran yang terdiri dari topik, guru berjalan melalui urutan langkah-langkah untuk memastikan bahwa semua kriteria yang digariskan dalam unit kerja terpenuhi dan bahwa ada kesinambungan dan kemajuan di antara pelajaran. Langkah-langkahnya adalah: 1). Merencanakan dan menyiapkan pelajaran (s); 2). Penyajian pelajaran, dengan mempertimbangkan isu-isu pengelolaan kelas; 3). Menilai siswa untuk menentukan efektivitas pelajaran; 4). Meninjau dan mengevaluasi pelajaran (s).
Dari beberapa teori tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya, yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk memberi peluang kepada siswa untuk membangun pengetahuan matematika mereka melalui pengalaman yang bermakna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar