METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment). Peneliti menggunakan kelompok-kelompok untuk perlakuan karena peneliti tidak dapat memilih individu-individu secara acak. Kelompok-kelompok yang diberikan perlakuan adalah kelas-kelas yang di SMP Pembangunan Piyungan.
2. Desain Penelitian
Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu motivasi belajar siswa pada matematika dan keterampilan matematika siswa sedangkan variabel bebas yaitu pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan Team Games Turnamen (TGT). Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi-Experiments dengan Nonequivalent (pretest and post-test) group design. Kelompok A diberi perlakuan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan kelompok B diberi perlakuan pembelajaran kooperatif tipe TGT. Pada kedua kelompok tersebut dilakukan pretes dan post-tes. Rancangan penelitian disajikan pada gambar berikut: Nonequivalent (pretest and post-test) group design
Keterangan:
G.A : Kelompok pertama
G.B : Kelompok kedua
X1 : Perlakuan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
X2 : Perlakuan pembelajaran kooperatif tipe TGT
Pe : Pretes (tes awal)
Po : Posttes (tes akhir)
Y1 : Motivasi belajar siswa pada matematika
Y2 : Keterampilan matematika
(modifikasi Creswell, 2003: 169)
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kecamatan Piyungan, kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada siswa kelas VII di SMP Pembangunan Piyungan semester genap tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011, selama tiga bulan yaitu bulan Januari dan Maret 2011 dengan membelajarkan materi pokok himpunan.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dari penelitian adalah seluruh siswa SMP Pembangunan Piyungan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Game Turnamen). Sementara kelas yang dijadikan unit penelitian ditentukan dari seluruh kelas VII yang ada di SMP Pembangunan Piyungan yaitu masing-masing satu kelas.
D. Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari satu variabel bebas (independent) dan 2 variabel terikat (dependent). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT, sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa pada pembelajaran matematika dan keterampilan matematika.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, data diperoleh langsung oleh peneliti dengan memberikan perlakuan kepada kedua kelas eksperimen. Dengan demikian, data penelitian merupakan data primer. Teknik pengumpulan data yang dimaksud adalah cara-cara atau tahapan yang dilalui dalam pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dengan tes untuk mengukur keterampilan matematika dan non tes untuk mengukur motivasi belajar dengan tahapan sebagai berikut:
Menyusun instrumen penelitian (silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja siswa, kisi-kisi soal pretes dan posttes untuk mengukur keterampilan matematika dan kisi-kisi item pretes dan posttes untuk mengukur motivasi belajar siswa pada matematika, serta rubrik penskoran sesuai dengan variabel yang akan diteliti).
1. Meminta beberapa dosen untuk memvalidasi instrumen penelitian
2. Melakukan ujicoba instrumen penelitian
3. Estimasi reliabilitas instrumen penelitian
4. Revisi instrumen penelitian
5. Memberikan pretes kepada kedua kelompok siswa di masing-masing kelas
6. Melaksanakan penelitian secara bersama-sama dengan guru di sekolah
7. Memberikan posttest kepada sampel penelitian
F. Instrumen Penelitian
1. Instrumen Tes
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes keterampilan matematika siswa sebagai variabel terikat (dependent). Pada tes keterampilan matematika siswa berbentuk essay yang berjumlah 13 soal pada 5 (lima) kompetensi dasar untuk mendeskripsikan keterampilan matematika siswa dalam menyelesaikan soal matematika pada siswa kelas VII SMP Pembangunan Piyungan tahun pelajaran 2010/2011. Kisi-kisi instrumen tes keterampilan matematika adalah sebagai berikut:
Tabel 2 (buatkan tabel berdasarkan kompetensi dasar)
Kisi-kisi instrumen keterampilan matematika.
Kompetensi Dasar
Indikator soal
Nomor soal
2. Instrumen Non Tes
Sesuai dengan variabel dependent penelitian ini bahwa variabel motivasi disusun dengan instrumen non tes. Adapun kisi-kisi instrumen motivasi belajar siswa pada matematika adalah:
Tabel 3
Kisi-kisi instrumen motivasi belajar siswa pada matematika.
Dimensi Indikator soal Nomor item
Motivasi
Intrinsik
Adanya hasrat atau keinginan berhasil.1+, 2-, 3-, 4+, 5+,6+
Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.7+, 8+, 9+
Adanya harapan atau cita-cita masa depan.10-,11+,12+,13+,14+
Motivasi
Ekstrinsik
Adanya penghargaan dalam belajar.15-, 16+, 17+
Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan belajar dengan baik. 18+, 19+, 20+, 21-
Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar. 22-, 23+, 24-, 25-
G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1. Validitas Instrumen
Bukti validitas instrumen yang diperlukan adalah validitas isi (content validity) dan validitas konstruk. Untuk memperoleh bukti validitas isi (content validity) dilakukan dengan cara meminta pertimbangan ahli (expert judgment) terkait dengan validitas isi yaitu tiga orang ahli yang berkompeten di bidang yang bersangkutan. Ahli yang peneliti minta untuk memvalidasi instrumen diantaranya dua orang dosen dengan gelar akademik doktor (Dr. Sugiman & Dr. Djamilah BW) dan satu orang dosen dengan gelar akademik magister (Himmawati Puji Lestari, M.Si) serta satu orang guru (Kisyanti, S.Pd). Disamping itu, penyusunan instrumen juga mendapatkan bimbingan dari pembimbing. Setelah mendapatkan persetujuan dari para ahli, maka diujicobakan kepada 27 orang siswa dengan kemampuan hampir sama dengan sampel penelitian. Siswa yang dijadikan responden untuk uji coba instrumen adalah siswa kelas VIII SMP Pembangunan Piyungan. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 22 halaman 276.
Menentukan validitas dari item tes yang dibuat, daya beda dari item juga diuji. Daya beda isi dari suatu item tes dapat dinyatakan dalam suatu koefisien korelasi. Untuk mengetahui daya beda suatu tes dapat ditentukan dengan mencari koefisien korelasi skor item tertentu dengan skor item total menggunakan formula koefisien korelasi Pearson Product Moment. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
rxy = (N∑▒XY- (∑▒X) (∑▒Y))/√([N∑▒〖X^2- (∑▒X)^2 〗] [N∑▒〖Y^2- (∑▒Y)^2 〗] )
Dengan,
rxy = koefisien korelasi
X = Skor Item Tes
Y = Jumlah Skor Item
N = Banyaknya peserta tes
Selanjutnya, untuk mengetahui valid atau tidak validnya item tes dan non tes tersebut digunakan uji t dengan rumus:
t = r_xy/√((1-r_xy^2)/(n-2))
Hasil thitung kemudian dibandingkan dengan ttabel pada taraf signifikansi (α) dan derajat kebebasan (dk) = n – 2. Apabila nilai thitung > ttabel maka item tersebut valid dan sebaliknya. Validitas suatu item tes dan non tes dilakukan analisi dengan manual (bantuan program Ecxell).
Berdasarkan hasil perhitungan dibandingkan dengan ttabel untuk α = 0,05 dan dk = 25, yaitu 1,703. Berdasarkan perhitungan tersebut, jumlah item instrumen keterampilan matematika yang valid pada pretest dan posttest untuk digunakan dalam penelitian berjumlah 13 item, begitu pula dengan jumlah item pada instrumen motivasi belajar siswa pada matematika berjumlah 25 item. Perhitungan terhadap masing-masing variabel pengukuran dapat dilihat pada lampiran 12 halaman 260.
2. Estimasi Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas instrumen tes dan non tes berhubungan dengan kepercayaan dan keajegan hasil ujicoba. Suatu ujicoba dapat dikatakan mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi jika ujicoba tersebut dapat memberikan hasil yang tetap.
Untuk instrumen ini dilakukan analisis dengan mencari indeks reabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach. Adapun rumus Alpha Cronbach yang digunakan yaitu:
r11 = {n/(n-1)}{1- (∑▒σ_i^2 )/(σ_t^2 )}
Keterangan:
r11 = koefisien reliabilitas
n = jumlah butir tes
= jumlah varian skor tiap-tiap butir tes
= varian total
Jika memungkinkan untuk melakukan tes terhadap siswa secara berulang-ulang dengan menggunakan tes yang sama, maka tentu akan menghasilkan hasil tes yang bervariasi. Bervariasinya skor tes yang diperoleh berkaitan dengan tingkat reliabilitas tes. Reliabilitas yang kecil pada umumnya mengindikasikan perbedaan yang mencolok pada skor tes peserta didik, sebaliknya reliabilitas yang kuat cenderung berakibat pada variasi yang kecil. Walaupun pada prakteknya jarang untuk melakukan tes yang sama secara berulang-ulang pada sekelompok siswa, namun memungkinkan untuk mengestimasi besarnya variasi yang mungkin akibat pemberian tes tertentu. Nilai dari estimasi inilah yang dikenal sebagai Standar Eror Pengukuran (SEM). SEM bisa ditentukan dengan melakukan tes berulang-ulang kepada sekelompok siswa, kemudian menentukan rata-rata nilainya. Namun, karena hal tersebut tidak memungkinan untuk dilakukan maka SEM dapat dhitung dengan menggunakan persamaan berikut:
SEM = 〖SD〗_x √(1-koefisien reliabilitas)
Dimana:
SEM : Standart Eror Meaurement
SDx : Standar deviasi (Nitko, 2007: 76)
Berdasarkan hasil analisis menggunakan SPSS 16 for window didapat nilai koefisien reliabilitas pada instrument keterampilan matematika dengan Alpha Cronbach adalah 0,732. Sedangan pada instrument motivasi belajar pada matematika adalah 0,839. Kemudian nilai SEM pada instrumen keterampilan matematika adalah 10,058, sedangkan pada instrumen motivasi belajar siswa pada matematika adalah 6,043. Perhitungan terhadap masing-masing variabel pengukuran dapat dilihat pada lampiran 13 halaman 263.
H. Teknik Analisis Data
Data penelitian yang dianalisis adalah data pretes dan postest pada aspek motivasi belajar siswa pada matematika dan keterampilan matematika. Data pretes untuk mengetahui gambaran awal kedua kelompok siswa kemudian selanjutnya post-tes untuk mendeskripsikan data perbedaan keefektifan metode pembelajaran yaitu metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT. Adapun yang dianalisis adalah sebagai berikut:
1. Analisis keefektifan metode pembelajaran
Keefektifan metode pembelajaran ditentukan berdasarkan indeks keefektifan. Berdasarkan kriteria ketuntasan belajar matematika di SMP Pembangunan Piyungan yaitu siswa dikatakan tuntas belajar apabila mencapai nilai minimal 6,50 untuk skala 10 atau 65,00 untuk skala seratus, maka kriteria pencapaian tujuan pembelajaran aspek keterampilan matematika ditetapkan lebih dari 64,99.
Kategori keefektifan metode pembelajaran aspek afektif yaitu motivasi belajar siswa pada matematika ditetapkan rata-rata siswa mencapai skor motivasi belajar siswa pada matematika lebih dari 74,99. Kategori keefektifan metode pembelajaran aspek afektif didasarkan pada pedoman kategorisasi (Mardapi, 2008: 123) yang tertera pada tabel 4 berikut:
Tabel 4
Kategorisasi motivasi belajar siswa pada matematika
No. Skor siswa Kategori
1. M x ̅ + 1. SBx
Sangat tinggi
2. x ̅ + 1. SBx > M x ̅
Tinggi
3. x ̅ > M x ̅ - 1. SBx
Cukup tinggi
4. M < x ̅ - 1. SBx Rendah
Keterangan:
M adalah skor motivasi belajar siswa
SBx adalah simpangan baku skor keseluruhan motivasi belajar siswa
x ̅ adalah rata-rata skor keseluruhan motivasi belajar siswa
Skor yang diberikan siswa terhadap pernyataan-pernyataan dalam angket motivasi belajar siswa pada matematika dibuat dengan ketentuan adalah (1). untuk pernyataan dengan kriteria positif: 1 = tidak pernah, 2 = jarang, 3 = kadang-kadang, 4 = sering, dan 5 = selalu. (2). untuk pernyataan dengan kriteria negatif: 5 = tidak pernah, 4 = jarang, 3 = kadang-kadang, 2 = sering, dan 1 = selalu.
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:
Ho : μ_1 ≤ 64,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak efektif ditinjau dari keterampilan matematika siswa)
Ha : μ_1 ˃ 64,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw efektif ditinjau dari keterampilan matematika siswa)
Ho : μ_2 ≤ 64,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak efektif ditinjau dari keterampilan matematika siswa)
Ha : μ_2 ˃ 64,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe TGT efektif ditinjau dari keterampilan matematika siswa)
Ho : μ_3 ≤ 74,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa pada matematika)
Ha : μ_3 ˃ 74,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa pada matematika)
Ho : μ_4 ≤ 74,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa pada matematika)
Ha : μ_4 ˃ 74,99 (Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw efektif ditinjau dari motivasi belajar siswa pada matematika)
Selanjutnya dilakukan uji one sample t test dengan menggunakan bantuan SPSS 16 for window yaitu untuk melihat keefektifan masing-masing metode pembelajaran terhadap motivasi belajar siswa pada matematika maupun keterampilan matematika siswa. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
t = (x ̅-μ_0)/(S/√n)
Keterangan:
x ̅ adalah nilai rata-rata yang diperoleh
μ_0 adalah nilai yang dihipotesiskan
S adalah standar deviasi sampel yang dihitung
n adalah jumlah sampel
Kriteria pengujiannya adalah H0 ditolak jika nilai signifikansi lebih kecil 0,05. Uji hipotesis menggunakan bantuan SPSS 16 for window.
2. Analisis perbedaan metode pembelajaran
Untuk menyelidiki perbedaan keefektifan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT ditinjau dari aspek keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika dilakukan dengan uji multivariat kemudian dilanjutkan uji univariat yaitu uji t untuk menentukan variabel mana yang berkontribusi terhadap perbedaan keseluruhan. Analisis dilakukan dua tahap yaitu analisis kondisi awal dan analisis kondisi akhir. Adapun tahapan pengujian adalah sebagai berikut:
2.a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan data kondisi awal maupun data kondisi akhir. Uji normal multivariat dilakukan dengan pendekatan univariat yaitu dengan uji Kolmogorov Smirnov, dengan kriteria jika nilai siginifikansi lebih besar dari 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal. Uji normalitas digunakan pada data kondisi awal maupun data kondisi akhir. Uji normalitas menggunakan bantuan SPSS 16 for window.
2.b. Uji homogenitas
Uji homogenitas digunakan data kondisi awal maupun data kondisi akhir. Uji homogenitas dimaksudkan untuk menguji kesamaan matriks varians-kovarians dari variabel dependen pada penelitian ini. Uji homogenitas dalam penelitian ini dilakukan terhadap masing-masing variabel dependen dan terhadap keseluruhan variabel dependen. Data yang digunakan adalah data kondisi awal maupun data kondisi akhir. Uji homogenitas terhadap keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa terhadap matematika secara sendiri-sendiri menggunakan Levene Test. Sedangkan uji homogenitas terhadap terhadap keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika secara bersama-sama menggunakan Uji Box’s M. Jika angka signifikansi (probabilitas) yang dihasilkan baik secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri lebih besar dari 0.05, maka matriks varians-kovarians pada variabel dependen adalah homogen. Apabila tidak homogen, maka salah satu variabel diubah dengan transformasi ke dalam bentuk log atau akar. Apabila data telah berdistribusi normal dan variannya homogen, maka dapat dilanjutkan dengan pengujian hipotesis. Uji homogenitas menggunakan bantuan SPSS 16 for window
Uji hipotesis
Uji Multivariat Kondisi Awal
Pengujian hipotesisnya sebagai berikut:
H0 ; keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa di kelas A tidak berbeda dengan keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa di kelas B.
Ha ; keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa di kelas A tidak berbeda dengan keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa di kelas B.
Kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis adalah H0 diterima jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 atau Fhitung ≥ Ftabel pada taraf signifikansi 5%. Karena itu disimpulkan bahwa keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika di kelas A tidak berbeda dengan keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa di kelas B, atau dengan kata lain kondisi awal subjek penelitian pada kedua kelompok sama ditinjau dari keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika siswa. Uji hipotesis menggunakan bantuan SPSS 16 for window
Uji Multivariat Kondisi Akhir
Pengujian hipotesis tahap pertama dengan hipotesis sebagai berikut:
H01 ; Tidak terdapat perbedaan keefektifan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT ditinjau dari aspek keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika.
Ha1 ; Terdapat perbedaan keefektifan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT ditinjau dari aspek keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika.
Secara statistik, hipotesis di atas dapat disimbolkan sebagai berikut:
H01 : (■(μHP@μSP)) =(■(μHK@μSK))
Ha1 : (■(μHP@μSP)) ≠ (■(μHK@μSK))
Dimana μHP menyatakan rerata (mean) dari keterampilan matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan μSP menyatakan rerata (mean) dari keterampilan matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT. Sedangkan μHK menyatakan rerata (mean) dari motivasi belajar siswa pada matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan μSK menyatakan rerata (mean) dari motivasi belajar siswa pada matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Perhitungan untuk menguji hipotesis di atas, dapat menggunakan uji multivariat. Uji multivariat menggunakan statistic T2 Hotelling dengan mentransformasikan nilai dari distribusi F.
T2 = (n_1 x n_2)/(n_1+ n_2 ) ((y_1 ) ̅-(y_2 ) ̅ )^' S^(-1) ((y_1 ) ̅-(y_2 ) ̅ ) (Steven, 2002: 176)
Keterangan:
T2 = Hotelling Trace
n1 = besar sampel dari populasi I
n2 = besar sampel dari populasi II
(y_1 ) ̅ = vektor rerata skor sampel I
(y_2 ) ̅ = vektor rerata skor sampel II
S = matriks dispersi
Selanjutnya ditransformasi untuk memperoleh nilai dari distribusi F dengan menggunakan formula adalah
F =(n_1+ n_2-p-1)/(〖(n〗_1+ n_2-2)p) T2 (Steven, 2002: 177)
Kriteria pengujiannya adalah H01 ditolak jika Fhitung ≥ F(p,n1 + n2 – p – 1;0.05) atau angka signifikansi (probabilitas) yang dihasilkan lebih kecil dari 0.05. Uji hipotesis pertama menggunakan bantuan SPSS 16 for window.
Uji Univariat
Berdasarkan hasil uji hipotesis tahap pertama bahwa terdapat perbedaan keefektifan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan TGT terhadap keterampilan matematika dan motivasi belajar siswa pada matematika, maka dilakukan statistik uji t untuk menentukan kelompok – kelompok tertentu yang berkontribusi terhadap perbedaan secara keseluruhan. Kriteria yang digunakan adalah kriteria Bonferroni dimana taraf siginfikansinya adalah α/p (p = 2) jadi untuk α = 0,05% untuk masing-masing uji t digunakan kriteria 0,05/2 = 0,025. Rumus yang digunakan dalam menguji hipotesis tersebut dengan menggunakan statistik uji t. Rumus yang digunakan adalah:
t = ((y_1 ) ̅-(y_2 ) ̅)/√(((n_1-1) S_1^2+ (n_2-1) S_(2 )^2)/(n_1+ n_2-2) (1/n_1 + 1/n_2 ) ) (Stevens, 2002: 176)
Keterangan:
(y_1 ) ̅ = Nilai rata-rata sampel I
(y_2 ) ̅ = Nilai rata-rata sampel II
S_1^2 = varian sampel kelompok I
S_2^2 = varian sampel kelompok II
n = jumlah anggota sampel.
Kriteria pengujiannya adalah H0 ditolak jika thitung ≥ t(0,025;n1+n2-2) atau nilai signifikansi lebih kecil 0,025. Uji hipotesis menggunakan bantuan SPSS 16 for window.
Pengujian hipotesis tahap kedua, dengan hipotesis sebagai berikut:
H02 ; Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak lebih efektif dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap keterampilan matematika siswa.
Ha2 ; Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih efektif dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap keterampilan matematika siswa.
Secara statistik, hipotesis di atas dapat disimbolkan sebagai berikut:
H02 ; μHP ≤ μHK
Ha2 ; μHP ˃ μHk
Di mana μHP menyatakan rerata (mean) dari keterampilan matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, sedangkan μHK menyatakan rerata (mean) dari keterampilan matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Perhitungan untuk menguji hipotesis tahap kedua, dapat menggunakan statistik uji t dua sampel bebas. Kriteria pengujiannya adalah jika thitung ≥ t(0,025;n1+n2-2) atau nilai signifikansi lebih kecil 0.025. maka H02 ditolak. Uji hipotesis kedua menggunakan bantuan SPSS 16 for window.
Pengujian hipotesis tahap ketiga, dengan hipotesis sebagai berikut:
H03 ; Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak lebih efektif dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap motivasi belajar siswa pada matematika.
Ha3 ; Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih efektif dibanding metode pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap motivasi belajar siswa pada matematika.
Secara statistik, hipotesis di atas dapat disimbolkan sebagai berikut:
H03 ; μSP ≤ μSK
Ha3 ; μSP ˃ μSK
Di mana μSP menyatakan rerata (mean) dari motivasi belajar siswa pada matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, sedangkan μSK menyatakan rerata (mean) dari motivasi belajar siswa pada matematika dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Syahrir, S.Pd
Buku Perdana: Metodologi Pembelajaran Matematika Tahun Terbit : September 2010 ISBN : 978-602-96508-1-5 Penerbit : Naufan Pustaka Kerjasama Perpustakaan IKIP Mataram. Silakan berikan komentar dan saran yang sifatnya membangun
Selasa, 05 April 2011
Selasa, 28 Desember 2010
Anjuran penulisan instrumen tes
g.Menelaah soal tes
Telaah soal tes perlu dilakukan untuk memperbaiki soal jika ternyata dalam pembuatannya masih ditemukan kekurangan atau kesalahan. Telaah soal sebaiknya dilakukan oleh orang lain, bukan si pembuat soal. Akan lebih baik jika telaah dilakukan oleh sejumlah orang yang terdiri dari para ahli yang secara bersama dalam tim menelaah dan atau mengoreksi soal. Tabel Penyesuaian Antara Anjuran dan Butir Soal adalah
No Anjuran Pilihan Ganda
1.Pokok permasalahan harus berada pada bagian pertanyaan
2.Kurangi pengulangan kata pada pilihan jawaban
3.Bila digunakan bentuk pernyataan yang tidak lengkap, maka kelengkapannya harus ada pada pilihan jawaban
4.Urutkan pilihan jawaban sesederhana mungkin.
5.Hindari pengacau jawaban yang sangat tekhnis
6.Semua pilihan jawaban harus masuk akal dan homogen
7.Hindari membuat jawaban yang benar lebih panjang daripada pengacau jawaban
8.Hindari memberikan petunjuk yang tidak relevan terhadap jawaban yang benar
9.Pertimbangkan untuk mencantumkan pilihan jawaban “saya tidak mengetahui jawabannya”
10.Hanya terdapat satu jawaban yang benar atau yang paling benar pada setiap soal
11.Hindari penggunaan pilihan jawaban “ semua tersebut diatas”.
12.Gunakan pilihan jawaban “ tidak tersebut diatas” seminimal mungkin
13.Gunakan empat atau lima pilihan jawaban
14.Hindari pilihan jawaban yang saling melengkapi
15.Untuk mengukur proses mental tingkat tinggi, buatlah bentuk soal berupa pertanyaan cerita.
16.Gunakan format soal yang dapat mengukur sasaran pengujian secara tepat dan efisien
No.Anjuran Essay
1.Tanyakan pertanyaan atau bentuk soal yang menganjurkan siswa untuk dapat menunjukkan intisari pengetahuan siswa
2.Tanyakan pertanyaan yang jelas, dalam arti menurut ahli jawaban tersebut lebih baik daripada jawaban lain
3.Sajikan soal ujian secara lengkap dan sejelas mungkin tanpa bertentangan dengan tujuan penilaian.
4.Secara umum, berikan pengantar utuk pertanyaan yang lebih spesifik, sehingga dapat dijawab secara singkat
5.Hindari pemberian soal pilihan yang tidak berguna
6.Buat pertanyaan yang bagus sehingga jawaban akan sesuai dengan yang diharapakan
Telaah soal tes perlu dilakukan untuk memperbaiki soal jika ternyata dalam pembuatannya masih ditemukan kekurangan atau kesalahan. Telaah soal sebaiknya dilakukan oleh orang lain, bukan si pembuat soal. Akan lebih baik jika telaah dilakukan oleh sejumlah orang yang terdiri dari para ahli yang secara bersama dalam tim menelaah dan atau mengoreksi soal. Tabel Penyesuaian Antara Anjuran dan Butir Soal adalah
No Anjuran Pilihan Ganda
1.Pokok permasalahan harus berada pada bagian pertanyaan
2.Kurangi pengulangan kata pada pilihan jawaban
3.Bila digunakan bentuk pernyataan yang tidak lengkap, maka kelengkapannya harus ada pada pilihan jawaban
4.Urutkan pilihan jawaban sesederhana mungkin.
5.Hindari pengacau jawaban yang sangat tekhnis
6.Semua pilihan jawaban harus masuk akal dan homogen
7.Hindari membuat jawaban yang benar lebih panjang daripada pengacau jawaban
8.Hindari memberikan petunjuk yang tidak relevan terhadap jawaban yang benar
9.Pertimbangkan untuk mencantumkan pilihan jawaban “saya tidak mengetahui jawabannya”
10.Hanya terdapat satu jawaban yang benar atau yang paling benar pada setiap soal
11.Hindari penggunaan pilihan jawaban “ semua tersebut diatas”.
12.Gunakan pilihan jawaban “ tidak tersebut diatas” seminimal mungkin
13.Gunakan empat atau lima pilihan jawaban
14.Hindari pilihan jawaban yang saling melengkapi
15.Untuk mengukur proses mental tingkat tinggi, buatlah bentuk soal berupa pertanyaan cerita.
16.Gunakan format soal yang dapat mengukur sasaran pengujian secara tepat dan efisien
No.Anjuran Essay
1.Tanyakan pertanyaan atau bentuk soal yang menganjurkan siswa untuk dapat menunjukkan intisari pengetahuan siswa
2.Tanyakan pertanyaan yang jelas, dalam arti menurut ahli jawaban tersebut lebih baik daripada jawaban lain
3.Sajikan soal ujian secara lengkap dan sejelas mungkin tanpa bertentangan dengan tujuan penilaian.
4.Secara umum, berikan pengantar utuk pertanyaan yang lebih spesifik, sehingga dapat dijawab secara singkat
5.Hindari pemberian soal pilihan yang tidak berguna
6.Buat pertanyaan yang bagus sehingga jawaban akan sesuai dengan yang diharapakan
Kamis, 23 Desember 2010
Pembelajaran Matematika
Menurut Robbins & Timothy (2009: 88), learning is our definition has several components that deserve clarification. Fisrt, learning involves change. Change may be good or bad from an organizational poinf of view, second the change must become ingrained. Belajar dapat diklarifikasikan dua komponen adalah (1) belajar melibatkan perubahan yaitu perubahan dapat baik atau buruk dari sudut pandang pengelompokan, (2) perubahan yang datang dari dalam dirinya sendiri.
Belajar tidak selalu sebagai hasil pembelajaran, pembelajaran sebagai salah satu proses untuk melihat keberhasilan siswa dalam belajar. Individu belajar harus memiliki konsep yang paling penting untuk meningkatkan keterampilan yang menekankan mereka bisa berkonsentrasi pada kualitas pemahaman dan bukan pada kuantitas informasi yang disajikan. Dalam hal ini, Slameto (2010: 2) menjelaskan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Duffy & McDonald (2010: 28), Learning is a complex activity that can be explained differently depending on one’s perspective on how and why people do what they do. Belajar adalah sebuah aktivitas yang kompleks yang dapat dijelaskan secara berbeda tergantung perspektif seseorang tentang bagaimana dan mengapa berbuat apa yang mereka lakukan.
Proses pembelajaran bagi setiap siswa untuk mengembangkan pribadinya dengan tujuan meningkatkan pengetahuan keterampilan, kebiasaan, kegemasan, dan sikapnya sehingga terjadi perubahan tingkah laku dalam dirinya. Pembelajaran merupakan proses komunikatif-interaktif guru, siswa, dan sumber belajar yaitu saling bertukar informasi. Tiga komponen ini merupakan satu kesatuan sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, sebagai tujuan tercapainya ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Nitko (2007: 18) menyatakan bahwa: “Instruction is the process you use to provide students with the conditions that help them achieve the learning targets”. Pembelajaran adalah suatu proses yang dapat memberikan kondisi siswa dalam membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Beberapa tujuan pembelajaran adalah kognitif terdiri dari pengetahuan intelektual dan keterampilan berpikir, afektif diartikan bahwa perasaan siswa atau nilai yang dirasakan siswa, dan psikomotor terdiri dari kendaraan keterampilan dan tanggapan fisik.
Pembelajaran sebagai tujuan tercapainya ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Duffy dan McDonald (2010: 55) menjelaskan bahwa “Intructional planning is required at every level of education from kindergarten through college level. many tools and templates have been developed to help teachers plan”. Perencanaan pembelajaran diperlukan pada setiap tingkat pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai tingkat perguruan tinggi. berbagai perangkat dan tujuan telah dikembangkan untuk membantu guru merencanakan pembelajaran.
Guru dalam merencanakan pembelajaran perlu adanya suatu pemaknaan terhadap belajar. Belajar memiliki makna untuk memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Belajar memerlukan proses belajar yang didesain secara cermat untuk menimbulkan pembelajaran yang bagus. Brown (2000: 7) menjelaskan tentang pembelajaran bahwa:
Teaching cannot be defined a fort from learning. Teaching is guiding and facilitating learning, enabling the lear to learn, setting the conditions for learning. Your understanding of how the learner lears will determine your philosophy of education, your teaching style, your approach, methods, and classroom technigues.
Pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari proses belajar mengajar, pemahaman terhadap bagaimana siswa belajar untuk menentukan filsafat pendidikan yang dipakai, gaya mengajar, pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran sebagai sebuah proses yang bertujuan membantu seseorang untuk belajar, bagaimana melakukan sesuatu, memberikan interaksi, memberikan hubungan dalam mempelajari sesuatu, memberikan ilmu pengetahuan, dan memberikan pemahaman kepada siswa.
Borich (2007: 226) menjelaskan tentang keefektifan pembelajaran yaitu sebagai berikut:
Rosenshine and Stevens have equated this type of instruction with that of an effective demonstration in which the following occurs:
1.You clearly present goal and main pint.
a.State goal or objectives of the presentation beforehand
b.Focus on one thought (pint, direction) at a time
c.Avoid digressions.
d.Avoid ambiguous phrases and pronouns.
2.You present content sequentially.
a.Present material in small steps
b.Organizer and present material so learner master one point before you go to the next point
c.Give explicit, step by step directions.
d.Present and outline when the material is complex
3.You are specific and concrete
a.Model the skills or process (when appropriate )
b.Give detailed and redundant explanations for difficult points
c.Provide students with concrete and varied examples.
Dapat dijelaskan Rosenshine menyamakan bentuk-bentuk pembelajaran dengan menunjukkan sebuah keefektifan seperti yang dilakukan di bawah ini:
1.Pencapain/keberhasilan bagian dari yang utama seperti, tujuan pernyataan yang dipersentasikan sebelumnya, tertuju pada satu gagasan yang dipikirkan pada saat itu, mengabaikan penyimpangan, kata-kata yang ambiguitas dan kata ganti.
2.Memberikan contoh seperti, menjelaskan materi dengan langkah-langkah yang baik, jelas, langsung, dan memberikan pokok bahasan/garis besar ketika materinya lebih.
3.Menjelaskan secara spesifik dan jelas seperti, keahlian memperagakan (ketika menyesuaikan), menjelaskan dengan lebih detail pada permasalahan yang sulit, membagi siswa dengan mengkonsentrasikan, dan memberikan contoh yang beragam.
Untuk mencapai tujuan-tujuan yang ada, maka pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari metode dalam pengajaran, sebagai suatu komponen menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Ini adalah suatu kenyataan yang harus diakui oleh semua yang terlibat dalam pendidikan. Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dan strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan. Rina Zazkis (Roza Leikin & Rina Zazkin, 2010: 91) menjelaskan bahwa :
Successful experiences become parts of our instructional repertoire and after years it is impossible to determine how a specific mathematical issue or a specific pedagogical strategy was acquired. We learn to anticipate students’ questions, their difficulties and their errors, and then teaching, or navigating learning, resembles a walk on a familiar trail, where sharp turns or other obstacles are either anticipated or avoided.
Pengalaman sukses menjadi bagian dari pembelajaran kami
repertoar dan setelah bertahun-tahun adalah mustahil untuk menentukan bagaimana sebuah masalah khusus matematika atau strategi pedagogis tertentu diperoleh. Kita belajar untuk mengantisipasi pertanyaan siswa, kesulitan dan kesalahan siswa, dan kemudian mengajar, atau menavigasi belajar, menyerupai berjalan di jalur biasa, di mana tajam berubah atau hambatan lain yang baik diantisipasi atau dihindari.
Proses pembelajaran di kelas merupakan sarana untuk membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana untuk belajar. Secara implisit dalam mengajar terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Menurut Dessey (Douglas, 1992: 46) menyatakan :
Mathematics educator need to focus on the nature of mathematics in the development of research, curriculum, teacher training, instruction, and assesment as they strive to understand its impact on the learning and teaching of mathematics.
Pendidik Matematika perlu fokus menyelidiki berupa perkembangan matematika tentang kurikulum, pembinaan pendidik, pengajaran, dan penilaian untuk mengetahui dampaknya pada pembelajaran matematika. Dalam hal ini, guru perlu adanya memahami dan mengaplikasikan kurikulum, pengajaran, dan penilaian dalam pembelajaran matematika sehingga mampu mendeteksi kesulitan belajar dan mengajar matematika.
Chambers (2008: 9) menyatakan bahwa : “mathematics is the study of patterns abstracted from the world around us-so anything we learn in maths has literally thousands of applications, in arts, sciences, finance, health and leisure”. matematika adalah studi tentang pola diabstraksikan dari dunia di sekitar kita, segala sesuatu yang kita pelajari di matematika memiliki ribuan aplikasi, dalam seni, ilmu, keuangan, kesehatan dan rekreasi.
Menangani kompleksitas dan menggabungkan pendekatan yang berbeda dengan klasifikasi pengetahuan, Leikin mengidentifikasi tiga dimensi pengetahuan guru (Leikin & Zazkin, 2010: 8) menjelaskan bahwa identified the following three dimensions of teachers’ knowledge: dimension 1, kinds of teachers’ knowledge; dimension 2, sources of teachers’ knowledge; dimension 3, forms of knowledge. Tiga dimensi pengetahuan guru adalah 1). Jenis pengetahuan guru, 2). Sumber-sumber pengetahuan guru, 3). Bentuk pengetahuan guru.
Sebagai perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan, perlu adanya suatu tahapan yang dilalui oleh guru dan siswa. Seperti yang dijelaskan oleh Cowan (2006: 2) bahwa:
In every lesson and for every series of lessons comprising a topic, a teacher goes through a sequence of steps to ensure that all the criteria outlined in the Unit of Work are met and that there is continuity and progression within and between lessons. These steps are:1). Planning and preparing the lesson(s); 2)Presenting the lesson, taking account of classroom management issues; 3).Assessing the pupils to determine the effectiveness of the lesson; 4). Reviewing and evaluating the lesson(s).
Dalam setiap pelajaran dan untuk setiap rangkaian pelajaran yang terdiri dari topik, guru berjalan melalui urutan langkah-langkah untuk memastikan bahwa semua kriteria yang digariskan dalam unit kerja terpenuhi dan bahwa ada kesinambungan dan kemajuan di antara pelajaran. Langkah-langkahnya adalah: 1). Merencanakan dan menyiapkan pelajaran (s); 2). Penyajian pelajaran, dengan mempertimbangkan isu-isu pengelolaan kelas; 3). Menilai siswa untuk menentukan efektivitas pelajaran; 4). Meninjau dan mengevaluasi pelajaran (s).
Dari beberapa teori tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya, yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk memberi peluang kepada siswa untuk membangun pengetahuan matematika mereka melalui pengalaman yang bermakna.
Belajar tidak selalu sebagai hasil pembelajaran, pembelajaran sebagai salah satu proses untuk melihat keberhasilan siswa dalam belajar. Individu belajar harus memiliki konsep yang paling penting untuk meningkatkan keterampilan yang menekankan mereka bisa berkonsentrasi pada kualitas pemahaman dan bukan pada kuantitas informasi yang disajikan. Dalam hal ini, Slameto (2010: 2) menjelaskan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Duffy & McDonald (2010: 28), Learning is a complex activity that can be explained differently depending on one’s perspective on how and why people do what they do. Belajar adalah sebuah aktivitas yang kompleks yang dapat dijelaskan secara berbeda tergantung perspektif seseorang tentang bagaimana dan mengapa berbuat apa yang mereka lakukan.
Proses pembelajaran bagi setiap siswa untuk mengembangkan pribadinya dengan tujuan meningkatkan pengetahuan keterampilan, kebiasaan, kegemasan, dan sikapnya sehingga terjadi perubahan tingkah laku dalam dirinya. Pembelajaran merupakan proses komunikatif-interaktif guru, siswa, dan sumber belajar yaitu saling bertukar informasi. Tiga komponen ini merupakan satu kesatuan sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, sebagai tujuan tercapainya ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Nitko (2007: 18) menyatakan bahwa: “Instruction is the process you use to provide students with the conditions that help them achieve the learning targets”. Pembelajaran adalah suatu proses yang dapat memberikan kondisi siswa dalam membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Beberapa tujuan pembelajaran adalah kognitif terdiri dari pengetahuan intelektual dan keterampilan berpikir, afektif diartikan bahwa perasaan siswa atau nilai yang dirasakan siswa, dan psikomotor terdiri dari kendaraan keterampilan dan tanggapan fisik.
Pembelajaran sebagai tujuan tercapainya ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Duffy dan McDonald (2010: 55) menjelaskan bahwa “Intructional planning is required at every level of education from kindergarten through college level. many tools and templates have been developed to help teachers plan”. Perencanaan pembelajaran diperlukan pada setiap tingkat pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai tingkat perguruan tinggi. berbagai perangkat dan tujuan telah dikembangkan untuk membantu guru merencanakan pembelajaran.
Guru dalam merencanakan pembelajaran perlu adanya suatu pemaknaan terhadap belajar. Belajar memiliki makna untuk memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Belajar memerlukan proses belajar yang didesain secara cermat untuk menimbulkan pembelajaran yang bagus. Brown (2000: 7) menjelaskan tentang pembelajaran bahwa:
Teaching cannot be defined a fort from learning. Teaching is guiding and facilitating learning, enabling the lear to learn, setting the conditions for learning. Your understanding of how the learner lears will determine your philosophy of education, your teaching style, your approach, methods, and classroom technigues.
Pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari proses belajar mengajar, pemahaman terhadap bagaimana siswa belajar untuk menentukan filsafat pendidikan yang dipakai, gaya mengajar, pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran sebagai sebuah proses yang bertujuan membantu seseorang untuk belajar, bagaimana melakukan sesuatu, memberikan interaksi, memberikan hubungan dalam mempelajari sesuatu, memberikan ilmu pengetahuan, dan memberikan pemahaman kepada siswa.
Borich (2007: 226) menjelaskan tentang keefektifan pembelajaran yaitu sebagai berikut:
Rosenshine and Stevens have equated this type of instruction with that of an effective demonstration in which the following occurs:
1.You clearly present goal and main pint.
a.State goal or objectives of the presentation beforehand
b.Focus on one thought (pint, direction) at a time
c.Avoid digressions.
d.Avoid ambiguous phrases and pronouns.
2.You present content sequentially.
a.Present material in small steps
b.Organizer and present material so learner master one point before you go to the next point
c.Give explicit, step by step directions.
d.Present and outline when the material is complex
3.You are specific and concrete
a.Model the skills or process (when appropriate )
b.Give detailed and redundant explanations for difficult points
c.Provide students with concrete and varied examples.
Dapat dijelaskan Rosenshine menyamakan bentuk-bentuk pembelajaran dengan menunjukkan sebuah keefektifan seperti yang dilakukan di bawah ini:
1.Pencapain/keberhasilan bagian dari yang utama seperti, tujuan pernyataan yang dipersentasikan sebelumnya, tertuju pada satu gagasan yang dipikirkan pada saat itu, mengabaikan penyimpangan, kata-kata yang ambiguitas dan kata ganti.
2.Memberikan contoh seperti, menjelaskan materi dengan langkah-langkah yang baik, jelas, langsung, dan memberikan pokok bahasan/garis besar ketika materinya lebih.
3.Menjelaskan secara spesifik dan jelas seperti, keahlian memperagakan (ketika menyesuaikan), menjelaskan dengan lebih detail pada permasalahan yang sulit, membagi siswa dengan mengkonsentrasikan, dan memberikan contoh yang beragam.
Untuk mencapai tujuan-tujuan yang ada, maka pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari metode dalam pengajaran, sebagai suatu komponen menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Ini adalah suatu kenyataan yang harus diakui oleh semua yang terlibat dalam pendidikan. Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dan strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan. Rina Zazkis (Roza Leikin & Rina Zazkin, 2010: 91) menjelaskan bahwa :
Successful experiences become parts of our instructional repertoire and after years it is impossible to determine how a specific mathematical issue or a specific pedagogical strategy was acquired. We learn to anticipate students’ questions, their difficulties and their errors, and then teaching, or navigating learning, resembles a walk on a familiar trail, where sharp turns or other obstacles are either anticipated or avoided.
Pengalaman sukses menjadi bagian dari pembelajaran kami
repertoar dan setelah bertahun-tahun adalah mustahil untuk menentukan bagaimana sebuah masalah khusus matematika atau strategi pedagogis tertentu diperoleh. Kita belajar untuk mengantisipasi pertanyaan siswa, kesulitan dan kesalahan siswa, dan kemudian mengajar, atau menavigasi belajar, menyerupai berjalan di jalur biasa, di mana tajam berubah atau hambatan lain yang baik diantisipasi atau dihindari.
Proses pembelajaran di kelas merupakan sarana untuk membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana untuk belajar. Secara implisit dalam mengajar terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Menurut Dessey (Douglas, 1992: 46) menyatakan :
Mathematics educator need to focus on the nature of mathematics in the development of research, curriculum, teacher training, instruction, and assesment as they strive to understand its impact on the learning and teaching of mathematics.
Pendidik Matematika perlu fokus menyelidiki berupa perkembangan matematika tentang kurikulum, pembinaan pendidik, pengajaran, dan penilaian untuk mengetahui dampaknya pada pembelajaran matematika. Dalam hal ini, guru perlu adanya memahami dan mengaplikasikan kurikulum, pengajaran, dan penilaian dalam pembelajaran matematika sehingga mampu mendeteksi kesulitan belajar dan mengajar matematika.
Chambers (2008: 9) menyatakan bahwa : “mathematics is the study of patterns abstracted from the world around us-so anything we learn in maths has literally thousands of applications, in arts, sciences, finance, health and leisure”. matematika adalah studi tentang pola diabstraksikan dari dunia di sekitar kita, segala sesuatu yang kita pelajari di matematika memiliki ribuan aplikasi, dalam seni, ilmu, keuangan, kesehatan dan rekreasi.
Menangani kompleksitas dan menggabungkan pendekatan yang berbeda dengan klasifikasi pengetahuan, Leikin mengidentifikasi tiga dimensi pengetahuan guru (Leikin & Zazkin, 2010: 8) menjelaskan bahwa identified the following three dimensions of teachers’ knowledge: dimension 1, kinds of teachers’ knowledge; dimension 2, sources of teachers’ knowledge; dimension 3, forms of knowledge. Tiga dimensi pengetahuan guru adalah 1). Jenis pengetahuan guru, 2). Sumber-sumber pengetahuan guru, 3). Bentuk pengetahuan guru.
Sebagai perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan, perlu adanya suatu tahapan yang dilalui oleh guru dan siswa. Seperti yang dijelaskan oleh Cowan (2006: 2) bahwa:
In every lesson and for every series of lessons comprising a topic, a teacher goes through a sequence of steps to ensure that all the criteria outlined in the Unit of Work are met and that there is continuity and progression within and between lessons. These steps are:1). Planning and preparing the lesson(s); 2)Presenting the lesson, taking account of classroom management issues; 3).Assessing the pupils to determine the effectiveness of the lesson; 4). Reviewing and evaluating the lesson(s).
Dalam setiap pelajaran dan untuk setiap rangkaian pelajaran yang terdiri dari topik, guru berjalan melalui urutan langkah-langkah untuk memastikan bahwa semua kriteria yang digariskan dalam unit kerja terpenuhi dan bahwa ada kesinambungan dan kemajuan di antara pelajaran. Langkah-langkahnya adalah: 1). Merencanakan dan menyiapkan pelajaran (s); 2). Penyajian pelajaran, dengan mempertimbangkan isu-isu pengelolaan kelas; 3). Menilai siswa untuk menentukan efektivitas pelajaran; 4). Meninjau dan mengevaluasi pelajaran (s).
Dari beberapa teori tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya, yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk memberi peluang kepada siswa untuk membangun pengetahuan matematika mereka melalui pengalaman yang bermakna.
Selasa, 09 November 2010
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas/Semester : XII/1 (satu)
Pertemuan : 1 (satu)
Alokasi waktu : 2 x 45 menit
I.Standar kompetensi :
Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah
II.Kompetensi dasar :
Memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu
III.Materi Pokok :
Integral
IV.Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan : Pembelajaran kooperatife tipe Jigsaw
Metode : Diskusi kelompok
V.Indikator pencapaian kompetensi:
1.Menguraikan rumus integral
2.Menghitung integral
VI.Tujuan Pembelajaran
1.Siswa dapat menguraikan rumus integral
2.Siswa dapat menghitung integral
VII.Materi ajar
Terlampir
VIII.Skenario Pembelajaran
Pendahuluan (15 menit)
1. Memberikan soal-soal turunan fungsi
2. Bersama-sama menyelesaikan latihan soal turunan fungsi
3. Membagi siswa dalam kelompok heterogen
Kegiatan Inti (60 menit)
1. Menuliskan rumus dasar integral di papan tulis
2. Memberikan topik kepada masing-masing kelompok
3. Meminta siswa untuk berkumpul berdasarkan nomor yang telah ditentukan artinya yang memiliki nomor 1 berkumpul pada satu kelompok, dan seterusnya.
4. Memberikan soal quis kepada seluruh kelompok masing-masing empat soal.
5. Meluruskan jawaban siswa jika terdapat kekeliruan.
6. Memberikan soal quis untuk diselesaikan secara individu.
Penutup (15 menit)
1. Siswa menyimak serta ikut serta merangkum materi pelajaran dengan ditegaskan oleh guru.
2. Memberikan latihan soal, apabila tidak cukup waktu dijadikan tugas rumah (PR)
3. Mengingatkan siswa untuk pertemuan selanjutnya tetap pada kelompok semula
IX.Sumber Belajar
Buku matematika 3 kelas XII program IPS dan bahasa.
X.Penilaian
Jenis penilaian : bertanya, dan tes tertulis
Yogyakarta, 1 November 2010
Guru mata pelajaran
Syahrir, S.Pd.
NIP.
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas/Semester : XII/1 (satu)
Pertemuan : 1 (satu)
Alokasi waktu : 2 x 45 menit
I.Standar kompetensi :
Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah
II.Kompetensi dasar :
Memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu
III.Materi Pokok :
Integral
IV.Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan : Pembelajaran kooperatife tipe Jigsaw
Metode : Diskusi kelompok
V.Indikator pencapaian kompetensi:
1.Menguraikan rumus integral
2.Menghitung integral
VI.Tujuan Pembelajaran
1.Siswa dapat menguraikan rumus integral
2.Siswa dapat menghitung integral
VII.Materi ajar
Terlampir
VIII.Skenario Pembelajaran
Pendahuluan (15 menit)
1. Memberikan soal-soal turunan fungsi
2. Bersama-sama menyelesaikan latihan soal turunan fungsi
3. Membagi siswa dalam kelompok heterogen
Kegiatan Inti (60 menit)
1. Menuliskan rumus dasar integral di papan tulis
2. Memberikan topik kepada masing-masing kelompok
3. Meminta siswa untuk berkumpul berdasarkan nomor yang telah ditentukan artinya yang memiliki nomor 1 berkumpul pada satu kelompok, dan seterusnya.
4. Memberikan soal quis kepada seluruh kelompok masing-masing empat soal.
5. Meluruskan jawaban siswa jika terdapat kekeliruan.
6. Memberikan soal quis untuk diselesaikan secara individu.
Penutup (15 menit)
1. Siswa menyimak serta ikut serta merangkum materi pelajaran dengan ditegaskan oleh guru.
2. Memberikan latihan soal, apabila tidak cukup waktu dijadikan tugas rumah (PR)
3. Mengingatkan siswa untuk pertemuan selanjutnya tetap pada kelompok semula
IX.Sumber Belajar
Buku matematika 3 kelas XII program IPS dan bahasa.
X.Penilaian
Jenis penilaian : bertanya, dan tes tertulis
Yogyakarta, 1 November 2010
Guru mata pelajaran
Syahrir, S.Pd.
NIP.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas/Semester : XII/1 (satu)
Pertemuan : 1 (satu)
Alokasi waktu : 2 x 45 menit
I.Standar kompetensi :
Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah
II.Kompetensi dasar :
Memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu
III.Materi Pokok :
Integral
IV.Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan : Pembelajaran kooperatife tipe Jigsaw
Metode : Diskusi kelompok
V.Indikator pencapaian kompetensi:
1.Menguraikan rumus integral
2.Menghitung integral
VI.Tujuan Pembelajaran
1.Siswa dapat menguraikan rumus integral
2.Siswa dapat menghitung integral
VII.Materi ajar
Terlampir
VIII.Skenario Pembelajaran
Pendahuluan (15 menit)
1. Memberikan soal-soal turunan fungsi
2. Bersama-sama menyelesaikan latihan soal turunan fungsi
3. Membagi siswa dalam kelompok heterogen
Kegiatan Inti (60 menit)
1. Menuliskan rumus dasar integral di papan tulis
2. Memberikan topik kepada masing-masing kelompok
3. Meminta siswa untuk berkumpul berdasarkan nomor yang telah ditentukan artinya yang memiliki nomor 1 berkumpul pada satu kelompok, dan seterusnya.
4. Memberikan soal quis kepada seluruh kelompok masing-masing empat soal.
5. Meluruskan jawaban siswa jika terdapat kekeliruan.
6. Memberikan soal quis untuk diselesaikan secara individu.
Penutup (15 menit)
1. Siswa menyimak serta ikut serta merangkum materi pelajaran dengan ditegaskan oleh guru.
2. Memberikan latihan soal, apabila tidak cukup waktu dijadikan tugas rumah (PR)
3. Mengingatkan siswa untuk pertemuan selanjutnya tetap pada kelompok semula
IX. Sumber Belajar
Buku matematika 3 kelas XII program IPS dan bahasa.
X. Penilaian
Jenis penilaian : bertanya, dan tes tertulis
Yogyakarta, 1 November 2010
Guru mata pelajaran
Marsiyam, S.Pd.Si
NIP.
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas/Semester : XII/1 (satu)
Pertemuan : 1 (satu)
Alokasi waktu : 2 x 45 menit
I.Standar kompetensi :
Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah
II.Kompetensi dasar :
Memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu
III.Materi Pokok :
Integral
IV.Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan : Pembelajaran kooperatife tipe Jigsaw
Metode : Diskusi kelompok
V.Indikator pencapaian kompetensi:
1.Menguraikan rumus integral
2.Menghitung integral
VI.Tujuan Pembelajaran
1.Siswa dapat menguraikan rumus integral
2.Siswa dapat menghitung integral
VII.Materi ajar
Terlampir
VIII.Skenario Pembelajaran
Pendahuluan (15 menit)
1. Memberikan soal-soal turunan fungsi
2. Bersama-sama menyelesaikan latihan soal turunan fungsi
3. Membagi siswa dalam kelompok heterogen
Kegiatan Inti (60 menit)
1. Menuliskan rumus dasar integral di papan tulis
2. Memberikan topik kepada masing-masing kelompok
3. Meminta siswa untuk berkumpul berdasarkan nomor yang telah ditentukan artinya yang memiliki nomor 1 berkumpul pada satu kelompok, dan seterusnya.
4. Memberikan soal quis kepada seluruh kelompok masing-masing empat soal.
5. Meluruskan jawaban siswa jika terdapat kekeliruan.
6. Memberikan soal quis untuk diselesaikan secara individu.
Penutup (15 menit)
1. Siswa menyimak serta ikut serta merangkum materi pelajaran dengan ditegaskan oleh guru.
2. Memberikan latihan soal, apabila tidak cukup waktu dijadikan tugas rumah (PR)
3. Mengingatkan siswa untuk pertemuan selanjutnya tetap pada kelompok semula
IX. Sumber Belajar
Buku matematika 3 kelas XII program IPS dan bahasa.
X. Penilaian
Jenis penilaian : bertanya, dan tes tertulis
Yogyakarta, 1 November 2010
Guru mata pelajaran
Marsiyam, S.Pd.Si
NIP.
Objek Wisata Alam Wera
ass. wr. wb.
bagi saudara-saudara yang berasal dari kecamatan wera kab. bima (daerah lain juga bisa asal relevan). kami segenap pengurus F2M mengharapkan kiriman dari saudara-saudara tentang objek-objek wisata alam di kecamatan wera.
formatnya
1. Pendahuluan (karakter masyarakt stempat)
2. Etnografi (kecuali karakter masy...arakt stempat)
3. Model pengembangan
atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
kirim nmor HP saudara jika suatu waktu lolos dalam ferivikasi kami.
panitia pelaksana Radu, 12 September 2010
Ketua Panitia Sekretaris
Syahrir Abdul Sakban
bagi saudara-saudara yang berasal dari kecamatan wera kab. bima (daerah lain juga bisa asal relevan). kami segenap pengurus F2M mengharapkan kiriman dari saudara-saudara tentang objek-objek wisata alam di kecamatan wera.
formatnya
1. Pendahuluan (karakter masyarakt stempat)
2. Etnografi (kecuali karakter masy...arakt stempat)
3. Model pengembangan
atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
kirim nmor HP saudara jika suatu waktu lolos dalam ferivikasi kami.
panitia pelaksana Radu, 12 September 2010
Ketua Panitia Sekretaris
Syahrir Abdul Sakban
Objek Wisata Alam Wera
ass. wr. wb.
bagi saudara-saudara yang berasal dari kecamatan wera kab. bima (daerah lain juga bisa asal relevan). kami segenap pengurus F2M mengharapkan kiriman dari saudara-saudara tentang objek-objek wisata alam di kecamatan wera.
formatnya
1. Pendahuluan (karakter masyarakt stempat)
2. Etnografi (kecuali karakter masy...arakt stempat)
3. Model pengembangan
atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
kirim nmor HP saudara jika suatu waktu lolos dalam ferivikasi kami.
panitia pelaksana Radu, 12 September 2010
Ketua Panitia Sekretaris
Syahrir Abdul Sakban
bagi saudara-saudara yang berasal dari kecamatan wera kab. bima (daerah lain juga bisa asal relevan). kami segenap pengurus F2M mengharapkan kiriman dari saudara-saudara tentang objek-objek wisata alam di kecamatan wera.
formatnya
1. Pendahuluan (karakter masyarakt stempat)
2. Etnografi (kecuali karakter masy...arakt stempat)
3. Model pengembangan
atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
kirim nmor HP saudara jika suatu waktu lolos dalam ferivikasi kami.
panitia pelaksana Radu, 12 September 2010
Ketua Panitia Sekretaris
Syahrir Abdul Sakban
Langganan:
Postingan (Atom)