Selasa, 24 Agustus 2010

PENILAIAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

A. Pengertian Penilaian
Dalam mengembangkan penilaian pembelajaran matematika perlu adanya secara umumnya memahami beberapa pengertian berdasarkan peraturan pemerintah (Permen) nomor 20 tahun 2007 menjelaskan beberapa pengertian dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
2. Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.
3. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
4. Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.
5. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8–9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh kompetensi dasar pada periode tersebut.
6. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua kompetensi dasar pada semester tersebut.
7. Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan kompetensi dasar pada semester tersebut.
8. Ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan.
9. Mata pelajaran yang diujikan adalah mata pelajaran kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan dalam ujian nasional dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian yang akan diatur dalam POS Ujian Sekolah/Madrasah.
Menurut Djemari Mardapi (2004: 16) menjelaskan bahwa sistem penilaian merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Ditambahkan selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar lebih baik. Masnur Mukhlis (2008: 78) menyatakan penilaian adalah proses sistematis pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis dan interpretasi informasi untuk memberikan keputusan terhadap kadar hasil kerja.
Keberhasilan merupakan harapan setiap orang, demikian juga guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Keberhasilan tersebut dapat diketahui dengan melakukan penilaian atau evaluasi. Penilaian merupakan salah satu subsistem pendidikan yang penting dalam sistem pendidikan karena mencerminkan perkembangan atau kemajuan pendidikan dari satu ke waktu lain. Selain itu, melalui penilaian dapat dibandingkan dengan tingkat pencapaian prestasi pendididkan antara satu sekolah dengan sekolah yang lain.
Penilaian merupakan rangakaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Pada dasarnya, yang dinilai adalah program, yaitu yang sudah direncanakan sebelumnya, lengkap dengan rincian kegiatan.
Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diharapkan diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakan. Hasil belajar seorang peserta dalam periode tertentu dibandingkan dengan hasil yang dimiliki tersebut sebelumnya dan tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan yang lainnya. Dengan demikian siswa tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai kompetensi atau indikator yang diharapkan.
Mengenai proses penilaian Chittenden (Djemari Mardapi 2008: 17) menjelaskan bahwa kegiatan penilaian itu dalam proses pembelajaran diarahkan pada empat hal yaitu, (1) penelusuran, (2) pengecekan, (3) pencarian, dan (4) penyimpulan. Dalam Permen Diknas Nomor 20 tentang Standar Penilaian Pendidikan (2007: 8-9) disebutkan teknik penilaian adalah (1) penilian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok dan bentuk lainnya yang sesuai dengan karaktristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik, (2) teknik tes berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau kinerja, (3) teknik observasi atau pengamatan dilakkukan selama pemebelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran, (4) teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek (5) instrument penilaian hasil belajar yang digunakan memenuhi persyaratan, (6) instrument penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan, dan (7) sesuai dengan instrumen yang digunakan oleh pemerintah.
Dengan penilaian dapat dijadikan suatu pelajaran yang berarti bagi setiap yang terlibat pada suatu jenjang pendidikan, baik guru, siswa, orang tua, dan instansi guna dapat menentukan langkah terbaik untuk masa selanjutnya. Sehubungan dengan penelitian penilaian yang dimaksud adalah penilaian terhadap hasil tulisan siswa yang disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada mata pelajaran Matematika.
B. Manfaat Penilaian
Fungsi penilaian ada dua yaitu (1) mengukur prestasi siswa dan mengkontribusikannya kepada evaluasi kemajuan pendidikan dan tingkat pencapaian, (2) memotivasi dan mengarahkan pembelajaran siswa (Ebbel ,1979 : 22). Permen Diknas Nomor 41 tentang Standar Proses (2007:18) dinyatakan penilaian dilakukan oleh guru terhadap pembelajaran untuk mengukur tingakat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemampuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
Manfaat suatu penilaian dapat dijadikan sebagai suatu acuan untuk berbuat yang lebih pada masa yang akan datang, demikaian penilaian yang dilakukan dalam penilaian menulis pada mata pelajaran Matematika dapat memberikan manfaat bagi semua yang terlibat dalam pendidikan, seperti guru, siswa, dan orang tua dari siswa. Informasi tentang tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tidak hanya diperlukan oleh guru. Semua pihak yang terlibat dalam dalam pengolahan pendidikan, baik pemerintah, lembaga masyarakat atau yayasan, orang tua, maupun siswa sangat memerlukan inforamasi tentang tingkat keberhasilan serta tingkat efisiensi di dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan.
Pelaksanaan penilaian akan memberikan beberapa manfaat kepada semua yang terlibat dalam pengolahan pendidikan. Bagi guru tentu akan dapat berbuat untuk sebagai (feedback) dalam melakukan langkah-langkah dalam pembelajaran. Dari penilaian, guru dapat mengetahui kemajuan dan prestasi belajar siswanya, yang akan digunakan untuk kenaikan kelas, kelulusan, atau keperluan lainnya.
Orang tua juga dapat manfaat, dapat memantau kemajuan belajar anaknya. Dari hasil ini, dapat memperhatikan belajar atau dapat menentukan langkah-langkah yang bagus untuk kemajuan anaknya. Siswa dapat juga akan memperoleh manfaat, dengan penilaian akan dapat mengetahui prestasi dan daya serap dirinya pada mata pelajaran tertentu. Informasi itu membuat siswa mengetahui apa yang belum dikuasai.
Informasi tentang tingkat keberhasilan tujuan pendidikan tidak hanya diperlukan guru. Semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan, baik pemerintah, lembaga masyarakat atau yayasan, orang tua, maupuan siswa sangat memerlukan informasi tentang tingkat efisiensi di dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan.
Pelaksanaan penilaian akan memberikan beberapa manfaat baik guru, orang tua, maupun guru. Bagi guru, penilaian akan memberikan umpan balik (feed-back) dalam melakukan langkah-langkah pembelajaran. Dengan adanya penilaian, guru juga dapat mnegetahui kemajuan dan prestasi siswa yang dapat dapat gigunakan untuk kenaikan kelas, kelulusan, atau keperluan yang lain. Siswa juga mendapatkan manfaat dari pelaksanaan penilaian. Melalui penilaian siswa dapat mengetahui prestasi dan daya srap dirinya mata pelajaran tertentu. Informasi akan membuat siswa mengetahui bagian-bagian materi yang belum dikuasai atau bagian materi yang perlu kuasai dengan baik.
Penilaian hasil tulisan siswa secara tertulis dalam bentuk karangan atau yang lain akan dapat menberikan manfaat seperti mampu menulis tentang apa yang pernah dilihat, bagaimana penulisan yang baik, bagaimana proses menulis, dengan demikian akan sehingga dapat mendapatkan hasil tulisan yang baik dan benar, sebagaimana tujuan dari belajar pada mata pelajaran Matematika.
C. Prinsip-prinsip Penilaian
Dalam Permen Diknas Nomor 20 tentang Standar Penilaian Pendidikan (2007: 7-8) disebutkan prinsip penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip (1) sahih, (2) obyektif, (3) adil, (4) terpadu, (5) terbuka, (6) menyeluruh dan berkesinambungan, (7) sistematis, (8) beracuan criteria, dan (9) akuntabel. Sedangkan Masnur Mukhlis (2008: 79) menyebutkan penilaian harus memperhatikan validitas, reliabilitas, focus kompetensi, komprehensip, obyektif, dan mendidik.
Penilaian bukan sekedar memunculkan angka-angka saja tapi harus memberikannya atau memunculkan penuh pertimbangan atau setidaknya memegang prinsip supaya penilaian tersebut dengan bentuk angka yang dapat mewakili tentang sesuatu yang dinilai.
Kriteria penilain yang baik adalah penilaian yang obyektif maksudnya dengan memberikan penilaian apa adanya, tanpa adanya ketentuan lain yang sifatnya memaksa apalagi terpaksa atau pemberian penilaian dengan melibatkan unsur-unsur yang tidak terkait dengan apa yang akan diberi nilai (hasil kerja siswa sewaktu ujian).
Masnur Mukhlis (2008: 79) menyebutkan penialian yang baik memiliki kriterian meliputi validitas, reliabilitas, menyeluruh, berkesinambungan, obyektif, dan mendidik. Alat penilaian disebut tepat (valid) apabila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur, dengan kata lain alat ukur tersebut mampu memenuhi fungsinya sebagai alat ukur. Alat penilaian harus memiliki reliabilitas, maksudnya penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan dengan reliable dan menjamin konsisten. Selain harus memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas, alat ukur yang baik harus menyeluruh, berkesinambungan, obyektif, dan mendidik.
Penilaian dilakukan secara menyeluruh yaitu mencakup semua aspek kompetensi yang meliputi kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif.
1) Kognitif adalah kemampuan berpikir yang menurut taksonomi bloom secara hirarkis terdiri atas pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Ini dapat di nilai dengan tes.
2) Afektif adalah berhubungan dengan sikap, minat dan atau nilai-nilai. Kondisi ini tidak dapat dideteksi dengan tes tetapi dapat diperoleh melalui angket, inventori, atau pengamatan yang sistematik dan beklelanjutan. Sistematik berarti pengamatan mengikuti suatu prosedur tertentu sedangkan berkelanjutan memiliki arti pengukuran dan penilaian yang dilakukan secara terus menerus.
3) Psikomotorik adalah melibatkan gerak adaktif atau gerak terlatih dan keterampilan komunikasi berkesinambungan, gerak adatif terdiri atas keterampilan adaktif sederhana, adaktif kompleks dan adaktif gabungan.
Dalam evaluasi pembelajaran ada 3 kategori penilaian di kelas adalah penilaian ranah afektif siswa, penilaian kinerja siswa, dan penilaian portofolio siswa. Pada bagian ini dibahas pada bab VII. Jika guru memahami dan menyusun instrumen penilaian tersebut, secara idealnya guru tersebut mendapat suatu penghargaan tersendiri atau keberhasilan dalam pembelajaran.

Karakter Matematika Merupakan Ilmu Pengetahuan

Kualitas umat manusia ditunjukkan dengan adanya suatu amplikasi pengenalan keahlian masing-masing yang berasal dari ilmu pengetahuan yang didapat oleh manusia tersebut. Salah satu ilmu pengetahuan manusia yang dapat diperlihatkan oleh manusia yaitu matematika dimana dalam matematika merupakan ilmu dasar untuk menyambung, menyusun dan mengembangkan strategi berpikir manusia. Dalam perkembangannya matematika sangat urgen dalam dunia ilmu pengetahuan di dunia ini, setiap dekade atau periode akhir-akhir ini perkembangannya cukup membangun sehingga matematika sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan maupun dalam bidang yang lain.
Dunia pendidikan Indonesia cukup berkompeten khususnya kepribadian yang perkembangannya dapat membentuk karakter individu yang bervariasi. Pada dunia pendidikan matematika diperlukan suatu terobosan yang membangun karakter masing – masingindividu. Diantarakarakter yang seharusnya ditawarkan para guru umumnya seperti yang tertera dalam kurikulum sekarang ini. Pembelajaran matematika tidak eksak tetapi guru harus mampu mengarahkan matematika sebagai solusi dalam kehidupan siswa sehingga mempunyai karakter masing-masing.
Menarik dibicarakan tentang perbedaan individu dalam pendidikan matematika karena dengan melihat perbedaan individu sangatlah baik ketika dikolaborasikan menjadi satu kesatuan dimana pada akhirnya saling meningkatkan kualitasnya diri masing-masing. Dalam perbedaan individu terdapat intelegensi, minat, sikap, moral, konsep diri, nilai atau kepercayaan diri dan lain sebagainya. Jika hal ini dikembangkan dalam pembelajaran matematika, selangkah demi selangkah dunia pendidikan akan lebih maju dan berkembang.
Pandangan yang menyatakan bahwa konon katanya masyarakat merupakan individu-individu yang orientasi pola pikirnya mengarah pada konsep pendapatan dan kemenangan semata sehingga lupa dengan apa yang sebenarnya yang menjadi tujuan masyarakat seutuhnya (opini). Agar masyarakat bisa bekerja secara efektif dalam melaksanakan aktifitas kesehariannya, masing-masing individu membutuhkan suatu karakter spesifik yang berdarah daging karena memang individu tersebut tidak terlepas dengan apa yang ingin dilakukan.
Pembelajaran pada pendidikan matematika diharapkan untuk memikirkan berbagai karakter objek pendidikan yaitu karakter masyarakat, karakter sekolah, karakter pendidik/guru, dan karakter siswa sehingga proses pembelajaran yang berkarakter dengan berbagai macam karakter tersebut mampu dikomunikasikan dalam kelompok belajar yang efektif dan efisien. Kelompok belajar tersebut diarahkan pada karakter objek pembelajaran yaitu siswa, dalam penentuan kelompok tersebut dapat disebutkan berapa karakter siswa seperti kesenangan siswa, Status ekonomi orang tua siswa, Status keyakinan atau kepercayaan siswa dan budaya daerah tertentu sehingga dapat mengetahui model karakteristik siswa.
Sebelum belajar secara formal siswa sudah memiliki pengetahuan tentang berbagai topik pembelajaran yang secara formal diajarkan guru di sekolah. Karena itu jangan kaget jika mereka sudah memiliki jawaban berdasarkan apa yang mereka ketahui dari pengalaman berinteraksi dengan alam dan orang dewasa terhadap setiap peristiwa yang mereka lihat dan alami. Murid juga bersikap seperti ilmuwan dewasa dimana mereka selalu menguji pengetahuan mereka dan mengubahnya jika mereka merasa pengetahuannya sudah tidak mampu menjawab permasalahan yang mereka hadapi. Oleh karena itu jangan heran jika anak-anak selalu banyak bertanya jika mereka menemui sesuatu yang mereka tidak bisa menjawabnya. Sehingga dalam hal ini guru membutuhkan teori-teori belajar yang tepat yang digunakan di ruang kelas.
Secara efektif guru hendaknya memiliki sikap dan perasaan yang menunjang proses pembelajaran yang dilakukannya, baik terhadap orang lain khususnya terhadap anak didik guru hendaknya memiliki sikap dan sifat empati, ramah dan bersahabat. Dengan adanya sifat ini, siswa merasa dihargai, diakui keberadaannya sehingga semakin menumbuhkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran dapat memberikan hasil yang optimal.
Terhadap dirinya sendiripun guru hendaknya juga memiliki sikap positif sehingga pada akhirnya dapat membantu optimalisasi proses pembelajaran. Keadaan afektif yang bersumber dari diri guru sendiri yang menunjang proses pembelajaran antara lain konsep diri yang tinggi dan efikasi diri yang tinggi berkaitan dengan profesi guru yang digelutinya. Dalam proses belajar mengajar membutuhkan suatu penempatan pemahaman yang tepat dalam menyimak suatu materi yang akan disampaikan sehingga membutuhkan alat atau instrumen yang tepat dalam pemecahan masalahnya.
Belajar dalam situasi pembelajaran membutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam belajar khususnya materi-materi yang kompleks untuk diimplikasikan dalam kehidupan nyata. Penggunaan teori belajar yang salah akan mengakibatkan terjadinya hambatan dalam proses pembelajaran. Pada penerapan teori belajar di kelas membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap teori tersebut dan rasa senang untuk selalu menggunakan dan mengembangkannya secara tepat guna dengan kondisi kelas.

Selasa, 17 Agustus 2010

Komunikasi Pendidikan

Masyarakat merupakan subjek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang selama ini sebagai penggerak roda kehidupan yang ada di lingkungannya masing-masing. Dimana masyarakat tersebut sesungguhnya adalah kumpulan manusia yang memiliki keilmiahan dalam berpikir dan bercakap tentunya membutuhkan sesuatu yang bermakna dan berfungsi secara subjektif terhadap dirinya sendiri. Itulah pandangan mayoritas masyarakat umumnya.
Pandangan ini yang menyatakan bahwa konon katanya masyarakat merupakan individu-individu yang orientasi pola pikirnya mengarah pada konsep pendapatan dan kemenangan semata sehingga lupa dengan apa yang sebenarnya yang menjadi tujuan masyarakat seutuhnya (opini). Agar masyarakat bisa bekerja secara efektif dalam melaksanakan aktifitas kesehariannya, masing-masing individu membutuhkan suatu karakter spesifik yang berdarah daging karena memang individu tersebut tidak terlepas dengan apa yang ingin dilakukan.
Pembelajaran pada dunia pendidikan dianjurkan untuk memikirkan berbagai karakter objek pendidikan yaitu karakter masyarakat, karakter sekolah, karakter pendidik/guru, dan karakter siswa sehingga proses pembelajaran yang berkarakter dengan berbagai macam karakter tersebut mampu dikomunikasikan dalam kelompok belajar yang efektif dan efisien. Kelompok belajar tersebut diarahkan pada karakter objek pembelajaran yaitu siswa, dalam penentuan kelompok tersebut dapat disebutkan berapa karakter siswa seperti kesenangan siswa, Status ekonomi orang tua siswa, Status keyakinan atau kepercayaan siswa dan budaya daerah tertentu sehingga dapat kita mengetahui model karakteristik siswa.
Sebelum belajar secara formal siswa sudah memiliki pengetahuan tentang berbagai topik pembelajaran yang secara formal diajarkan guru di sekolah. Karena itu jangan kaget jika mereka sudah memiliki jawaban berdasarkan apa yang mereka ketahui dari pengalaman berinteraksi dengan alam dan orang dewasa terhadap setiap peristiwa yang mereka lihat dan alami. Murid juga bersikap seperti ilmuwan dewasa dimana mereka selalu menguji pengetahuan mereka dan mengubahnya jika mereka merasa pengetahuannya sudah tidak mampu menjawab permasalahan yang mereka hadapi. Oleh karena itu jangan heran jika anak-anak selalu banyak bertanya jika mereka menemui sesuatu yang mereka tidak bisa menjawabnya. Sehingga dalam hal ini guru membutuhkan teori-teori belajar yang tepat yang digunakan di ruang kelas.
Secara efektif guru hendaknya memiliki sikap dan perasaan yang menunjang proses pembelajaran yang dilakukannya, baik terhadap orang lain khususnya terhadap anak didik guru hendaknya memiliki sikap dan sifat empati, ramah dan bersahabat. Dengan adanya sifat ini, siswa merasa dihargai, diakui keberadaannya sehingga semakin menumbuhkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran dapat memberikan hasil yang optimal.
Terhadap dirinya sendiripun guru hendaknya juga memiliki sikap positif sehingga pada akhirnya dapat membantu optimalisasi proses pembelajaran. Keadaan afektif yang bersumber dari diri guru sendiri yang menunjang proses pembelajaran antara lain konsep diri yang tinggi dan efikasi diri yang tinggi berkaitan dengan profesi guru yang digelutinya. Dalam proses belajar mengajar membutuhkan suatu penempatan pemahaman yang tepat dalam menyimak suatu materi yang akan disampaikan sehingga membutuhkan alat atau instrumen yang tepat dalam pemecahan masalahnya.
Belajar dalam situasi pembelajaran membutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam belajar khususnya materi-materi yang kompleks untuk diimplikasikan dalam kehidupan nyata. Penggunaan teori belajar yang salah akan mengakibatkan terjadinya hambatan dalam proses pembelajaran. Pada penerapan teori belajar di kelas membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap teori tersebut dan rasa senang untuk selalu menggunakan dan mengembangkannya secara tepat guna dengan kondisi kelas.
Dalam situasi belajar tersebut tentunya membutuhkan saling ketergantungan, kerja sama yang kompetitif dan kreatifitas individual. Beranjak dari itu semua merupakan suatu yang menuntut guru untuk dapat memetakkan suatu model pembelajaran. Pembelajaran dengan berdasarkan pandangan subjektif karakteristik mengajar. Dengan melihat situasi dan kondisi siswa yang heterogen seperti kaya, miskin, agama, latar belakang keluarga, suku, bahasa, dan potensi siswa.
Berdasarkan asumsi ini yang sejenisnya, guru perlu mempunyai format melaksanakan kegiatan pembelajaran seperti (1). Guru memberikan informasi pembelajaran, (2). Guru menyampaikan dan menjelaskan informasi yang pasif tentang materi, (3). Guru mengelompokkan siswa dalam kelompok heterogen, dan (4). Guru memancing atau memotivasi siswa dalam kelompok yang menemukan sesuatu solusi terhadap suatu masalah.
Selain belajar menjadi efektif jika dilakukan dalam suasana yang santai dan melibatkan murid secara aktif. Guru tidak berperan sebagai figur yang memaksakan kehendaknya untuk dituruti murid tetapi lebih sebagai teman bermain serta teman yang memahami dan memotivasi mereka. Tidak hanya murid yang menikmati pembelajaran, tetapi gurupun akan mengalami bahwa mengajar itu menyenangkan. Gurupun akan dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan sunguh-sungguh karena dia menyenangi profesinya sebagai guru.
Dengan memandang bahwa belajar itu butuh proses dimana memotivasi setelah dimotivasi kemudian mendapat pemahaman dan penghargaan (penilaian), sehingga pesan-pesan dapat tersimpan dengan mempresentasikan kembali kepada penerima lalu terjadi suatu generalisasi informasi.
Persoalan yang berdasarkan evaluasi subjektif guru yang merujut pada karakter siswa diketahui, para pendidik dianjurkan untuk membentuk pola belajar dengan membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen. Dalam penentuan kelompok belajar perlu dilakukan presentase karakter yang sama sehingga dalam penerapannya di distribusikan kedalam kelompok yang heterogen. Kemudian kita dapat mendiskusikan langkah yang selanjutnya untuk membentuk karakter pembelajaran yang seutuhnya pada daerah tertentu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan langkah-langkah pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.Mengidentifikasi karakter siswa
2.Mendiskusikan karakter siswa
3.Tindakan pembelajaran
4.Mengevaluasi hasil pembelajaran
5.Merefleksi kemajuan individu siswa
6.Memperbaharui karakter siswa sesuai dengan perkembangan siswa
7.Tindak lanjut
Dari proses pembelajaran ini siswa dapat mengakses informasi, ide-ide, ketrampilan-ketrampilan, nilai-nilai, dan cara-cara berpikir serta mengemukakan pendapat merupakan tugas seorang guru. Namun tugas seorang guru yang paling penting adalah menentukan, membimbing para siswa tentang bagaimana belajar yang sesungguhnya dan belajar yang sesungguhnya dengan belajar memecahkan masalah sehingga hal-hal tersebut dapat digunakan di masa depan mereka. Karena itu tujuan jangka panjang pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan para siswa agar ketika mereka sudah meninggalkan bangku sekolah, akan mampu mengembangkan diri sendiri dan mampu memecahkan masalah yang muncul. Untuk itulah, di samping telah dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan yang sistematis, mereka sudah seharusnya dibekali juga dengan kemampuan untuk belajar mandiri dan belajar memecahkan masalah. Proses pembelajaran yang terjadi selama siswa duduk di bangku sekolah dengan sendirinya menjadi sangat menentukan keberhasilan mereka di masa yang akan datang..
Pembicaraan pendidikan tidak ada henti-hentinya dan tidak pernah ada ujungnya untuk dimaknai bersama. Perekrutan, proses pembelajaran dan hasil pembelajaran yang menjadi focus pikiran para peneliti yang menginginkan pendidikaan yang lebih baik. Penelitian merupakan sumber informasi yang akurat untuk dijadikan suatu arah masa depan daerah bukan dengan mengembangkan isu-isu kebijakan.

Minggu, 08 Agustus 2010

Judul Tesis Matematika

JUDUL TESIS PERTAMA
A. Judul Tesis
IMPLIKASI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN PENDEKATAN BELAJAR BERBASIS MASALAH TERHADAP DAYA SERAP DAN KETRAMPILAN BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Studi Eksperimen di SMA Negeri 2 Mataram)
B. Permasalahan dan Rasional Pemilihan Masalah
Pembelajaran matematika dapat dilihat melalui evaluasi pada akhir pembelajaran sehingga dapat dikembangkan perubahan yang terjadi pada siswa tersebut. Dengan merujut pada perubahan pada siswa, guru dituntut untuk memiliki metode mengajar yang tepat dan bervariasi dalam proses pembelajaran matematika. Persoalan belajar sangat bervariasi objek permasalahannya baik secara intern maupun secara eksternal, permasalahan tersebut membutuhkan solusi dari berbagai pihak baik guru maupun pihak instansi terkait serta pihak-pihak pemerhati pendidikan sehingga siswa mampu menyelesaikan persoalan baik secara individu maupun secara kelompok. Salah satu contoh persoalan yang nampak misalnya siswa kurang memahami materi pembelajaran baik itu pemahaman konsep maupun dalam menyelesaikan soal-soal khususnya soal-soal matematika.
Pembelajaran matematika di sekolah cukup memungkinkan siswa untuk berperan aktif dalam memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari sehingga membutuhkan suatu konsep matematika yang secara sistematis, salah satunya siswa dituntut untuk memahami kondisi yang konkrit dikaitkan dengan kehidupan nyata. Pengembangan penguasaan konsep matematika sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengembangkan keterampilan berarti proses pembelajaran lebih difokuskan pada keterampilan intelektual dari pada materi pembelajaran.
C. Metode
Penelitian Eksperimen
D. Dosen Pembimbing


JUDUL TESIS KEDUA
A. Judul Tesis
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN OPEN-ENDED TERHADAP KETRAMPILAN, MOTIVASI DAN PEMECAHAN MASALAH PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Studi Eksperimen di SMP Negeri 7 Mataram)
B. Permasalahan dan Rasional Pemilihan Masalah
Proses pembelajaran itu sendiri sebagai suatu faktor internal yang amat menentukan kualitas pendidikan. Salah satu aspek yang penting dalam mengembangkan pribadi individu adalah pengembangan sikap belajar untuk mewujudkan pribadi yang tidak saja menguasai pengetahuan dan keterampilan dalam alih ilmu dan teknologi yang begitu cepat terjadi, tetapi juga dapat mengembangkan dirinya sesuai dengan potensi bakat dan minatnya menjadi pribadi yang kreatif dan berintegritas tinggi yang terus menerus dapat mengelola dirinya dalam perubahan yang cepat terjadi dalam masyarakat, terlebih pada displin ilmu matematika.
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang pendidikan dasar, selain sebagai sumber dari ilmu yang lain juga merupakan sarana berpikir logis, analis, dan sistematis. Sebagai mata pelajaran yang berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak, maka dalam penyajian materi pelajaran, matematika harus dapat disajikan lebih menarik dan sesuai dengan kondisi dan keadaan siswa. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar dalam proses pembelajaran siswa lebih aktif dan termotivasi untuk belajar. Untuk itulah perlu adanya pendekatan khusus yang diterapkan oleh guru.
Selama ini rendahnya hasil belajar matematika siswa lebih banyak disebabkan karena pendekatan, metode, atau pun strategi tertentu yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran masih bersifat tradisional, dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Akibatnya kreatifitas dan kemampuan berpikir matematika siswa tidak dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itulah guru perlu memilih cara mengajar atau pendekatan yang dapat membantu mengembangkan pola pikir matematika siswa.
Paradigma baru pendidikan lebih menekankan pada peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Kebenaran ilmu tidak terbatas pada apa yang disampaikan oleh guru. Guru harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktriner, tetapi menjadi fasilitator yang membimbing siswa ke arah pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri. Melalui paradigma baru tersebut diharapkan di kelas siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani menyampaikan gagasan dan menerima gagasan dari orang lain, kreatif dalam mencari solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
C. Metode
Penelitian Eksperimen
D. Dosen Pembimbing

JUDUL TESIS KETIGA
A. Judul Tesis
PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN PEMBELAJARAN KOOPERATIFE TIPE JIGSAW TERHADAP MOTIVASI, KETRAMPILAN DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP (Studi Eksperimen di SMP Negeri Mataram)
B. Permasalahan dan Rasional Pemilihan Masalah
Prestasi belajar siswa merupakan salah satu konsentrasi dalam kegiatan pembelajaran, dalam upaya meningkatkannya guru selalu menemui berbagai macam permasalahan yang cukup kompleks, salah satunya kejenuhan siswa dalam belajar matematika. Mengatasi kejenuhan siswa belajar matematika membutuhkan adanya kreatifitas guru dalam menciptakan metode pembelajaran yang menyenangkan sesuai dengan karakteristik materi pelajaran. Lemahnya minat siswa belajar matematika karena siswa menganggap matematika merupakan pelajaran yang sulit dan membosankan. Untuk itu, perlu ada inovasi proses pembelajaran disesuaikan dengan metode pembelajaran yang ada. Proses pembelajaran perlu diterapkan dengan berbagai macam metode sehingga mampu membekali ketrampilan belajar untuk dapat mencapai kompetensi yang diharapkan, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana karakteristik pembelajaran kontekstual dan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, untuk itu perlunya kita mengetahui apakah ada perbedaan pengaruh antara penerapan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan metode konvensional terhadap keaktifan siswa, serta mampu mencapai ketuntasan belajar siswa.
C. Metode
Penelitian Eksperimen
D. Dosen Pembimbing


1 Pengembangan Kemampuan Pemahaman, Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika siswa SMA melalui Pembelajaran dengan Transactional Reading Strategy 1. Kemampuan dasar matematika yang harus dimiliki siswa adalah: (1) memahami dan menerapkan konsep, prosedur, prinsip, teorema, dan idea matematika, (2) menyelesaikan masalah matematik, (3) bernalar matematik, (4) melakukan koneksi matematik, (5) komunikasi matematik.

2. Siswa sering melakukan miskonsepsi pada penyelesaian masalah matematika, hal ini disebabkan karena salah membaca atau memaknai teks matematika. Salah satu alasan mengapa sulit membaca teks matematika adalah bahwa teks mengharuskan siswa untuk mengingat kembali atau menemukan semua informasi, definisi, teorema atau notasi berhubungan dengan konsep yang sedang dibaca.
3. Siswa akan memperoleh komprehensi matematika dengan lebih baik ketika mereka mampu membaca, menulis, dan memahami bahasa matematik. Ketidakmampuan membaca matematika menjadi salah satu penyebab kesulitan siswa memecahkan persoalan-persoalan matematika.
4. Salah satu stategi dalam memahami teks matematika adalah dengan Transactional Reading Strategy.
Bentuk Penelitian : Eksperimen.
Subyek Penelitian:
Siswa kelas XI IPA SMA Stella Duce 1 atau SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

2 Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Bilangan Bulat Siswa SD Kelas V melalui berbagai jenis permainan 1. Siswa akan belajar jika mendapat motivasi. Motivasi bisa berasal dari diri siswa atau melalui rangsangan dari luar, misalnya melalui sebuah permainan. Persolannya bagaimana agar siswa termotivasi untuk belajar, bukan karena tuntutan orang tua dan guru.

2. Materi bilangan bulat, termasuk operasi hitung dan penggunaannya dalam pemecahan masalah seperti menentukan akar sederhana, menetukan KPK dan FPB, merupakan materi aljabar dasar yang harus dikuasai siswa sehingga dalam konsep atau topik berikutnya tidak ada kesulitan
3. Banyak jenis permainan yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam penguasaan kompetensi Bilangan Bulat, seperti Ular Tangga, Monopoli, Model kartu remi, model kartu domino ,dll)
Bentuk Penelitian : Eksperimen.
Subyek Penelitian:
Siswa kelas V SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta.

3 Peningkatan Kemampuan Matematis Siswa dengan Perbedaan Prestasi melalui Lembar Kerja Siswa 1. Setiap siswa mempunyai keunikan sendiri dalam belajar matematika dan masing-masing mempunyai prestasi matematika yang berbeda.

2. Agar semua siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya tanpa terganggu dengan pembelajaran klasikal maka siswa perlu mendapat porsi yang berbeda dalam belajar matematika sesuai kemampuan akademik masing-masing.

3. Salah satunya bisa diberikan lembar kerja siswa (LKS) yang berbeda pada beberapa kelompok siswa. Siswa yang mempunyai kemampuan matematis lebih diberikan LKS yang berbeda dengan siswa dengan kemampuan matematis kurang.
Bentuk Penelitian : Eksperimen.
Subyek Penelitian:
Siswa kelas VII SMP Stella Duce 1 Yogyakarta.

HADIR PENULIS MUDA

Berangkat dari keluarga yang tidak mampu, merantau di negeri orang untuk menuntut ilmu, suka maupun duka telah dilewati dan masih dilalui sampai hari ini. Sejak usia 4 tahun beliau sudah bekerja selayaknya seorang petani atau buruh tani orang dewasa, namun beliau cukup kuat menahan hidup demi kesejahteraan keluarga. Disamping sebagai buruh tani beliau juga pernah berjualan pisang goreng di sebuah sekolah yang berjarak sekitar 3km dari rumahnya dengan berjalan kaki. Akan tetapi kata beliau, itu adalah proses kehidupan. Beliau anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan harmonis Muhamad Sidik dan Rugayah.Pemuda usia 24 tahun silam ini meniti karir sebagai seorang dosen pendidikan matematika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) IKIP Mataram sejak tahun 2007 sampai sekarang. Saat ini beliau sedang melanjutkan studi Pascasarjana (S2) di Universitas Negeri Yogyakarta pada program studi pendidikan matematika.
Syahrir; kelahiran 1 Desember 1985 di Dusun Rasa Bou, Desa Nunggi Kecamatan Wera Kabupaten Bima, Sekolah Dasar di SD No. 3 (Sancara) Nunggi, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 (Tawali) Wera dan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri (Tawali) Wera tamat tahun 2003. Dalam perhelatan kehidupan semakin modern, berbagai macam masalah (problem) yang dihadapi di usia remaja salah satunya adalah masalah ekonomi, untuk menutupi masalah tersebut beliau berusaha hidup ditengah-tengah kehidupan pasar selama 6 tahun sejak kelas satu SMP hingga tamat SMA. Dengan ketabahan dan ketekunan dalam menghadapi kehidupan, saya diijinkan oleh kedua orang tua (Muhamad Sidik & Rugayah) dan bibiku (Hj. Anuriah) untuk melanjutkan studi strata satu (S1) di IKIP Mataram pada Juli 2003, dengan perjuangan dan ketekunan selama 3½ tahun (42 bulan) mampu diselesaikan pada bulan April tahun 2007.
Pada September 2007, diterima sebagai dosen tetap yayasan di IKIP Mataram untuk mengajar mata kuliah Kalkulus dan mata kuliah dasar matematika lainnya. Selama dua tahun penulis mengajar di IKIP, di sekolah menengah pertama dan menengah penulis mengajar pada mata pelajaran matematika. Pada Februari 2009 saya mencoba ikut tes kuliah lanjutan di Universitas Negeri Yogyakarta dan diberikan kesempatan untuk melanjutkan (sekarang masih masa Studi S2).
Pengalaman organisasi kemahasiswaan sejak tahun 2003 hingga tamat kuliah, yang pertama kali dijejaki adalah organisasi baguyuban yaitu IRNAMA (Ikatan Remaja Nunggi Wera Mataram) sebagai ketua umum periode 2004-2006 dan HPMW (Himpunan Mahasiswa Wera Mataram) sebagai anggota selama menjadi mahasiswa. Kemudian organisasi internal kemahasiswaan IKIP Mataram yaitu Mahapala Handayani IKIP Mataram, Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika FPMIPA IKIP Mataram, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FPMIPA dan Institut di IKIP Mataram serta organisasi eksternal kemahasiswaan yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat FPMIPA IKIP Mataram dan lain-lain.
Dunia pendidikan terus berkembang, penulis muda ini hadir untuk membuka kualitas pendidikan khususnya pendidikan matematika. Beliau berharap pendidikan matematika di NTB dapat berkembangan pesat dengan jalan jujur dan ikhlas dalam mengembangkannya. Dengan buku “Strategi Pembelajaran Matematika” itu, para guru NTB dapat membuka diri supaya NTB menjadi provinsi yang memiliki guru teladan di negeri tercinta ini yaitu Indonesia.Buku itu adalah buku perdana yang beliau tulis di tingkat Nasional. Bagi yang berminat untuk menjadi pemerhati pendidikan, guru, dan mahasiswa teladan beranjaklah dari keterpurukan untuk membaca buku karya Syahrir.
Teman-teman, sahabat mari kita melihat ke belakang untuk memopong NTB. Dengan kisah beliau ini sebagai awal kita untuk memulai sesuatu demi kebaikan dunia dan akhirat.

Kontak person:
081328591216/gmail:Syahrir.WawoMandala@gmail.com.