Selasa, 28 Desember 2010

Anjuran penulisan instrumen tes

g.Menelaah soal tes
Telaah soal tes perlu dilakukan untuk memperbaiki soal jika ternyata dalam pembuatannya masih ditemukan kekurangan atau kesalahan. Telaah soal sebaiknya dilakukan oleh orang lain, bukan si pembuat soal. Akan lebih baik jika telaah dilakukan oleh sejumlah orang yang terdiri dari para ahli yang secara bersama dalam tim menelaah dan atau mengoreksi soal. Tabel Penyesuaian Antara Anjuran dan Butir Soal adalah
No Anjuran Pilihan Ganda
1.Pokok permasalahan harus berada pada bagian pertanyaan
2.Kurangi pengulangan kata pada pilihan jawaban
3.Bila digunakan bentuk pernyataan yang tidak lengkap, maka kelengkapannya harus ada pada pilihan jawaban
4.Urutkan pilihan jawaban sesederhana mungkin.
5.Hindari pengacau jawaban yang sangat tekhnis
6.Semua pilihan jawaban harus masuk akal dan homogen
7.Hindari membuat jawaban yang benar lebih panjang daripada pengacau jawaban
8.Hindari memberikan petunjuk yang tidak relevan terhadap jawaban yang benar
9.Pertimbangkan untuk mencantumkan pilihan jawaban “saya tidak mengetahui jawabannya”
10.Hanya terdapat satu jawaban yang benar atau yang paling benar pada setiap soal
11.Hindari penggunaan pilihan jawaban “ semua tersebut diatas”.
12.Gunakan pilihan jawaban “ tidak tersebut diatas” seminimal mungkin
13.Gunakan empat atau lima pilihan jawaban
14.Hindari pilihan jawaban yang saling melengkapi
15.Untuk mengukur proses mental tingkat tinggi, buatlah bentuk soal berupa pertanyaan cerita.
16.Gunakan format soal yang dapat mengukur sasaran pengujian secara tepat dan efisien
No.Anjuran Essay
1.Tanyakan pertanyaan atau bentuk soal yang menganjurkan siswa untuk dapat menunjukkan intisari pengetahuan siswa
2.Tanyakan pertanyaan yang jelas, dalam arti menurut ahli jawaban tersebut lebih baik daripada jawaban lain
3.Sajikan soal ujian secara lengkap dan sejelas mungkin tanpa bertentangan dengan tujuan penilaian.
4.Secara umum, berikan pengantar utuk pertanyaan yang lebih spesifik, sehingga dapat dijawab secara singkat
5.Hindari pemberian soal pilihan yang tidak berguna
6.Buat pertanyaan yang bagus sehingga jawaban akan sesuai dengan yang diharapakan

Kamis, 23 Desember 2010

Pembelajaran Matematika

Menurut Robbins & Timothy (2009: 88), learning is our definition has several components that deserve clarification. Fisrt, learning involves change. Change may be good or bad from an organizational poinf of view, second the change must become ingrained. Belajar dapat diklarifikasikan dua komponen adalah (1) belajar melibatkan perubahan yaitu perubahan dapat baik atau buruk dari sudut pandang pengelompokan, (2) perubahan yang datang dari dalam dirinya sendiri.
Belajar tidak selalu sebagai hasil pembelajaran, pembelajaran sebagai salah satu proses untuk melihat keberhasilan siswa dalam belajar. Individu belajar harus memiliki konsep yang paling penting untuk meningkatkan keterampilan yang menekankan mereka bisa berkonsentrasi pada kualitas pemahaman dan bukan pada kuantitas informasi yang disajikan. Dalam hal ini, Slameto (2010: 2) menjelaskan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Duffy & McDonald (2010: 28), Learning is a complex activity that can be explained differently depending on one’s perspective on how and why people do what they do. Belajar adalah sebuah aktivitas yang kompleks yang dapat dijelaskan secara berbeda tergantung perspektif seseorang tentang bagaimana dan mengapa berbuat apa yang mereka lakukan.
Proses pembelajaran bagi setiap siswa untuk mengembangkan pribadinya dengan tujuan meningkatkan pengetahuan keterampilan, kebiasaan, kegemasan, dan sikapnya sehingga terjadi perubahan tingkah laku dalam dirinya. Pembelajaran merupakan proses komunikatif-interaktif guru, siswa, dan sumber belajar yaitu saling bertukar informasi. Tiga komponen ini merupakan satu kesatuan sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, sebagai tujuan tercapainya ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Nitko (2007: 18) menyatakan bahwa: “Instruction is the process you use to provide students with the conditions that help them achieve the learning targets”. Pembelajaran adalah suatu proses yang dapat memberikan kondisi siswa dalam membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Beberapa tujuan pembelajaran adalah kognitif terdiri dari pengetahuan intelektual dan keterampilan berpikir, afektif diartikan bahwa perasaan siswa atau nilai yang dirasakan siswa, dan psikomotor terdiri dari kendaraan keterampilan dan tanggapan fisik.
Pembelajaran sebagai tujuan tercapainya ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Duffy dan McDonald (2010: 55) menjelaskan bahwa “Intructional planning is required at every level of education from kindergarten through college level. many tools and templates have been developed to help teachers plan”. Perencanaan pembelajaran diperlukan pada setiap tingkat pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai tingkat perguruan tinggi. berbagai perangkat dan tujuan telah dikembangkan untuk membantu guru merencanakan pembelajaran.
Guru dalam merencanakan pembelajaran perlu adanya suatu pemaknaan terhadap belajar. Belajar memiliki makna untuk memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Belajar memerlukan proses belajar yang didesain secara cermat untuk menimbulkan pembelajaran yang bagus. Brown (2000: 7) menjelaskan tentang pembelajaran bahwa:
Teaching cannot be defined a fort from learning. Teaching is guiding and facilitating learning, enabling the lear to learn, setting the conditions for learning. Your understanding of how the learner lears will determine your philosophy of education, your teaching style, your approach, methods, and classroom technigues.

Pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari proses belajar mengajar, pemahaman terhadap bagaimana siswa belajar untuk menentukan filsafat pendidikan yang dipakai, gaya mengajar, pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran sebagai sebuah proses yang bertujuan membantu seseorang untuk belajar, bagaimana melakukan sesuatu, memberikan interaksi, memberikan hubungan dalam mempelajari sesuatu, memberikan ilmu pengetahuan, dan memberikan pemahaman kepada siswa.
Borich (2007: 226) menjelaskan tentang keefektifan pembelajaran yaitu sebagai berikut:
Rosenshine and Stevens have equated this type of instruction with that of an effective demonstration in which the following occurs:
1.You clearly present goal and main pint.
a.State goal or objectives of the presentation beforehand
b.Focus on one thought (pint, direction) at a time
c.Avoid digressions.
d.Avoid ambiguous phrases and pronouns.
2.You present content sequentially.
a.Present material in small steps
b.Organizer and present material so learner master one point before you go to the next point
c.Give explicit, step by step directions.
d.Present and outline when the material is complex
3.You are specific and concrete
a.Model the skills or process (when appropriate )
b.Give detailed and redundant explanations for difficult points
c.Provide students with concrete and varied examples.

Dapat dijelaskan Rosenshine menyamakan bentuk-bentuk pembelajaran dengan menunjukkan sebuah keefektifan seperti yang dilakukan di bawah ini:
1.Pencapain/keberhasilan bagian dari yang utama seperti, tujuan pernyataan yang dipersentasikan sebelumnya, tertuju pada satu gagasan yang dipikirkan pada saat itu, mengabaikan penyimpangan, kata-kata yang ambiguitas dan kata ganti.
2.Memberikan contoh seperti, menjelaskan materi dengan langkah-langkah yang baik, jelas, langsung, dan memberikan pokok bahasan/garis besar ketika materinya lebih.
3.Menjelaskan secara spesifik dan jelas seperti, keahlian memperagakan (ketika menyesuaikan), menjelaskan dengan lebih detail pada permasalahan yang sulit, membagi siswa dengan mengkonsentrasikan, dan memberikan contoh yang beragam.
Untuk mencapai tujuan-tujuan yang ada, maka pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari metode dalam pengajaran, sebagai suatu komponen menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Ini adalah suatu kenyataan yang harus diakui oleh semua yang terlibat dalam pendidikan. Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dan strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan. Rina Zazkis (Roza Leikin & Rina Zazkin, 2010: 91) menjelaskan bahwa :
Successful experiences become parts of our instructional repertoire and after years it is impossible to determine how a specific mathematical issue or a specific pedagogical strategy was acquired. We learn to anticipate students’ questions, their difficulties and their errors, and then teaching, or navigating learning, resembles a walk on a familiar trail, where sharp turns or other obstacles are either anticipated or avoided.

Pengalaman sukses menjadi bagian dari pembelajaran kami
repertoar dan setelah bertahun-tahun adalah mustahil untuk menentukan bagaimana sebuah masalah khusus matematika atau strategi pedagogis tertentu diperoleh. Kita belajar untuk mengantisipasi pertanyaan siswa, kesulitan dan kesalahan siswa, dan kemudian mengajar, atau menavigasi belajar, menyerupai berjalan di jalur biasa, di mana tajam berubah atau hambatan lain yang baik diantisipasi atau dihindari.
Proses pembelajaran di kelas merupakan sarana untuk membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana untuk belajar. Secara implisit dalam mengajar terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Menurut Dessey (Douglas, 1992: 46) menyatakan :
Mathematics educator need to focus on the nature of mathematics in the development of research, curriculum, teacher training, instruction, and assesment as they strive to understand its impact on the learning and teaching of mathematics.

Pendidik Matematika perlu fokus menyelidiki berupa perkembangan matematika tentang kurikulum, pembinaan pendidik, pengajaran, dan penilaian untuk mengetahui dampaknya pada pembelajaran matematika. Dalam hal ini, guru perlu adanya memahami dan mengaplikasikan kurikulum, pengajaran, dan penilaian dalam pembelajaran matematika sehingga mampu mendeteksi kesulitan belajar dan mengajar matematika.
Chambers (2008: 9) menyatakan bahwa : “mathematics is the study of patterns abstracted from the world around us-so anything we learn in maths has literally thousands of applications, in arts, sciences, finance, health and leisure”. matematika adalah studi tentang pola diabstraksikan dari dunia di sekitar kita, segala sesuatu yang kita pelajari di matematika memiliki ribuan aplikasi, dalam seni, ilmu, keuangan, kesehatan dan rekreasi.
Menangani kompleksitas dan menggabungkan pendekatan yang berbeda dengan klasifikasi pengetahuan, Leikin mengidentifikasi tiga dimensi pengetahuan guru (Leikin & Zazkin, 2010: 8) menjelaskan bahwa identified the following three dimensions of teachers’ knowledge: dimension 1, kinds of teachers’ knowledge; dimension 2, sources of teachers’ knowledge; dimension 3, forms of knowledge. Tiga dimensi pengetahuan guru adalah 1). Jenis pengetahuan guru, 2). Sumber-sumber pengetahuan guru, 3). Bentuk pengetahuan guru.
Sebagai perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan, perlu adanya suatu tahapan yang dilalui oleh guru dan siswa. Seperti yang dijelaskan oleh Cowan (2006: 2) bahwa:
In every lesson and for every series of lessons comprising a topic, a teacher goes through a sequence of steps to ensure that all the criteria outlined in the Unit of Work are met and that there is continuity and progression within and between lessons. These steps are:1). Planning and preparing the lesson(s); 2)Presenting the lesson, taking account of classroom management issues; 3).Assessing the pupils to determine the effectiveness of the lesson; 4). Reviewing and evaluating the lesson(s).

Dalam setiap pelajaran dan untuk setiap rangkaian pelajaran yang terdiri dari topik, guru berjalan melalui urutan langkah-langkah untuk memastikan bahwa semua kriteria yang digariskan dalam unit kerja terpenuhi dan bahwa ada kesinambungan dan kemajuan di antara pelajaran. Langkah-langkahnya adalah: 1). Merencanakan dan menyiapkan pelajaran (s); 2). Penyajian pelajaran, dengan mempertimbangkan isu-isu pengelolaan kelas; 3). Menilai siswa untuk menentukan efektivitas pelajaran; 4). Meninjau dan mengevaluasi pelajaran (s).

Dari beberapa teori tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya, yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk memberi peluang kepada siswa untuk membangun pengetahuan matematika mereka melalui pengalaman yang bermakna.

Selasa, 09 November 2010

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas/Semester : XII/1 (satu)
Pertemuan : 1 (satu)
Alokasi waktu : 2 x 45 menit
I.Standar kompetensi :
Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah
II.Kompetensi dasar :
Memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu
III.Materi Pokok :
Integral
IV.Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan : Pembelajaran kooperatife tipe Jigsaw
Metode : Diskusi kelompok
V.Indikator pencapaian kompetensi:
1.Menguraikan rumus integral
2.Menghitung integral
VI.Tujuan Pembelajaran
1.Siswa dapat menguraikan rumus integral
2.Siswa dapat menghitung integral
VII.Materi ajar
Terlampir
VIII.Skenario Pembelajaran
Pendahuluan (15 menit)
1. Memberikan soal-soal turunan fungsi
2. Bersama-sama menyelesaikan latihan soal turunan fungsi
3. Membagi siswa dalam kelompok heterogen
Kegiatan Inti (60 menit)
1. Menuliskan rumus dasar integral di papan tulis
2. Memberikan topik kepada masing-masing kelompok
3. Meminta siswa untuk berkumpul berdasarkan nomor yang telah ditentukan artinya yang memiliki nomor 1 berkumpul pada satu kelompok, dan seterusnya.
4. Memberikan soal quis kepada seluruh kelompok masing-masing empat soal.
5. Meluruskan jawaban siswa jika terdapat kekeliruan.
6. Memberikan soal quis untuk diselesaikan secara individu.
Penutup (15 menit)
1. Siswa menyimak serta ikut serta merangkum materi pelajaran dengan ditegaskan oleh guru.
2. Memberikan latihan soal, apabila tidak cukup waktu dijadikan tugas rumah (PR)
3. Mengingatkan siswa untuk pertemuan selanjutnya tetap pada kelompok semula
IX.Sumber Belajar
Buku matematika 3 kelas XII program IPS dan bahasa.
X.Penilaian
Jenis penilaian : bertanya, dan tes tertulis

Yogyakarta, 1 November 2010
Guru mata pelajaran


Syahrir, S.Pd.
NIP.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas/Semester : XII/1 (satu)
Pertemuan : 1 (satu)
Alokasi waktu : 2 x 45 menit
I.Standar kompetensi :
Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah
II.Kompetensi dasar :
Memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu
III.Materi Pokok :
Integral
IV.Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan : Pembelajaran kooperatife tipe Jigsaw
Metode : Diskusi kelompok
V.Indikator pencapaian kompetensi:
1.Menguraikan rumus integral
2.Menghitung integral
VI.Tujuan Pembelajaran
1.Siswa dapat menguraikan rumus integral
2.Siswa dapat menghitung integral
VII.Materi ajar
Terlampir
VIII.Skenario Pembelajaran
Pendahuluan (15 menit)
1. Memberikan soal-soal turunan fungsi
2. Bersama-sama menyelesaikan latihan soal turunan fungsi
3. Membagi siswa dalam kelompok heterogen
Kegiatan Inti (60 menit)
1. Menuliskan rumus dasar integral di papan tulis
2. Memberikan topik kepada masing-masing kelompok
3. Meminta siswa untuk berkumpul berdasarkan nomor yang telah ditentukan artinya yang memiliki nomor 1 berkumpul pada satu kelompok, dan seterusnya.
4. Memberikan soal quis kepada seluruh kelompok masing-masing empat soal.
5. Meluruskan jawaban siswa jika terdapat kekeliruan.
6. Memberikan soal quis untuk diselesaikan secara individu.
Penutup (15 menit)
1. Siswa menyimak serta ikut serta merangkum materi pelajaran dengan ditegaskan oleh guru.
2. Memberikan latihan soal, apabila tidak cukup waktu dijadikan tugas rumah (PR)
3. Mengingatkan siswa untuk pertemuan selanjutnya tetap pada kelompok semula
IX. Sumber Belajar
Buku matematika 3 kelas XII program IPS dan bahasa.
X. Penilaian
Jenis penilaian : bertanya, dan tes tertulis

Yogyakarta, 1 November 2010
Guru mata pelajaran


Marsiyam, S.Pd.Si
NIP.

Objek Wisata Alam Wera

ass. wr. wb.
bagi saudara-saudara yang berasal dari kecamatan wera kab. bima (daerah lain juga bisa asal relevan). kami segenap pengurus F2M mengharapkan kiriman dari saudara-saudara tentang objek-objek wisata alam di kecamatan wera.
formatnya
1. Pendahuluan (karakter masyarakt stempat)
2. Etnografi (kecuali karakter masy...arakt stempat)
3. Model pengembangan
atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
kirim nmor HP saudara jika suatu waktu lolos dalam ferivikasi kami.

panitia pelaksana Radu, 12 September 2010
Ketua Panitia Sekretaris

Syahrir Abdul Sakban

Objek Wisata Alam Wera

ass. wr. wb.
bagi saudara-saudara yang berasal dari kecamatan wera kab. bima (daerah lain juga bisa asal relevan). kami segenap pengurus F2M mengharapkan kiriman dari saudara-saudara tentang objek-objek wisata alam di kecamatan wera.
formatnya
1. Pendahuluan (karakter masyarakt stempat)
2. Etnografi (kecuali karakter masy...arakt stempat)
3. Model pengembangan
atas partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
kirim nmor HP saudara jika suatu waktu lolos dalam ferivikasi kami.

panitia pelaksana Radu, 12 September 2010
Ketua Panitia Sekretaris

Syahrir Abdul Sakban

Kamis, 14 Oktober 2010

Tuntutan bersekolah

pendidikan di indonesia, semakin canggih teknologinya, kita kira semakin bagus proses pembelajarannya. eeee malah makin menurun perkembangan konsep regenerasi. salah satu contoh saja dalam pembelajaran matematika. sebenarnya di jenjang sekolah dasar (SD) kita sudah bisa menghafal dan memahami teorema-teorema garis dan sudut. eeeeeeeee malah di perguruan tinggi pun masih kita belajar dengan mengejak-ngejak. pertanyaannya: siapa yang kita salahkan? ada apa dibalik ini semua? mungkinkah ini harus berlanjut?
saya tidak mengerti kenapa seperti ini. katanya metode pembelajaran yang konvensional itu tidak cukup baik, eeeeeeeeeeee....... kita lihat outputnya.........
Pak Habibi aja pake metode konvensional
pak Soeharto juga pake metode konvensional
beliau-beliau sudah pernah jadi presiden
?????????????????????????
??????????????
apakah karena kita dijajah terlalu lama sehingga kita egonya tinggi? ataukah kita keburu tahu tentang teknologi?


Hanya tuhan yang tahu.........??????

pertanyaan saya yang perlu kita jawab bersama adalah
apakah kita di indonesia ini wajib belajar atau wajib bersekolah...?

Minggu, 05 September 2010

Buku Tulisan Syahrir, S.Pd

Ass. Wr. Wb.
Saudara-saudara yang sehati dengan dunia pendidikan dan pendidikan matematika. jika anda melihat blog ini dan ingin belajar tentang pendidikan dan pendidikan matematika, silakan hubungi Syahrir (081328591216). buku tersebut dengan harga yang murah meriah seharga Rp. 60.000. terima kasih jika sudah menhubungi.

CINTA

Cakap, Inisiatif, Naratif, Terintergrasi, Agresif



Cakap adalah mampu menunjukkan sesuatu yang karismatik di hadapan umatmu



Inisiatif adalah menciptakan suasana yang menyenangkan dan memukau



Naratif adalah cerita-cerita indah yang dikenang selama bersama-NYA



Terintegrasi adalah sesuatu yang tidak pernah hilang tali silaturrahmi antara yang satu dengan lainnya selama hidupmu.



Agresif adalah memenuhi segala sesuatu yang membangun komunikasi.



Karya@ Syahrir '08

Selasa, 24 Agustus 2010

PENILAIAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

A. Pengertian Penilaian
Dalam mengembangkan penilaian pembelajaran matematika perlu adanya secara umumnya memahami beberapa pengertian berdasarkan peraturan pemerintah (Permen) nomor 20 tahun 2007 menjelaskan beberapa pengertian dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
2. Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.
3. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
4. Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.
5. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8–9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh kompetensi dasar pada periode tersebut.
6. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua kompetensi dasar pada semester tersebut.
7. Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan kompetensi dasar pada semester tersebut.
8. Ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan.
9. Mata pelajaran yang diujikan adalah mata pelajaran kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan dalam ujian nasional dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian yang akan diatur dalam POS Ujian Sekolah/Madrasah.
Menurut Djemari Mardapi (2004: 16) menjelaskan bahwa sistem penilaian merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Ditambahkan selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar lebih baik. Masnur Mukhlis (2008: 78) menyatakan penilaian adalah proses sistematis pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis dan interpretasi informasi untuk memberikan keputusan terhadap kadar hasil kerja.
Keberhasilan merupakan harapan setiap orang, demikian juga guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Keberhasilan tersebut dapat diketahui dengan melakukan penilaian atau evaluasi. Penilaian merupakan salah satu subsistem pendidikan yang penting dalam sistem pendidikan karena mencerminkan perkembangan atau kemajuan pendidikan dari satu ke waktu lain. Selain itu, melalui penilaian dapat dibandingkan dengan tingkat pencapaian prestasi pendididkan antara satu sekolah dengan sekolah yang lain.
Penilaian merupakan rangakaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Pada dasarnya, yang dinilai adalah program, yaitu yang sudah direncanakan sebelumnya, lengkap dengan rincian kegiatan.
Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diharapkan diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakan. Hasil belajar seorang peserta dalam periode tertentu dibandingkan dengan hasil yang dimiliki tersebut sebelumnya dan tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan yang lainnya. Dengan demikian siswa tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai kompetensi atau indikator yang diharapkan.
Mengenai proses penilaian Chittenden (Djemari Mardapi 2008: 17) menjelaskan bahwa kegiatan penilaian itu dalam proses pembelajaran diarahkan pada empat hal yaitu, (1) penelusuran, (2) pengecekan, (3) pencarian, dan (4) penyimpulan. Dalam Permen Diknas Nomor 20 tentang Standar Penilaian Pendidikan (2007: 8-9) disebutkan teknik penilaian adalah (1) penilian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok dan bentuk lainnya yang sesuai dengan karaktristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik, (2) teknik tes berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau kinerja, (3) teknik observasi atau pengamatan dilakkukan selama pemebelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran, (4) teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek (5) instrument penilaian hasil belajar yang digunakan memenuhi persyaratan, (6) instrument penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan, dan (7) sesuai dengan instrumen yang digunakan oleh pemerintah.
Dengan penilaian dapat dijadikan suatu pelajaran yang berarti bagi setiap yang terlibat pada suatu jenjang pendidikan, baik guru, siswa, orang tua, dan instansi guna dapat menentukan langkah terbaik untuk masa selanjutnya. Sehubungan dengan penelitian penilaian yang dimaksud adalah penilaian terhadap hasil tulisan siswa yang disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada mata pelajaran Matematika.
B. Manfaat Penilaian
Fungsi penilaian ada dua yaitu (1) mengukur prestasi siswa dan mengkontribusikannya kepada evaluasi kemajuan pendidikan dan tingkat pencapaian, (2) memotivasi dan mengarahkan pembelajaran siswa (Ebbel ,1979 : 22). Permen Diknas Nomor 41 tentang Standar Proses (2007:18) dinyatakan penilaian dilakukan oleh guru terhadap pembelajaran untuk mengukur tingakat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemampuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
Manfaat suatu penilaian dapat dijadikan sebagai suatu acuan untuk berbuat yang lebih pada masa yang akan datang, demikaian penilaian yang dilakukan dalam penilaian menulis pada mata pelajaran Matematika dapat memberikan manfaat bagi semua yang terlibat dalam pendidikan, seperti guru, siswa, dan orang tua dari siswa. Informasi tentang tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tidak hanya diperlukan oleh guru. Semua pihak yang terlibat dalam dalam pengolahan pendidikan, baik pemerintah, lembaga masyarakat atau yayasan, orang tua, maupun siswa sangat memerlukan inforamasi tentang tingkat keberhasilan serta tingkat efisiensi di dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan.
Pelaksanaan penilaian akan memberikan beberapa manfaat kepada semua yang terlibat dalam pengolahan pendidikan. Bagi guru tentu akan dapat berbuat untuk sebagai (feedback) dalam melakukan langkah-langkah dalam pembelajaran. Dari penilaian, guru dapat mengetahui kemajuan dan prestasi belajar siswanya, yang akan digunakan untuk kenaikan kelas, kelulusan, atau keperluan lainnya.
Orang tua juga dapat manfaat, dapat memantau kemajuan belajar anaknya. Dari hasil ini, dapat memperhatikan belajar atau dapat menentukan langkah-langkah yang bagus untuk kemajuan anaknya. Siswa dapat juga akan memperoleh manfaat, dengan penilaian akan dapat mengetahui prestasi dan daya serap dirinya pada mata pelajaran tertentu. Informasi itu membuat siswa mengetahui apa yang belum dikuasai.
Informasi tentang tingkat keberhasilan tujuan pendidikan tidak hanya diperlukan guru. Semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan, baik pemerintah, lembaga masyarakat atau yayasan, orang tua, maupuan siswa sangat memerlukan informasi tentang tingkat efisiensi di dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan.
Pelaksanaan penilaian akan memberikan beberapa manfaat baik guru, orang tua, maupun guru. Bagi guru, penilaian akan memberikan umpan balik (feed-back) dalam melakukan langkah-langkah pembelajaran. Dengan adanya penilaian, guru juga dapat mnegetahui kemajuan dan prestasi siswa yang dapat dapat gigunakan untuk kenaikan kelas, kelulusan, atau keperluan yang lain. Siswa juga mendapatkan manfaat dari pelaksanaan penilaian. Melalui penilaian siswa dapat mengetahui prestasi dan daya srap dirinya mata pelajaran tertentu. Informasi akan membuat siswa mengetahui bagian-bagian materi yang belum dikuasai atau bagian materi yang perlu kuasai dengan baik.
Penilaian hasil tulisan siswa secara tertulis dalam bentuk karangan atau yang lain akan dapat menberikan manfaat seperti mampu menulis tentang apa yang pernah dilihat, bagaimana penulisan yang baik, bagaimana proses menulis, dengan demikian akan sehingga dapat mendapatkan hasil tulisan yang baik dan benar, sebagaimana tujuan dari belajar pada mata pelajaran Matematika.
C. Prinsip-prinsip Penilaian
Dalam Permen Diknas Nomor 20 tentang Standar Penilaian Pendidikan (2007: 7-8) disebutkan prinsip penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip (1) sahih, (2) obyektif, (3) adil, (4) terpadu, (5) terbuka, (6) menyeluruh dan berkesinambungan, (7) sistematis, (8) beracuan criteria, dan (9) akuntabel. Sedangkan Masnur Mukhlis (2008: 79) menyebutkan penilaian harus memperhatikan validitas, reliabilitas, focus kompetensi, komprehensip, obyektif, dan mendidik.
Penilaian bukan sekedar memunculkan angka-angka saja tapi harus memberikannya atau memunculkan penuh pertimbangan atau setidaknya memegang prinsip supaya penilaian tersebut dengan bentuk angka yang dapat mewakili tentang sesuatu yang dinilai.
Kriteria penilain yang baik adalah penilaian yang obyektif maksudnya dengan memberikan penilaian apa adanya, tanpa adanya ketentuan lain yang sifatnya memaksa apalagi terpaksa atau pemberian penilaian dengan melibatkan unsur-unsur yang tidak terkait dengan apa yang akan diberi nilai (hasil kerja siswa sewaktu ujian).
Masnur Mukhlis (2008: 79) menyebutkan penialian yang baik memiliki kriterian meliputi validitas, reliabilitas, menyeluruh, berkesinambungan, obyektif, dan mendidik. Alat penilaian disebut tepat (valid) apabila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur, dengan kata lain alat ukur tersebut mampu memenuhi fungsinya sebagai alat ukur. Alat penilaian harus memiliki reliabilitas, maksudnya penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan dengan reliable dan menjamin konsisten. Selain harus memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas, alat ukur yang baik harus menyeluruh, berkesinambungan, obyektif, dan mendidik.
Penilaian dilakukan secara menyeluruh yaitu mencakup semua aspek kompetensi yang meliputi kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif.
1) Kognitif adalah kemampuan berpikir yang menurut taksonomi bloom secara hirarkis terdiri atas pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Ini dapat di nilai dengan tes.
2) Afektif adalah berhubungan dengan sikap, minat dan atau nilai-nilai. Kondisi ini tidak dapat dideteksi dengan tes tetapi dapat diperoleh melalui angket, inventori, atau pengamatan yang sistematik dan beklelanjutan. Sistematik berarti pengamatan mengikuti suatu prosedur tertentu sedangkan berkelanjutan memiliki arti pengukuran dan penilaian yang dilakukan secara terus menerus.
3) Psikomotorik adalah melibatkan gerak adaktif atau gerak terlatih dan keterampilan komunikasi berkesinambungan, gerak adatif terdiri atas keterampilan adaktif sederhana, adaktif kompleks dan adaktif gabungan.
Dalam evaluasi pembelajaran ada 3 kategori penilaian di kelas adalah penilaian ranah afektif siswa, penilaian kinerja siswa, dan penilaian portofolio siswa. Pada bagian ini dibahas pada bab VII. Jika guru memahami dan menyusun instrumen penilaian tersebut, secara idealnya guru tersebut mendapat suatu penghargaan tersendiri atau keberhasilan dalam pembelajaran.

Karakter Matematika Merupakan Ilmu Pengetahuan

Kualitas umat manusia ditunjukkan dengan adanya suatu amplikasi pengenalan keahlian masing-masing yang berasal dari ilmu pengetahuan yang didapat oleh manusia tersebut. Salah satu ilmu pengetahuan manusia yang dapat diperlihatkan oleh manusia yaitu matematika dimana dalam matematika merupakan ilmu dasar untuk menyambung, menyusun dan mengembangkan strategi berpikir manusia. Dalam perkembangannya matematika sangat urgen dalam dunia ilmu pengetahuan di dunia ini, setiap dekade atau periode akhir-akhir ini perkembangannya cukup membangun sehingga matematika sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan maupun dalam bidang yang lain.
Dunia pendidikan Indonesia cukup berkompeten khususnya kepribadian yang perkembangannya dapat membentuk karakter individu yang bervariasi. Pada dunia pendidikan matematika diperlukan suatu terobosan yang membangun karakter masing – masingindividu. Diantarakarakter yang seharusnya ditawarkan para guru umumnya seperti yang tertera dalam kurikulum sekarang ini. Pembelajaran matematika tidak eksak tetapi guru harus mampu mengarahkan matematika sebagai solusi dalam kehidupan siswa sehingga mempunyai karakter masing-masing.
Menarik dibicarakan tentang perbedaan individu dalam pendidikan matematika karena dengan melihat perbedaan individu sangatlah baik ketika dikolaborasikan menjadi satu kesatuan dimana pada akhirnya saling meningkatkan kualitasnya diri masing-masing. Dalam perbedaan individu terdapat intelegensi, minat, sikap, moral, konsep diri, nilai atau kepercayaan diri dan lain sebagainya. Jika hal ini dikembangkan dalam pembelajaran matematika, selangkah demi selangkah dunia pendidikan akan lebih maju dan berkembang.
Pandangan yang menyatakan bahwa konon katanya masyarakat merupakan individu-individu yang orientasi pola pikirnya mengarah pada konsep pendapatan dan kemenangan semata sehingga lupa dengan apa yang sebenarnya yang menjadi tujuan masyarakat seutuhnya (opini). Agar masyarakat bisa bekerja secara efektif dalam melaksanakan aktifitas kesehariannya, masing-masing individu membutuhkan suatu karakter spesifik yang berdarah daging karena memang individu tersebut tidak terlepas dengan apa yang ingin dilakukan.
Pembelajaran pada pendidikan matematika diharapkan untuk memikirkan berbagai karakter objek pendidikan yaitu karakter masyarakat, karakter sekolah, karakter pendidik/guru, dan karakter siswa sehingga proses pembelajaran yang berkarakter dengan berbagai macam karakter tersebut mampu dikomunikasikan dalam kelompok belajar yang efektif dan efisien. Kelompok belajar tersebut diarahkan pada karakter objek pembelajaran yaitu siswa, dalam penentuan kelompok tersebut dapat disebutkan berapa karakter siswa seperti kesenangan siswa, Status ekonomi orang tua siswa, Status keyakinan atau kepercayaan siswa dan budaya daerah tertentu sehingga dapat mengetahui model karakteristik siswa.
Sebelum belajar secara formal siswa sudah memiliki pengetahuan tentang berbagai topik pembelajaran yang secara formal diajarkan guru di sekolah. Karena itu jangan kaget jika mereka sudah memiliki jawaban berdasarkan apa yang mereka ketahui dari pengalaman berinteraksi dengan alam dan orang dewasa terhadap setiap peristiwa yang mereka lihat dan alami. Murid juga bersikap seperti ilmuwan dewasa dimana mereka selalu menguji pengetahuan mereka dan mengubahnya jika mereka merasa pengetahuannya sudah tidak mampu menjawab permasalahan yang mereka hadapi. Oleh karena itu jangan heran jika anak-anak selalu banyak bertanya jika mereka menemui sesuatu yang mereka tidak bisa menjawabnya. Sehingga dalam hal ini guru membutuhkan teori-teori belajar yang tepat yang digunakan di ruang kelas.
Secara efektif guru hendaknya memiliki sikap dan perasaan yang menunjang proses pembelajaran yang dilakukannya, baik terhadap orang lain khususnya terhadap anak didik guru hendaknya memiliki sikap dan sifat empati, ramah dan bersahabat. Dengan adanya sifat ini, siswa merasa dihargai, diakui keberadaannya sehingga semakin menumbuhkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran dapat memberikan hasil yang optimal.
Terhadap dirinya sendiripun guru hendaknya juga memiliki sikap positif sehingga pada akhirnya dapat membantu optimalisasi proses pembelajaran. Keadaan afektif yang bersumber dari diri guru sendiri yang menunjang proses pembelajaran antara lain konsep diri yang tinggi dan efikasi diri yang tinggi berkaitan dengan profesi guru yang digelutinya. Dalam proses belajar mengajar membutuhkan suatu penempatan pemahaman yang tepat dalam menyimak suatu materi yang akan disampaikan sehingga membutuhkan alat atau instrumen yang tepat dalam pemecahan masalahnya.
Belajar dalam situasi pembelajaran membutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam belajar khususnya materi-materi yang kompleks untuk diimplikasikan dalam kehidupan nyata. Penggunaan teori belajar yang salah akan mengakibatkan terjadinya hambatan dalam proses pembelajaran. Pada penerapan teori belajar di kelas membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap teori tersebut dan rasa senang untuk selalu menggunakan dan mengembangkannya secara tepat guna dengan kondisi kelas.

Selasa, 17 Agustus 2010

Komunikasi Pendidikan

Masyarakat merupakan subjek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang selama ini sebagai penggerak roda kehidupan yang ada di lingkungannya masing-masing. Dimana masyarakat tersebut sesungguhnya adalah kumpulan manusia yang memiliki keilmiahan dalam berpikir dan bercakap tentunya membutuhkan sesuatu yang bermakna dan berfungsi secara subjektif terhadap dirinya sendiri. Itulah pandangan mayoritas masyarakat umumnya.
Pandangan ini yang menyatakan bahwa konon katanya masyarakat merupakan individu-individu yang orientasi pola pikirnya mengarah pada konsep pendapatan dan kemenangan semata sehingga lupa dengan apa yang sebenarnya yang menjadi tujuan masyarakat seutuhnya (opini). Agar masyarakat bisa bekerja secara efektif dalam melaksanakan aktifitas kesehariannya, masing-masing individu membutuhkan suatu karakter spesifik yang berdarah daging karena memang individu tersebut tidak terlepas dengan apa yang ingin dilakukan.
Pembelajaran pada dunia pendidikan dianjurkan untuk memikirkan berbagai karakter objek pendidikan yaitu karakter masyarakat, karakter sekolah, karakter pendidik/guru, dan karakter siswa sehingga proses pembelajaran yang berkarakter dengan berbagai macam karakter tersebut mampu dikomunikasikan dalam kelompok belajar yang efektif dan efisien. Kelompok belajar tersebut diarahkan pada karakter objek pembelajaran yaitu siswa, dalam penentuan kelompok tersebut dapat disebutkan berapa karakter siswa seperti kesenangan siswa, Status ekonomi orang tua siswa, Status keyakinan atau kepercayaan siswa dan budaya daerah tertentu sehingga dapat kita mengetahui model karakteristik siswa.
Sebelum belajar secara formal siswa sudah memiliki pengetahuan tentang berbagai topik pembelajaran yang secara formal diajarkan guru di sekolah. Karena itu jangan kaget jika mereka sudah memiliki jawaban berdasarkan apa yang mereka ketahui dari pengalaman berinteraksi dengan alam dan orang dewasa terhadap setiap peristiwa yang mereka lihat dan alami. Murid juga bersikap seperti ilmuwan dewasa dimana mereka selalu menguji pengetahuan mereka dan mengubahnya jika mereka merasa pengetahuannya sudah tidak mampu menjawab permasalahan yang mereka hadapi. Oleh karena itu jangan heran jika anak-anak selalu banyak bertanya jika mereka menemui sesuatu yang mereka tidak bisa menjawabnya. Sehingga dalam hal ini guru membutuhkan teori-teori belajar yang tepat yang digunakan di ruang kelas.
Secara efektif guru hendaknya memiliki sikap dan perasaan yang menunjang proses pembelajaran yang dilakukannya, baik terhadap orang lain khususnya terhadap anak didik guru hendaknya memiliki sikap dan sifat empati, ramah dan bersahabat. Dengan adanya sifat ini, siswa merasa dihargai, diakui keberadaannya sehingga semakin menumbuhkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran dapat memberikan hasil yang optimal.
Terhadap dirinya sendiripun guru hendaknya juga memiliki sikap positif sehingga pada akhirnya dapat membantu optimalisasi proses pembelajaran. Keadaan afektif yang bersumber dari diri guru sendiri yang menunjang proses pembelajaran antara lain konsep diri yang tinggi dan efikasi diri yang tinggi berkaitan dengan profesi guru yang digelutinya. Dalam proses belajar mengajar membutuhkan suatu penempatan pemahaman yang tepat dalam menyimak suatu materi yang akan disampaikan sehingga membutuhkan alat atau instrumen yang tepat dalam pemecahan masalahnya.
Belajar dalam situasi pembelajaran membutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam belajar khususnya materi-materi yang kompleks untuk diimplikasikan dalam kehidupan nyata. Penggunaan teori belajar yang salah akan mengakibatkan terjadinya hambatan dalam proses pembelajaran. Pada penerapan teori belajar di kelas membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap teori tersebut dan rasa senang untuk selalu menggunakan dan mengembangkannya secara tepat guna dengan kondisi kelas.
Dalam situasi belajar tersebut tentunya membutuhkan saling ketergantungan, kerja sama yang kompetitif dan kreatifitas individual. Beranjak dari itu semua merupakan suatu yang menuntut guru untuk dapat memetakkan suatu model pembelajaran. Pembelajaran dengan berdasarkan pandangan subjektif karakteristik mengajar. Dengan melihat situasi dan kondisi siswa yang heterogen seperti kaya, miskin, agama, latar belakang keluarga, suku, bahasa, dan potensi siswa.
Berdasarkan asumsi ini yang sejenisnya, guru perlu mempunyai format melaksanakan kegiatan pembelajaran seperti (1). Guru memberikan informasi pembelajaran, (2). Guru menyampaikan dan menjelaskan informasi yang pasif tentang materi, (3). Guru mengelompokkan siswa dalam kelompok heterogen, dan (4). Guru memancing atau memotivasi siswa dalam kelompok yang menemukan sesuatu solusi terhadap suatu masalah.
Selain belajar menjadi efektif jika dilakukan dalam suasana yang santai dan melibatkan murid secara aktif. Guru tidak berperan sebagai figur yang memaksakan kehendaknya untuk dituruti murid tetapi lebih sebagai teman bermain serta teman yang memahami dan memotivasi mereka. Tidak hanya murid yang menikmati pembelajaran, tetapi gurupun akan mengalami bahwa mengajar itu menyenangkan. Gurupun akan dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan sunguh-sungguh karena dia menyenangi profesinya sebagai guru.
Dengan memandang bahwa belajar itu butuh proses dimana memotivasi setelah dimotivasi kemudian mendapat pemahaman dan penghargaan (penilaian), sehingga pesan-pesan dapat tersimpan dengan mempresentasikan kembali kepada penerima lalu terjadi suatu generalisasi informasi.
Persoalan yang berdasarkan evaluasi subjektif guru yang merujut pada karakter siswa diketahui, para pendidik dianjurkan untuk membentuk pola belajar dengan membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen. Dalam penentuan kelompok belajar perlu dilakukan presentase karakter yang sama sehingga dalam penerapannya di distribusikan kedalam kelompok yang heterogen. Kemudian kita dapat mendiskusikan langkah yang selanjutnya untuk membentuk karakter pembelajaran yang seutuhnya pada daerah tertentu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan langkah-langkah pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.Mengidentifikasi karakter siswa
2.Mendiskusikan karakter siswa
3.Tindakan pembelajaran
4.Mengevaluasi hasil pembelajaran
5.Merefleksi kemajuan individu siswa
6.Memperbaharui karakter siswa sesuai dengan perkembangan siswa
7.Tindak lanjut
Dari proses pembelajaran ini siswa dapat mengakses informasi, ide-ide, ketrampilan-ketrampilan, nilai-nilai, dan cara-cara berpikir serta mengemukakan pendapat merupakan tugas seorang guru. Namun tugas seorang guru yang paling penting adalah menentukan, membimbing para siswa tentang bagaimana belajar yang sesungguhnya dan belajar yang sesungguhnya dengan belajar memecahkan masalah sehingga hal-hal tersebut dapat digunakan di masa depan mereka. Karena itu tujuan jangka panjang pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan para siswa agar ketika mereka sudah meninggalkan bangku sekolah, akan mampu mengembangkan diri sendiri dan mampu memecahkan masalah yang muncul. Untuk itulah, di samping telah dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan yang sistematis, mereka sudah seharusnya dibekali juga dengan kemampuan untuk belajar mandiri dan belajar memecahkan masalah. Proses pembelajaran yang terjadi selama siswa duduk di bangku sekolah dengan sendirinya menjadi sangat menentukan keberhasilan mereka di masa yang akan datang..
Pembicaraan pendidikan tidak ada henti-hentinya dan tidak pernah ada ujungnya untuk dimaknai bersama. Perekrutan, proses pembelajaran dan hasil pembelajaran yang menjadi focus pikiran para peneliti yang menginginkan pendidikaan yang lebih baik. Penelitian merupakan sumber informasi yang akurat untuk dijadikan suatu arah masa depan daerah bukan dengan mengembangkan isu-isu kebijakan.

Minggu, 08 Agustus 2010

Judul Tesis Matematika

JUDUL TESIS PERTAMA
A. Judul Tesis
IMPLIKASI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN PENDEKATAN BELAJAR BERBASIS MASALAH TERHADAP DAYA SERAP DAN KETRAMPILAN BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Studi Eksperimen di SMA Negeri 2 Mataram)
B. Permasalahan dan Rasional Pemilihan Masalah
Pembelajaran matematika dapat dilihat melalui evaluasi pada akhir pembelajaran sehingga dapat dikembangkan perubahan yang terjadi pada siswa tersebut. Dengan merujut pada perubahan pada siswa, guru dituntut untuk memiliki metode mengajar yang tepat dan bervariasi dalam proses pembelajaran matematika. Persoalan belajar sangat bervariasi objek permasalahannya baik secara intern maupun secara eksternal, permasalahan tersebut membutuhkan solusi dari berbagai pihak baik guru maupun pihak instansi terkait serta pihak-pihak pemerhati pendidikan sehingga siswa mampu menyelesaikan persoalan baik secara individu maupun secara kelompok. Salah satu contoh persoalan yang nampak misalnya siswa kurang memahami materi pembelajaran baik itu pemahaman konsep maupun dalam menyelesaikan soal-soal khususnya soal-soal matematika.
Pembelajaran matematika di sekolah cukup memungkinkan siswa untuk berperan aktif dalam memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari sehingga membutuhkan suatu konsep matematika yang secara sistematis, salah satunya siswa dituntut untuk memahami kondisi yang konkrit dikaitkan dengan kehidupan nyata. Pengembangan penguasaan konsep matematika sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengembangkan keterampilan berarti proses pembelajaran lebih difokuskan pada keterampilan intelektual dari pada materi pembelajaran.
C. Metode
Penelitian Eksperimen
D. Dosen Pembimbing


JUDUL TESIS KEDUA
A. Judul Tesis
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN OPEN-ENDED TERHADAP KETRAMPILAN, MOTIVASI DAN PEMECAHAN MASALAH PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Studi Eksperimen di SMP Negeri 7 Mataram)
B. Permasalahan dan Rasional Pemilihan Masalah
Proses pembelajaran itu sendiri sebagai suatu faktor internal yang amat menentukan kualitas pendidikan. Salah satu aspek yang penting dalam mengembangkan pribadi individu adalah pengembangan sikap belajar untuk mewujudkan pribadi yang tidak saja menguasai pengetahuan dan keterampilan dalam alih ilmu dan teknologi yang begitu cepat terjadi, tetapi juga dapat mengembangkan dirinya sesuai dengan potensi bakat dan minatnya menjadi pribadi yang kreatif dan berintegritas tinggi yang terus menerus dapat mengelola dirinya dalam perubahan yang cepat terjadi dalam masyarakat, terlebih pada displin ilmu matematika.
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang pendidikan dasar, selain sebagai sumber dari ilmu yang lain juga merupakan sarana berpikir logis, analis, dan sistematis. Sebagai mata pelajaran yang berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak, maka dalam penyajian materi pelajaran, matematika harus dapat disajikan lebih menarik dan sesuai dengan kondisi dan keadaan siswa. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar dalam proses pembelajaran siswa lebih aktif dan termotivasi untuk belajar. Untuk itulah perlu adanya pendekatan khusus yang diterapkan oleh guru.
Selama ini rendahnya hasil belajar matematika siswa lebih banyak disebabkan karena pendekatan, metode, atau pun strategi tertentu yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran masih bersifat tradisional, dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Akibatnya kreatifitas dan kemampuan berpikir matematika siswa tidak dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itulah guru perlu memilih cara mengajar atau pendekatan yang dapat membantu mengembangkan pola pikir matematika siswa.
Paradigma baru pendidikan lebih menekankan pada peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Kebenaran ilmu tidak terbatas pada apa yang disampaikan oleh guru. Guru harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktriner, tetapi menjadi fasilitator yang membimbing siswa ke arah pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri. Melalui paradigma baru tersebut diharapkan di kelas siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani menyampaikan gagasan dan menerima gagasan dari orang lain, kreatif dalam mencari solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
C. Metode
Penelitian Eksperimen
D. Dosen Pembimbing

JUDUL TESIS KETIGA
A. Judul Tesis
PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN PEMBELAJARAN KOOPERATIFE TIPE JIGSAW TERHADAP MOTIVASI, KETRAMPILAN DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP (Studi Eksperimen di SMP Negeri Mataram)
B. Permasalahan dan Rasional Pemilihan Masalah
Prestasi belajar siswa merupakan salah satu konsentrasi dalam kegiatan pembelajaran, dalam upaya meningkatkannya guru selalu menemui berbagai macam permasalahan yang cukup kompleks, salah satunya kejenuhan siswa dalam belajar matematika. Mengatasi kejenuhan siswa belajar matematika membutuhkan adanya kreatifitas guru dalam menciptakan metode pembelajaran yang menyenangkan sesuai dengan karakteristik materi pelajaran. Lemahnya minat siswa belajar matematika karena siswa menganggap matematika merupakan pelajaran yang sulit dan membosankan. Untuk itu, perlu ada inovasi proses pembelajaran disesuaikan dengan metode pembelajaran yang ada. Proses pembelajaran perlu diterapkan dengan berbagai macam metode sehingga mampu membekali ketrampilan belajar untuk dapat mencapai kompetensi yang diharapkan, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana karakteristik pembelajaran kontekstual dan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, untuk itu perlunya kita mengetahui apakah ada perbedaan pengaruh antara penerapan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan metode konvensional terhadap keaktifan siswa, serta mampu mencapai ketuntasan belajar siswa.
C. Metode
Penelitian Eksperimen
D. Dosen Pembimbing


1 Pengembangan Kemampuan Pemahaman, Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika siswa SMA melalui Pembelajaran dengan Transactional Reading Strategy 1. Kemampuan dasar matematika yang harus dimiliki siswa adalah: (1) memahami dan menerapkan konsep, prosedur, prinsip, teorema, dan idea matematika, (2) menyelesaikan masalah matematik, (3) bernalar matematik, (4) melakukan koneksi matematik, (5) komunikasi matematik.

2. Siswa sering melakukan miskonsepsi pada penyelesaian masalah matematika, hal ini disebabkan karena salah membaca atau memaknai teks matematika. Salah satu alasan mengapa sulit membaca teks matematika adalah bahwa teks mengharuskan siswa untuk mengingat kembali atau menemukan semua informasi, definisi, teorema atau notasi berhubungan dengan konsep yang sedang dibaca.
3. Siswa akan memperoleh komprehensi matematika dengan lebih baik ketika mereka mampu membaca, menulis, dan memahami bahasa matematik. Ketidakmampuan membaca matematika menjadi salah satu penyebab kesulitan siswa memecahkan persoalan-persoalan matematika.
4. Salah satu stategi dalam memahami teks matematika adalah dengan Transactional Reading Strategy.
Bentuk Penelitian : Eksperimen.
Subyek Penelitian:
Siswa kelas XI IPA SMA Stella Duce 1 atau SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

2 Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Bilangan Bulat Siswa SD Kelas V melalui berbagai jenis permainan 1. Siswa akan belajar jika mendapat motivasi. Motivasi bisa berasal dari diri siswa atau melalui rangsangan dari luar, misalnya melalui sebuah permainan. Persolannya bagaimana agar siswa termotivasi untuk belajar, bukan karena tuntutan orang tua dan guru.

2. Materi bilangan bulat, termasuk operasi hitung dan penggunaannya dalam pemecahan masalah seperti menentukan akar sederhana, menetukan KPK dan FPB, merupakan materi aljabar dasar yang harus dikuasai siswa sehingga dalam konsep atau topik berikutnya tidak ada kesulitan
3. Banyak jenis permainan yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam penguasaan kompetensi Bilangan Bulat, seperti Ular Tangga, Monopoli, Model kartu remi, model kartu domino ,dll)
Bentuk Penelitian : Eksperimen.
Subyek Penelitian:
Siswa kelas V SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta.

3 Peningkatan Kemampuan Matematis Siswa dengan Perbedaan Prestasi melalui Lembar Kerja Siswa 1. Setiap siswa mempunyai keunikan sendiri dalam belajar matematika dan masing-masing mempunyai prestasi matematika yang berbeda.

2. Agar semua siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya tanpa terganggu dengan pembelajaran klasikal maka siswa perlu mendapat porsi yang berbeda dalam belajar matematika sesuai kemampuan akademik masing-masing.

3. Salah satunya bisa diberikan lembar kerja siswa (LKS) yang berbeda pada beberapa kelompok siswa. Siswa yang mempunyai kemampuan matematis lebih diberikan LKS yang berbeda dengan siswa dengan kemampuan matematis kurang.
Bentuk Penelitian : Eksperimen.
Subyek Penelitian:
Siswa kelas VII SMP Stella Duce 1 Yogyakarta.

HADIR PENULIS MUDA

Berangkat dari keluarga yang tidak mampu, merantau di negeri orang untuk menuntut ilmu, suka maupun duka telah dilewati dan masih dilalui sampai hari ini. Sejak usia 4 tahun beliau sudah bekerja selayaknya seorang petani atau buruh tani orang dewasa, namun beliau cukup kuat menahan hidup demi kesejahteraan keluarga. Disamping sebagai buruh tani beliau juga pernah berjualan pisang goreng di sebuah sekolah yang berjarak sekitar 3km dari rumahnya dengan berjalan kaki. Akan tetapi kata beliau, itu adalah proses kehidupan. Beliau anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan harmonis Muhamad Sidik dan Rugayah.Pemuda usia 24 tahun silam ini meniti karir sebagai seorang dosen pendidikan matematika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) IKIP Mataram sejak tahun 2007 sampai sekarang. Saat ini beliau sedang melanjutkan studi Pascasarjana (S2) di Universitas Negeri Yogyakarta pada program studi pendidikan matematika.
Syahrir; kelahiran 1 Desember 1985 di Dusun Rasa Bou, Desa Nunggi Kecamatan Wera Kabupaten Bima, Sekolah Dasar di SD No. 3 (Sancara) Nunggi, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 (Tawali) Wera dan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri (Tawali) Wera tamat tahun 2003. Dalam perhelatan kehidupan semakin modern, berbagai macam masalah (problem) yang dihadapi di usia remaja salah satunya adalah masalah ekonomi, untuk menutupi masalah tersebut beliau berusaha hidup ditengah-tengah kehidupan pasar selama 6 tahun sejak kelas satu SMP hingga tamat SMA. Dengan ketabahan dan ketekunan dalam menghadapi kehidupan, saya diijinkan oleh kedua orang tua (Muhamad Sidik & Rugayah) dan bibiku (Hj. Anuriah) untuk melanjutkan studi strata satu (S1) di IKIP Mataram pada Juli 2003, dengan perjuangan dan ketekunan selama 3½ tahun (42 bulan) mampu diselesaikan pada bulan April tahun 2007.
Pada September 2007, diterima sebagai dosen tetap yayasan di IKIP Mataram untuk mengajar mata kuliah Kalkulus dan mata kuliah dasar matematika lainnya. Selama dua tahun penulis mengajar di IKIP, di sekolah menengah pertama dan menengah penulis mengajar pada mata pelajaran matematika. Pada Februari 2009 saya mencoba ikut tes kuliah lanjutan di Universitas Negeri Yogyakarta dan diberikan kesempatan untuk melanjutkan (sekarang masih masa Studi S2).
Pengalaman organisasi kemahasiswaan sejak tahun 2003 hingga tamat kuliah, yang pertama kali dijejaki adalah organisasi baguyuban yaitu IRNAMA (Ikatan Remaja Nunggi Wera Mataram) sebagai ketua umum periode 2004-2006 dan HPMW (Himpunan Mahasiswa Wera Mataram) sebagai anggota selama menjadi mahasiswa. Kemudian organisasi internal kemahasiswaan IKIP Mataram yaitu Mahapala Handayani IKIP Mataram, Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika FPMIPA IKIP Mataram, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FPMIPA dan Institut di IKIP Mataram serta organisasi eksternal kemahasiswaan yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat FPMIPA IKIP Mataram dan lain-lain.
Dunia pendidikan terus berkembang, penulis muda ini hadir untuk membuka kualitas pendidikan khususnya pendidikan matematika. Beliau berharap pendidikan matematika di NTB dapat berkembangan pesat dengan jalan jujur dan ikhlas dalam mengembangkannya. Dengan buku “Strategi Pembelajaran Matematika” itu, para guru NTB dapat membuka diri supaya NTB menjadi provinsi yang memiliki guru teladan di negeri tercinta ini yaitu Indonesia.Buku itu adalah buku perdana yang beliau tulis di tingkat Nasional. Bagi yang berminat untuk menjadi pemerhati pendidikan, guru, dan mahasiswa teladan beranjaklah dari keterpurukan untuk membaca buku karya Syahrir.
Teman-teman, sahabat mari kita melihat ke belakang untuk memopong NTB. Dengan kisah beliau ini sebagai awal kita untuk memulai sesuatu demi kebaikan dunia dan akhirat.

Kontak person:
081328591216/gmail:Syahrir.WawoMandala@gmail.com.

Minggu, 23 Mei 2010

DINAMIKA PENDIDIKAN MATEMATIKA

A. Retorika Pendidikan

1. Kocaknya Bangsa Indonesia

Siapa bilang bangsa kita tidak kocak. Dominasi program lawak di televisi menunjukkan, bangsa kita gemar membanyol. Ketika dunia berlomba mengejar inventor Hi-Tech yang naik pesat, tingkat partisipasi korupsi kita menurut koran-sudah sampai kelurahan. Bahkan sudah pula merambah dunia pendidikan di Indonesia, yang lebih membanyolkan diri “dengan entengnya professor di Indonesia mengatakan itu hal yang biasa terjadi di masa tranformasi dari masa reformasi. Kalau hal itu biasa lantas yang mana akan menjadi luar biasa? sulit bukan menjawab pertanyaan tersebut, seperti kata saya terdahulu mereka sudah mengidap tuli gaya hindia – belandasehingga sibuk menjadikan diri mereka tokoh mbilung yang sengaja membilungkan diri. Konyol, Bisa Mbilung melawan Samin, padahal dua hal ini adalah sangat terkait satu sama lainnya. Tetangga sebelah anda akan bilang, Ihwal perkara miring, kita memang nomor satu. Sekian puluh tahun kita rajin memelihara wabah demam berdarah, misalnya. Kocaknya, keluarga korban demam berdarah yang tak tertolong masih ada yang tidak gusar. Padahal, rakyat Belanda yang knalpot mobilnya rusak gara-gara pemerintah membiarkan jalan jeglok saja mencak-mencak menuntut ganti rugi. Konyol bukan?

Pernah juga saya mendengar kisah seorang sopir taksi asal Jogjakarta yang bergurau kepada saya berceloteh, "Kayak di Bosnia saja" ketika melintasi jalan raya berlubang di Ibu Kota, yang pajak mobilnya tertinggi di Indonesia, tetapi aspalnya sudah bagai kubangan kerbau. Mungkin di situ enaknya (maaf) menggembala rakyat Indonesia. Selain rasa humornya tinggi, mereka susah marah, pandai tersenyum, mudah trenyuh, dan gampang menangis. Jika ada satu-dua rakyat yang terbilang Samin tentu bukan mewarisi genetika politik bangsa kita yang cenderung memilih suka nerimo. Karena memang Dengan Sikap Skeptis di tunjukkan samin menjadikan “penguasa” gerah , merasa Sok Pintar, sok pandai karena merasa lulusan, Namun satu hal harus diakui, bangsa kita mudah curiga, bersyak-wasangka, dan lekas tersinggung. Kata seorang sosiolog, boleh jadi karena wujud kekocakan karakter biar miskin asal sombong. Kocaknya, benci kepada orangnya, tetapi mau menerima sumbangannya. Pernah pula menyaksikan sekian banyak penumpang bus luar kota yang sudi duduk di lantai bus padahal membayar ongkos penuh. Atau mereka tak marah diturunkan seenaknya di tengah jalan sebelum tiba ke tujuan dan mereka masih tertawa. Kita mafhum, boleh jadi karena sejak bayi bangsa kita selain rajin diajak tersenyum, juga belajar pandai tertawa, ironis sekali, bukan ? katanya banyak orang yang merasa menjadi Doktor, Profesor termasuk kami yang bekerja di sebuah perusahaan asing tetapi kenapa begitu naïf membiarkan orang bergelantungan di atas bus tanpa AC? lantas bagaimana layanan publik Kita? Sudah begitu parahkah hingga Dunia Perguruan Tinggi/Universitas tidak mampu melakukan riset mengenai “bagaimana mengatasai kemacetan lalu lintas yang di buat sendiri “sehingga orang bergelantungan di atas bus umum tanpa layanan yang memadahi?

Melihat gejala seperti itu seorang teman psikolog bilang, mungkin itu sebabnya mengapa bangsa kita tergolong tahan banting. Dari muda mereka terbiasa hidup berdampingan secara damai dengan tekanan, krisis, konflik, dan frustrasi. Daya tahan stresnya menjadi kokoh. Oleh karena itu, boleh jadi dalam menghadapi tiap kematian sia-sia, atau mati konyol anggota keluarga sekalipun, mereka terlihat masih tegar tanpa sejelek-jelek layanan publik yang pernah dialami masyarakat, masih ada pihak yang mereka sanjung. Penderitaan dan kesusahan jelas-jelas mereka alami karena human error, masih disangka God’s decision. Tengok mereka yang bergelantungan di bus kota tiap hari, tanpa berpendingin merayap di jalan macet, dan macetnya akibat buatan manusia dan ulah penguasa yang sibuk menjadi Tokoh Mbilung yang membilungkan diri di hadapan Pandawa. Atau, beratnya menempuh buruknya jalan desa, tetapi mereka tabah menerima. Padahal, setelah lebih dari setengah abad merdeka, sudah selayaknya semua kesusahan itu tak mereka alami. Namun kocaknya, bagi mereka, semua itu bukan masalah. Tampaknya, dalam urusan badan, mereka boleh lelah dan letih, juga boleh nyeri, asal hati tetap ayem mereka tak mudah menjadi berang. Asalkan tidak sengaja menusuk hati, bangsa kita enak diajak bergaul. Turis asing senang datang ke negeri kita bisa jadi salah satunya karena dalam serba kekurangan bangsa kita masih bertegur sapa dan tulus tersenyum. Sutradara film mungkin melihatnya sebagai sebuah puisi. Masih ada senyuman tulus di balik kegetiran hidup. Bagi setiap filsuf, potret itu juga sebuah kekocakan hidup.

Di Negeri maju dimana Pendidikan tumbuh dan berkembang, warga terantuk batu saja sudah berteriak keras. Kocaknya bangsa kita, meski sudah lama terinjak, mungkin diinjak, masih saja mesem yang tidak dibuat-buat ala Mr. Bean. Mesemnya menggendong ketegaran hidup. Jika sampai marah, mereka menyampaikan dengan santun. Bangsa lain mungkin sudah menjerit, bangsa kita menahan rasa perih pedih kehidupan tanpa mengaduh. Perhatian kecil dari penguasa membuat rakyat sumringah-nya luar biasa. Apalagi jika sampai bisa membuat mereka kecukupan makan tiap hari. Kocaknya pula, bangsa kita masih sering takut kepada polisi kendati tidak bersalah. Masih tetap menaruh hormat kepada pamong Desa, kendati proyek jalan desa dikorupsi dan sawah dibiarkan puso, yang lebih konyolnya lagi masih menggantungkan harapan besar untuk bisa menjadi Mahasiswa PTN padahal Negaratempat kita bernaung tidak memberikan jaminan kepastian apakah anak kita bisa bekerja atau malah jadi penggangguran intelektual ketika lulus Perguruan Tingi. Kita ingin menyitir gejala orang-orang di negara sosialis, yang saking beratnya hidup, tanpa boleh berontak dan mengaduh sehingga yang muncul ungkapan satir dan gereget humor sebagai katarsis. Dari situ ada tangkai-tangkai humanisme yang mungkin terpetik. Kalau di sana, misalnya, tumbuh fenomena sosial "Mati Ketawa Cara Rusia", rasanya bukannya dibuat-buat bila di sini ada pula spesies hidup berbangsa dengan kekocakan karakter "Mati Ketawa Cara Indonesia” apakah anda mau coba?.

2. Mengurai Benang Kusut Pendidikan

Jika pelaku pengeboman dan teroris melawan pemerintah itu lulusan sekolah khusus “Teroris”, maka lembaga pendidikan mereka berhasil menjalankan visi misinya: mendidik orang menjadi Seorang Teroris yang handal, setia pada tujuan. Kami tidak berbicara baik-buruk, benar-salah, atau mulia-jahatnya tindakan tersebut dan cara yang dipilih untuk mencapai tujuan. Saya menilik bagaimana visi-misi pendidikan diimplementasikan sehingga siswa menghidupi dan menjalankannya secara total dan All Out. Yang jelas, “proses pendidikan” di sekolah Teroris telah menumbuhkan keberanian dan kemauan bertindak lulusannya, yang konyol di mata kita, tetapi merupakan indicator sukses guru-gurunya. “Pembantaian” menjadi semacam wisuda untuk mengukuhkan keberanian dan kemauan itu .

Lembaga-lembaga pendidikan formal kita di Indonesia, dan lembaga pendidikan umum di mana pun, jelas tidak dimaksudkan untuk mendidik orang menjadi teroris. Lembaga-lembaga pendidikan kita memiliki tujuan filsafati luhur. Saking luhurnya lupa bahwa yang didik adalah masyarakat yang masih perlu di sadarkan lebih jauh. Ada proses dan pengukuran. Ada pengukuhan janji dalam wisuda. Namun, tidak sedikit lulusan dunia pendidikan kita yang tidak menunjukkan keberanian dan kemauan bertindak menurut tujuan dan nilai-nilai di mana mereka pernah dididik. Dalam arti terbatas ini, sebenarnya lembaga-lembaga pendidikan formal telah gagal menjalankan visi-misinya. Ironisnya, justru kegagalan inilah membedakannya dari pendidikan ala Teroris. Kita telah mematri pendidikan mengemban misi penyadaran (conscientitation) atau istilah-istilah serupa lain, seperti pemerdekaan dan pemanusiaan. Ini misi dasar mulia. Pendidikan harus membuat orang kian sadar akan jati diri dan asal-usul, dunia dan lingkungan alam-sosial, serta tanggung jawabnya. Pendek kata, pendidikan dimaksudkan membawa orang pada kesadaran insani. Sejauh ini tujuan pendidikan kita ada karena tuntutan normatif sosial. Ia tidak tumbuh bersemai dalam diri insan siswa, menjadi bagian tujuan hidupnya. Proses pendidikan kita tidak membuat siswa memahami ideal di balik tujuan pendidikan.

Tujuan dicapai demi tujuan itu sendiri, sehingga kesediaan berkorban dalam perjuangan mendekati ideal amatlah kecil, karena jiwa mereka yang terdidik tidak disatukan dengan tujuan pendidikan itu. Di sinilah letak pentingnya ideologisasi tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan menjadi target sekaligus semangat praksis pendidikan. Pencapaiannya bersifat imperatif dan dilakukan dengan semacam drilling tujuan, sebagai semangat ideologis yang harus diwujudkan. Ini perkara metodologi, agar praksis pendidikan tidak dipisahkan-tidak dialienasikan dari tujuan pendidikan sendiri.

3. Hak belajar, atau Wajib Belajar?

Jika diamati dengan saksama, gagasan wajib belajar merupakan suatu absurditas atau kontradiksi. Pertama, proses belajar tidak mungkin pernah berjalan efektif jika ada suatu pemaksaan pada diri pembelajar. Gagasan student centeredness atau pendidikan yang berpusat pada siswa senantiasa mengedepankan dan mengharuskan pembelajar menyadari serta bertanggung jawab atas proses belajar yang dijalaninya. Ini didasarkan pada prinsip bahwa dorongan atau keinginan belajar dari diri sendiri merupakan unsur utama dalam proses belajar. Kecuali itu, proses belajar yang dipaksakan tidak akan pernah sustained atau bertahan. Kedua, wajib belajar tampaknya telah rancu dengan wajib bersekolah. Wajib bersekolah memang mudah sekali mengamatinya. Seorang siswa atau siswi yang tak pergi ke sekolah pada saat jam sekolah jelas menyalahi wajib bersekolah. Sangat jelas dan mudah menentukan seseorang melanggar wajib bersekolah atau tidak. Namun, bagaimana dengan wajib belajar? Pada sisi yang lain, kita perlu mencatat bahwa seseorang yang bersekolah belum dapat diartikan sedang belajar. Jika belajar merupakan suatu kewajiban, indikator apa yang menentukan seseorang lalai belajar atau tidak?

Bagaimana pula operasi pelaksanaan pengamatannya nanti? Betapa sulitnya mengukur apakah seseorang sedang belajar? Seorang anak yang bermain di pematang sawah atau tepi pantai apakah sedang tidak belajar? Seorang anak yang membantu ibunya berjualan di pasar apakah sedang tidak belajar? Seseorang anak berumur 10 tahun yang sedang melamun di bawah pohon pada pinggiran sungai pada pukul 08.00, misalnya, apakah sedang melanggar kewajiban belajarnya? Memang, kewajiban bersekolah mungkin dilanggarnya, tetapi kewajiban belajar? Kalau dia ditanya, dia mungkin menjawab bahwa dia sedang belajar berpikir. Nah, lalu, bagaimana pula kita dapat menyangkalnya? Nah . Serba bingung serba rancu serba berebut menjadi “dicision maker” di dunia pendidikan atau nanti jangan jangan ketika menteri pendidikan di resufhule oleh persidennya ganti pula kebijaksanaan dan kurikulumnya dengan dalil menyempurnakaan Kebijaksanaan . Ironis rakyat lagi yang kena harus beli buku, beli seragam, beli perlengkapan untuk kurikulum yang baru. Oleh karena itu, jelas sekali bahwa wajib belajar merupakan suatu gagasan yang kontradiktif sekaligus sangat tidak operasional. JIKA kita ingin menerapkan gagasan student centeredness, kita harus memberikan tanggung jawab belajar pada siswa. Tentunya ini tidak berarti bahwa kita boleh membiarkan anak atau murid kita tidak belajar. Justru sebaliknya, kita-guru dan orangtua-perlu menyadarkan atau mencerahkan anak-anak akan pentingnya belajar bagi kehidupan mereka. Kita perlu terus menerus menyadarkan anak-anak atas hak belajarnya. Keluarga perlu senantiasa berupaya menyuburkan bertumbuh kembangnya motivasi belajar anak-anak. Kendati demikian, yang paling utama menentukan terjadi atau tidaknya proses belajar adalah siswa sendiri. Kita, orangtua maupun guru, bukan pelaku utama dalam proses belajar anak-anak kita. Jika kita sudah sering berwacana gagasan siswa sebagai subyek dalam proses pendidikan, maka mengembalikan tanggung jawab belajar pada siswa merupakan suatu aktualisasi dan penerapan gagasan tersebut. Ini juga merupakan realisasi pemberdayaan siswa melalui proses belajar. Cara pandang di atas sangat sejalan dengan makna belajar sebagai hak setiap insan untuk mengembangkan dirinya.

Jadi, akan lebih tepat jika pemerintah pusat beserta pemerintah daerah wajib menyediakan program sekolah Sembilan tahun yang terjangkau atau, jika mungkin, gratis bagi warganya. Artinya, pemerintah wajib untuk menyediakan pendidikan sekolah bagi warganya. Adalah hak warga negara untuk memanfaatkan penyediaan program pendidikan tersebut. Adalah hak warga negara untuk belajar dalam program yang disediakan pemerintah. Jangan sampai terjadi kebalikannya, yakni rakyat berkewajiban belajar sembilan tahun dan negara berhak menyediakan pendidikan bagi rakyatnya. Kalaulah hal itu terjadi maka Bisa di katakan seperti “Bagong yang jadi raja Vs mbilung yang keblinger”. Konyol dan sangat tidak habis di pikir jadinya.

Belajar merupakan kegiatan yang dapat berjalan efektif melalui institusi formal seperti sekolah maupun tak formal. Seorang anak belajar tidak hanya di dalam kelas sewaktu berinteraksi dengan gurunya, melainkan terjadi pula pada saat dia bermain dengan temannya atau pada saat bekerja membantu orang tuanya menjahit, misalnya. Prinsip bahwa belajar tidak perlu melalui institusi formal juga harus diyakini pembuat kebijakan pendidikan nasional. Namun, jika kita melihat kegiatan warga negara melalui kacamata kekuasaan, yakni dari arah atas ke bawah, maka memang gagasan wajib belajar cocok dengan nuansa instruksi atau perintah. Belajar perlu diperintah. Mungkin dianggapnya warga negara tidak mau belajar jika tidak diwajibkan atau rakyat masih tidak tahu bahwa belajar itu perlu maka perlu di perintah Namun, jika kita ingin memosisikan setiap warga negara sebagai pelaku utama dalam proses belajar bangsa, maka hak belajar akan jauh lebih cerdas dan efektif daripada wajib belajar karena rakyatlah yang akhirnya akan memilih sejauh mana kebijaksanaan yang tepat bagi mereka, bukan pemerintah.

4. Kenapa kita bersekolah ?

Pertanyaan Kami diatas adalah sangat mendasar kenapa Kita Bersekolah? Hal diatas tentunya Lebih Mengacu pada mengapa kita bersekolah dalam artian dan Konteks untuk bisa baca tulis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa atau bersekolah untuk sebagai gengsi belaka bahwa di sebut kaum Intelektual ? yang notabene Pendidikan dasar – perguruan tinggi . Ada beberapa hal yang membuat Kami “trenyuh” dan prihatin dengan Kondisi yang di hadapi bangsa Indonesia ,Kita semua sebagai bagian kecil bangsa Indonesia . Hal tersebut yang menggugah kami untuk sadar tidak hanya mementingkan Bisnis semata.

a. Sekolah menciptakan “Orang Pandai” atau “Orang yang bijaksana”?

Jika pertanyaan itu di lemparkan ke kami maka jawaban yang akan kami keluarkan adalah Bagaimana Seorang yang bersekolah mengenal karekteristik dirinya sendiri. Tidak bisa di pungkiri bahwa yang namanya sebuah pendidikan sangat komunal , akan tetapi komunal yang bagaimana untuk bisa mencapai tahapan yang di inginkan ? Masih ingat di kepala Kami bagaimana seorang Murid SLTA yang memiliki rangking 1 justru tidak diterima dalam ujian Pegawai Negeri Sipil (PNS) , padahal sekolah itu telah menciptakan ”orang pandai” seperti anak tersebut hingga mendapatkan rangking 1 hingga semua institusi sekolah menggangapnya sebagai tolak ukur /indicator yang pandai. Tapi ketika berebut mendaftar sebagai CPNS justru tidak ada prioritas sama sekali untuk mendapatkan sebuah Dispensasi untuk diterima, justru Anak yang tidak bisa apa-apa dalam artian tidakmemiliki Rangking mendapatkan tempat yang sangat layak di pemerintahaan karena “Kekrabatan” di lingkungannya sekali lagi Bangsa Indonesia sangat tidak mengenal Bahasa simbol sehingga para pemegang kebijaksanaan negeri ini sibuk dengan tokoh Mbilungnya mereka yang bersikap Samin terhadap rakyatnya sendiri. Dengan kejadian diatas bahwa anak yang pandai tidak mendapatkan tempat di pemerintahaan atau pegawai negeri atau pegawai instasi lainnya menandakan bahwa anak yang Pandai sekalipun tidak akan mendapatkan jaminan sebuah pekerjaan yang layak sesuai dengan prestasinya. Lantas bagaimana dengan pertanyaan Kami tadi Sekolah menciptakan Orang pandai atau orang yang bijaksana ? Lantas buat apa kita sekolah kalau sekolah tidak ada Sebuah “pengharapan” yang di kejar , dalam artian percuma wajib belajar karena ketika belajar dengan seksamadengan sungguh sungguh menjadikan kita mendapatkan rangking terus tidak mendapatkan sebuah penghargaan terhadap prestasi yang kita buat ? Konyol bukan ? Kalau kita menilik lebih jauh sebenarnya yang namanya Sekolah dasar – Sekolah Menengah Umum kan milik pemerintah Daerah ( PEMDA ) kenapa harus susah-susah mencari pegawai negeri sipil dengan membuka pendaftaran di cpns , kenapa tidak mensyaratkan yang bisa mendaftar jadi cpns adalah anak yang memiliki rangking 1-15 di setiap sekolahnya. coba kita bayangkan jika itu disyaratkan maka dengan susah payah pasti anak akan belajar dengan tekun dengan giat dan rajin untuk mengejar bagaimana mendapatkan rangking sehingga mendapatkan “harapan” setelah lulus nantinya. Ketika penerimaan dan tes pegawai jika ada anak yang tidak diterima itu menjadikan “ Warning” bagi sekolah yang bersangkutan untuk memacu pendidikannya lebih kencang lagi untuk mengejar ketertinggalannya Ironis memang masyarakat masih menganggap PNS adalah tujuan hidup untuk mengubah nasib, karena keterjaminan masa tua, keterjaminan pekerjaan keterjaminan Harkat dan martabat disebut “priyayi” . padahal rebutan jadi PNS adalah peninggalan Kolonial belanda dalam menciptakan Stagnasi perbedaan di masyarakat pada jaman itu dimana orang /kaum terpelajar dijadikan pegawai pemerintahaan kerajaan belanda dan di sejajarkan dengan mereka. Lantas dengan demikian dogma pemikiran masyarakat berbelok arah untuk menjadi pegawai negeri sipil.Apa mereka enggak melihat dengan seksama bagaimana Beban berat pemerintah untuk membiayai aparatur negara yang mulai “Terbebani” aparaturnya , dengan kinerja rendah tetapi masih menggaji , itu menandakan Cost yang berlebihan. Dan apa mereka juga tidak berfikir sekarang ini untuk biaya pegawainya daerah dituntut mandiri , sehingga dengan demikian jika tidak ada anggaran untuk itu akan menjadikan “Beban Hutang” ? Konyol,gila dan tidak masuk akal.

Lantas buat apa sekolah jika negara saja tidak memberikan sebuah “penghargaan” atas prestasi anak-anak yang pandai?

Belum lagi bangunan sekolah yang rusak berat lantaran salah dalam penerapan pembangunan setingkat sekolah dasar Inpres saja sudah hancur dindingnya , lantas bagaimana dulu perencanaan pembangunannya ? serius untuk membangun atau jangan-jangan Kontraktor pelaksananya Justru berusahaa “Membilungkan Diri” atas semua kondisi yang di lakukan dahulu , dengan demikian apa tidak semakin parah.

b. Kenapa mahal bersekolah di Indonesia ?

Di negara-negara maju pendidikan sudah dipahami sebagai industri jasa yang sangat prospektif. Sebab itu, investor pun mulai banyak yang secara terbuka berhasrat menanamkan modalnya untuk bisnis pendidikan. Bahkan, di German,Austria , Australia dan USA pendidikan sudah merupakan sumber devisa nomor tiga dan diharapkan meningkat menjadi nomor dua beberapa tahun mendatang. Di Indonesia?, jangankan pendidikan mau ke wc saja mahalnya minta ampun , dengan alas an BBM naik lah , biaya kehidupan bertambah lah dll , sehingga menjadikan Semuanya serba uang . Mahalnya biaya pendidikan di Indonesia di picu dan dikarenakan pemerintah yang menganggap enteng dunia pendidikan dengan mengalokasikan anggaran pendapatan negara nya hanya 2 %, meskipun sudah di paksakan 20% untuk tahun ini tetap terlambat, anak-anak tetap di tarik biaya untuk sekolah dengan berbagai alasanlah. Imbas dari hal itu Buku-buku cetak yang seharusnya setiap pak menteri berkuasa hendaknya di sempurnakan, bukan ganti pak menteri ganti pula Kebijaksanaan yang menjadi motor penggeraknya lantas bagaimana Kondisi tersebut akan terata dengan baik jika setiap 5 tahun Orang yang merasa Pintar di Pusat pendidikan Nasional merasa perlu mengganti kebijaksanaan terkait dengan politisasi?. Di sini pendidikan belum terarah dengan baik , masih jalan di tempat , mereka masih jadi slogan Asal Lulus , Asal dapat gelar , Asal sudah sekolah. Lantas buat apa ? menambah angkatan pengangguran Intelektual lagi ujung ujungnya pemerintah juga yang pusing menciptakan lapangan kerja. Bagaimana mau menciptakan lapangan kerja kalau pemerintahaannya masih berebut Hegemoni “ I’m the hero”, saya yang terbaik, saya yang berkuasa. Konyol bukan? Lebih konyol lagi investor pada lari dari bumi Indonesia karena hegemoni tersebut , contoh singatnya Kenapa Sony Corpporation lebih senang memindahkan Core bisnisnya ke Vietnam ? Karena di sana Biaya serba murah termasuk tenaga kerja yang masih murah , di Indonesia ? Mahal pekerjanya masih suka demo dan bertingkah. Lulusan sarjananya belum mengerti dunia kerja 100% karena memang tidak di persiapkan dengan matang. Sangat konyol sekali apa yang dilakukan penguasa dan aparaturnya, lebih-lebih pendidikan nasionalnya . Di eropa pendidikan adalah Sebuah jendela “batin” seseorang untuk melihat kemana arah tujuan hidupnnya ? Mereka berkreasi dengan arahan dari Pusat litbang setempat untuk menemukan , meneliti , dan menggali masalah dengan baik.10 tahun kedepan jika hal di atas tidak di atasi akan menjadikan Ambruk pondasi negara kita . sebenarnya mahalnya pendidikan Indonesia bisa di atasi jika Pengusahaa besar yang bergabung dalam Assosiasi Konglomerasi dan Pengusahaa menyisihkan 5 % pendapatannya untuk mengabdikan di jalur pendidikan , namun itu pun tidak di lakukan sehingga masih mengantungkan harapan besar ke pemerintah Indonesia sebagai pelaksana.

c. Ramai-ramai Kuliah, Ramai-ramai Cari Kerja

Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi PT untuk menjaring calon mahasiswa sama “gencarnya” dengan peningkatan pengangguran lulusan. Beberapa PT memberikan keringanan biaya, tetapi PT-PT dengan nama “besar” memasang biaya masuk puluhan juta rupiah, yang justru dimaknai tanda “kebesaran” dan mutu PT bersangkutan. Maka, para calon mahasiswa ramai-ramai mendaftar kuliah, PT-PT menerima mereka dengan sukacita, tetapi para pelaku pasar kerja bersiap-siap “menolaknya” setelah lulus karena para sarjana tersebut dinilai tidak memiliki cukup kualifikasi yang dibutuhkan dunia kerja. Dalam pandangan Kami, pengangguran lulusan dan tidak nyambung-nya PT dengan dunia kerja dimulai dari seleksi penerimaan mahasiswa baru. Akibatnya, seleksi masuk ke sebuah PT semakin lebih ditentukan oleh kemampuan calon mahasiswa “membeli” daripada kemampuan intelektualnya. Karena itu, sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru perlu dibenahi.

Sistem passing grade yang mengandalkan skor rerata ujian masuk sama tidak memadainya dengan sistem kuota, yang bergantung pada jumlah “kursi” yang tersedia di suatu prodi PT. Gabungan sistem passing grade dan system kuota mungkin baik, namun tetap belum menjamin mutu mahasiswa yang diterima. Di Jerman dan Belanda proses seleksi ke PT telah dimulai dengan penjenjangan di tingkat sekolah menengah. Saat pendaftaran ke PT, penerimaan mahasiswa baru dilakukan dengan model gabungan sistem passing grade, kuota dan tes kompetensi dasar logika bahasa dan logika matematika. Untuk program tertentu, seperti kedokteran, berlaku seleksi numerus klausus yang sangat ketat. Hanya 10 persen terpandai lulusan SLTA di tingkat nasional boleh mendaftar. Jika setelah tes jumlah 10 persen itu masih melebihi kuota, maka diberlakukan lotre. Karena ketatnya numerus klausus, maka pernah terjadi seorang dokter Indonesia dengan 12 tahun pengalaman berpraktik di Papua diharuskan menempuh program persamaan selama dua tahun sebelum diterima dalam program spesialisasi di German. Mengingat sekolah menengah di Indonesia hanya dua macam, proses seleksi calon mahasiswa ke PT di Indonesia belum dapat dilakukan mulai jenjang pendidikan menengah. Karena itu perlu model seleksi lain. Ujian menulis/mengarang dan wawancara kiranya dapat diterapkan untuk meningkatkan daya seleksi gabungan sistem passing grade dan kuota. Dari ujian menulis/mengarang dapat diketahui otentisitas, kemampuan mengembangkan dan mengorganisasikan ide serta penguasaan bahasa yang merupakan dasar sikap kritis dan daya analitis.

Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan PT? Ini tidak mudah dijawab. untuk mencari jawaban dari para pencari tenaga kerja atas pertanyaan tersebut. Jawaban yang diperoleh penelitian kami umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa vokasional atau spesialistik mereka mengharapkan suatu prodi di PT. Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola PT daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja.

Dalam sebuah survei tahun 2001,Kami mengajukan pertanyaan yang sama kepada para pencari tenaga kerja pada sector pendidikan, medis, hukum, perbankan, dan pertambangan dan pertanian di Indonesia. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja di beberapa kota di Indonesia itu dalam hal kualifikasi lulusan PT yang kami syaratkan. Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dan dalam praktik, kualifikasi yang dinyatakan sebagai “paling dicari” oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang “paling menentukan” diterima/tidaknya seorang lulusan PT dalam suatu pekerjaan. Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan. Di sisi lain, reputasi institusi PT yang antara lain diukur dengan status akreditasi prodi sama sekali tidak masuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan PT oleh para pencari tenaga kerja.

Ada kecenderungan Kami “mengabaikan” bidang studi lulusan PT. Dalam sebuah wawancara, kesesuaian kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima/tidaknya seorang lulusan PT. Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan pengelola PT untuk mengatasi tidak nyambung-nya PT dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, perhatian pada kualifikasi yang dituntutpasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, kerjasama PT dan dunia kerja adalah perlu. Yang lebih konyol dari itu semua adalah parody perguruan tinggi yang berlomba lomba menjaring lulusan Sekolah menengah Atas untuk masuk ke perguruan tingginya.Yang membuat saya trenyuh dan sangat tidak habis piker adalah sudah tahu “perguruan Tinggi” tidak layak secara operasional karena fasilitas kurang memenuhi masih menerima lulusan SLTA/U selayaknya sebuah bisnis yang penting Untung. Atau jangan jangan ini kah bisnis PT untuk mendapatkan keuntungan dengan mengkesampingkan misi mulia sebagai institusi pendidikan? Lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan di Indonesia 250.000-350.000 orang pertahun. Dari jumlah itu, sekitar 90.000 yang terserap ke sektor formal dan sisanya menganggur atau bekerja di sektor informal. Hal itu, jelas, menandakan bahwa semakin banyak sarjana justru tidak mengindikasikan negara semakin makmur. Justru sebaliknya, semakin banyak sarjana, semakin tinggi pula tingkat pengangguran. Para sarjana itu bekerja di sektor informal bukan karena keinginan mereka, namun karena keadaan yang memaksa dan keterbatasan lapangan kerja.

d. Apakah dengan begitu masihkah banggakah menyandang gelar sarjana?

Baik Strata satu sampai dengan Doktor? bahkan professor ? sedangkan lulusan yang diciptakan tidak siap pakai tidak siap kerja tidak tahu apa yang harus dilakukan dan terpaksa karena Kuliah , karena di terimanya di sana yah harus di sana. Lantas dengan sarjana yang didapatkan apa sudah bisa membahagiakan anda? sebuah pertanyaan dasar yang harus di jawab setiap Insan yang ada di dunia “Pendidikan” apakah itu yang di cari Gelar tanpa pekerjaan yang layak? Coba kalau semuanya berlaku seperti orang Samin, tidak ada rasa malu untuk mengakui kesalahaanya, kekurangannya dan kejujurannya Tidak ada Arogansi , idealisme untuk menjadi yang terdepan karena Lulusan Perguruan Tinggi ternama di Indonesia. Dalam kamus bisnis Kami, Lulusan tinggi manapun tidak akan siap pakai, bahkan jika di bandingkan dengan anak lulusan SD otodidak yang bersifat samin Mungkin Kami akan membayar Jutaan dolar untuk gajinya karena sudah pasti tidak ambivalen dalam memimpin .Asumsi orang di Indonesia masih beranggapan bahwa yang namanya Sarjana sudah ahli di bidangnya , Justru saya katakan Keblinger karena belum tentu yang di kuasai adalah hal yang benar benar Cumlade di bidangnya.

Gelar dan Lulusan tidak ada dalam perusahaan kami, karena Perusahaan kami mencetak Sarjana tanpa Title dan gelar. Biar tidak di akui yang jelas kenyataan memang mengatakan dia layak mengapa tidak di sebut Sarjana? sekali lagi Kembali ke Idiealisme Manusia yang duduk di pendidikan tidak bisa bersikap samin untuk mengatakan baiknya. Masih bangga dengan Gelar yang disandangnya padahal Kesarjanaan yang di sandang belum tentu bisa mendapatkan sebuah jawaban Kenapa Kita bersekolah sampai Perguruan tinggi jika di perguruan tinggi ternyata mencetak pengangguran Intelektual”?

B. Perkembangan Retorika Pendidikan Matematika

Pendidikan kita patut diperhatikan, akhir-akhir ini cukup banyak aktivitas yang tidak membuahkan hasil dan hanya mengandalkan pengetahuan dengan vocal sederhana sehingga generasi kita perlu adanya pembenahan dalam dunia pendidikan. Ada seorang filsuf dari inggris (1820-1903) menyatakan bahwa “Tujuan utama pendidikan bukanlah pengetahuan melainkan tindakan (Koran Seputar Indonesia, 28-3-2010)”. Untuk itu karakter yang perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan kita diantaranya adalah: Jujur yang dimaksud adalah berani mengungkapkan segala isi hati dan pikiran tidak ada yang tersimpan dalam memori kita sehingga dapat diintrospeksi kelebihan dan kelemahan kita. Gigitupun dalam pembelajaran matematika.

Matematika merupakan suatu hal yang sulit diterima oleh umat manusia di alam semesta ini sehingga menimbulkan banyak masalah (problem) dalam mempelajarinya. Banyak orang mengatakan belajar matematika itu sulit dan hanya orang yang mempunyai intelegensi tertentu dapat memahaminya…!!! Namun secara psikologi dan secara logika berpikir, belajar matematika itu tidak sulit karena dengan banyak membaca (buku, riset, majalah, Koran, dll), latihan berkali-kali misalnya setelah menerima materi matematika di sekolah atau tempat kursus atau kursus sendiri maka dilakukanlah dengan membaca atau melihat kembali apa yang sudah di terima tersebut dengan menggunakan tulisan atau oret-oretan. Kemudian oret-oretan tersebut jangan dibuang, disimpan dengan rapi pada tempat yang anda senangi.

Belajar matematika merupakan suatu hal yang sangat menghibur bagi siswa-siswi kita di negeri bumi pertiwi ini, namun dalam perkembangannya siswa siswi masih merasa belajar matematika itu merisaukan pikiran mereka. Hal ini tidak bisa kita salahkan siapa? Ini semua koreksi diri bagi para pemerhati pendidikan yang merupakan tanggungjawab umum.

Dewasa ini, mungkin banyak kesuksesan belajar yang dicapai oleh bapak/ibu, saudara/i, teman-teman, kaka dan adik-adik selama hidupnya. Tapi berbicara belajar matematika banyak orang mengatakan matematika itu sulit. Pada dasarnya matematika itu mengatasi masalah tanpa masalah, misalnya kita melakukan aktivitas sehari-hari dengan matematis mulai dari merangka sejak bayi sampai dewasa pun kita selalu berbicara matematika, mulai dari sejak bayi kita dikenalkan dengan mengenal angka-angka hingga dewasa mengenal amplikasinya.

Dengan kita melihat pribadi masing-masing dengan memperhatikan perbedaan individu. Meskipun para ahli psikologi dan ahli yang lain menyatakan bahwa manusia lebih banyak kesamaan dari pada perbedaannya, orang-orang percaya bahwa ada perbedaan yang berarti dan signifikan pada beberapa variabel yang ada didalam proses belajar. Selama beberapa dekade terakhir ini variable-variabel tersebut telah membentuk dasar-dasar penelitian yang difokuskan pada pembelajaran matematika serta sebagai dasar dalam program pengajaran pada lembaga-lembaga pendidikan. Penyelidikan ilmiah tentang proses pendidikan individu yang membedakan antara variabel kognitif dan afektif sudah diterima secara luas. Oleh karena itu, pada saat ini pengetahuan dan penemuan tentang perbedaan individu di dalam pembelajaran matematika penting untuk diungkap atau dikaji dan dikembangkan.

Dalam hal ini ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidikan filsafat matematika. Awal mula pikiran barat sudah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Yang tertua di antara segenap filsuf barat yang kenal ialah oleh yunani yang bijak dan arif yang bernama Thales. Atas perenungannya air yang terdapat dimana-mana, ia sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu. Yang penting bagi kita sesungguhnya bukanlah ajaran-ajarannya yang mengatakan bahwa air itulah asal mula segala sesuatu, melainkan pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu berasal dari satu substansi belaka.

Dalam hal ini kadang kesulitan dalam memfaktorkan bentuk kuadrat sebagai akibatnya, mereka menjadi takut belajar matematika. Dalam matematika itu sama halnya dengan air artinya matematika masuk keseluruh linik kehidupan manusia sehari-hari baik itu ekonomi, agama, perilaku alam, serta perilaku individu dalam menyikapi sesuatu.

Belajar matematika merupakan hal yang sangat unik dan sering dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari, kenyataan di masyarakat umumnya merasa matematika adalah ilmu eksak yang sulit untuk dipahami namun pada dasarnya matematika itu tidak sulit karena selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kesulitan ini muncul diakibatkan karena individu tersebut tidak melihat dan menolehnya secara serius atau mendalam terhadap beberapa karakter yang mengungkapkan kesulitan belajar matematika.

Matematika membutuhkan suatu latihan yang berulang-ulang dalam menyimaknya. Kegiatan manusia beranekaragam, di dalam kesibukannya perlulah di isi dengan kegiatan yang bermanfaat sehingga mampu menopang berbagai problem-problem yang berkembang. Dalam pembelajaran matematika perlu adanya suatu catatan harian yang secara rutinitas sehingga konsep yang pernah kita baca dan terima dari sekolah maupun kursus dapat terekam kembali.

Dengan membuat catatan harian tentang matematika baik itu Sistem Bilangan Real, fungsi, geometri maupun yang lainnya, kita dapat melihat kembali dengan catatan tersebut sehingga terjadi pembelajaran secara berulang-ulang. Untuk dapat memahami suatu konsep matematika perlunya menyusun catatan yang sistematis, sebelum membuat catatan secara sistematis terlebih dahulu kita membuat catatan yang kita dapat hari ini dan hari selanjutnya kemudian disusun secara sistematis.

Setelah kita mencatat semuan ataupun beberapa bagian bahan pembelajarn tersebut, berusaha untuk membuat latihan-latihan yang sederhana, latihan agak sulit kemudian dengan latihan-latihan sulit setelah mengalami perkembangan dalam menjawab dan membuat soal-soal latihan maka terusskkan menguji diri sendiri dengan meminta bantuan kepada orang lain.

C. Sikap pada Perbedaan Individu dalam Pembelajaran Matematika Berdasarkan Teori Jerome Bruner

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Menurut Jerome Bruner belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya. Pengetahuan perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) manusia yang mempelajarinya. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses pembelajaran terjadi secara optimal) pengetahuan itu dipelajari dalam tahap-tahap (Herman Hudojo, 1988:56) seperti berikut:

a) Tahap Enaktif.

Suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi yang nyata.

b) Tahap Ikonik.

Suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery), gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif.

c) Tahap Simbolik.

Suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak, baik symbol-simbol verbal (misalkan huruf-huruf, kata-kata atau kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika maupun lambang-lambang abstrak lainnya.

Perbedaan individu muncul ketika siswa telah melewati masa atau tahapan tersebut sehingga siswa terbangun suatu pengetahuan baru secara sistematis. Pengetahuan yang didapat dari pengalaman tersebut akan tersimpan dalam memori siswa sehingga membentuk kepribadian kekal kecuali ada gangguan lain. Dalam pembelajaran matematika, perbedaan individu dalam matematika dibangun dengan memperoleh pengetahuan informal. Anak yang baru belajar menunjukkan suatu permulaan dari urutan hubungan antara jumlah misalnya anak usia 0-5 tahun bisa membedakan dua lebih besar tiga dan satu lebih besar dua. Secara lisan mereka menunjukkan label (seperti besar, kecil, banyak, sedikit) untuk jumlah dan ukuran.

Selanjutnya anak mulai menghitung, pada saat anak membilang terbalik dari 3 hingga 1, sehingga anak dapat menghitung barisan sekitar lima benda, walaupun anak belum tahu apa arti kata-kata. Misalnya, ketika ditanya untuk "satu", memberikan suatu item, tetapi ketika ditanya untuk "dua", "tiga", "empat," atau "lima", anak biasanya memberikan yang lebih besar, tapi salah jumlah tersebut. Namun demikian, angka merujuk ke kata jumlah yang unik bahwa bila label perubahan nomor (misalnya, dari lima sampai enam), jumlah barang juga harus berubah. Sebagian besar anak-anak telah menguasai makna angka hingga sepuluh angka, menghitung dengan benar, dan mengambil pelajaran penting dari prinsip hubungan urutan nomor yang terakhir dalam penghitungan urutan menunjukkan jumlah item dalam satu kelompok. Kejagoan dari hubungan urutan akan meningkatkan efisiensi dari penjumlahan anak-anak terus bertambah.

Anak mulai memecahkan masalah aritmatika. Pada awalnya, strategi anak yang terikat dengan urutan nomor yang disajikan, untuk menambahkan 2 + 4, anak dihitung dari 2. Namun anak segera bereksperimen dengan strategi lainnya. Misalnya, memegang atas empat jari pada satu sisi dan dua di lainnya, maka nampak berjumlah 6, atau dimulai dengan angka yang lebih tinggi, 4, dan terus bertambah.

Secara bertahap, anak-anak pilih yang paling efisien, akurat dalam strategi, diawali dengan angka yang lebih tinggi. Kemudian anak menyamaratakan strategi untuk pengurangan dan segera menyadari bahwa pengurangan kebalikannya. Misalnya yang 4 + 3 = 7, anak dapat mengambil kesimpulan bahwa tanpa menghitung 7 – 3= 4. Coba aturan dasar aritmatika memfasilitasi penghitungan cepat dan cukup dengan praktek, anak-anak ingat jawaban secara otomatis.